
Kau tidak boleh membawa pergi Calesta?" teriak Cinta mendekat ke arah mereka, ingin menarik Calesta namun dihalangi oleh Cristian.
"Dia ingin ikut bersamaku," jawab Cristian menggendong Calesta dan melangkahkan kakinya. Cinta mengikuti Cristian. Dia berusaha memegang bahu Cristian namun tangannya di tepis oleh Cristian.
"Jangan pernah sentuh aku!" bentak Cristian membuat Cinta terkejut.
Cristian lalu membawa pergi Calesta dan membawa anak itu masuk ke mobilnya. Dia lalu masuk ke dalamnya dan menutup pintu mobil. Namun, tangan Cinta menahannya.
"Jangan bawa Calesta ku mohon!" tangis Cinta mengiba.
"Apakah kau pernah mendengarkan permohonanku!" kata Cristian mendorong tubuh Cinta hingga terjatuh. Dia lalu menutup pintu mobil tanpa mau melihat Cinta lagi. Sudah cukup baginya untuk bersabar selama ini.
"Jalan Pak!" ucap Cristian pada sopirnya.
"Om .. Pa ... Mommie," tanya Calesta bingung dia tidak tega melihat Mommienya diperlakukan seperti itu. "Kasihan Mommi."
"Biarkan Mommi-mu berpikir tentang kesalahannya. Selama ini dia memisahkan kita. Kini dia tahu bagaimana rasanya terpisah dari buah hati," ucap Cristian memeluk Calesta.
"Tapi Calesta ingin Mommi ikut kita!"
"Jika dia pasti akan datang untukmu, percaya pada Papa!"
"Sungguh!" tanya Calesta.
Cristian menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Pagi harinya Calesta terbangun di tempat dan ruang berbeda dari biasanya. Dia merasa takut.
"Hik ... hik ... hik ... ," tangis Calesta memandangi seluruh isi kamar.
"Mommi ... ."
Cristian yang baru saja masuk ke kamar dengan mendorong sebuah kursi roda langsung mempercepat langkahnya mendekati Calesta.
"Hai, Sayang. Kenapa kau menangis?" tanya Cristian.
Calesta memandangi Cristian dan ingat kejadian tadi malam. Dia lalu berdiri dan memeluk ayahnya.
"Aku takut!" ungkap Calesta.
"Ada aku di sini, kau jangan takutkan apapun!" ujar Cristian. Dia mengusap pipi Calesta dengan lembut dan mengecupnya.
"Dia mungkin masih ada di Bali. Jika dia menyayangimu dia pasti akan datang kemari," ujar Cristian.
Mata Calesta lalu melihat sosok wanita tua yang duduk di kursi roda. Wanita itu hanya tersenyum memandanginya dirinya tanpa mengatakan apapun.
Cristian mengikuti arah pandang Calesta.
"Dia ibu Papa, nenekmu. Panggil dia Abuelo," kata Cristian.
"Abuelo," tiru Calesta dengan logat Indonesianya.
__ADS_1
"No , no, Ah-bweh-loh, begitu," ucap Cristian dengan logat Spanyol yang kental.
Calesta lalu menirukan gerakan Cristian. Aura sendiri meneteskan air mata karena bisa melihat Putri kecil Cristian. Serta bisa melihat wajah bahagia putranya lagi. Sayang kini dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan untuk berbicara saja rasanya sulit.
"Hallo, Abuelo," sapa Calesta pada Aura. "Pa, panggil nenek saja, itu terlihat lebih mudah," bujuk Calesta.
Aura mengedipkan mata sembari tersenyum. Criatian yang melihat lalu menganggukkan kepalanya.
"Kau boleh memanggilnya Nenek," kata Cristian.
"Nenek. Namaku Calesta Mauriya anak dari Mommie Cinta Aurora."
"Dan papa Cristian Gonzalez Slim," tambah Cristian.
"Cristian Gonzalez Slim," ulang Calesta
Cristian menyandarkan kepala di bahu ibunya dan mengecup pipi Aura yang kini mulai terlihat keriput tidak kencang seperti dulu.
"Mommie senang?" bisik Cristian. "Dia cucu yang Mommie tunggu dari dulu."
Aura menggerakkan lehernya dan melihat ke arah Cristian. Dia hanya bisa berbicara melalui gerakan mata saja. Tetes air mata dan senyum bahagia yang tercetak di bibirnya menggambarkan betapa bahagianya dia.
"Nenek sakit, kenapa nenek duduk di kursi roda? Nenek sakit apa?" tanya Calesta beruntun.
"Itu akibat ulah ibumu yang menyebabkan istriku sakit," kata Erick tiba-tiba.
__ADS_1
"Pa ... ." Cristian nampak keberatan jika Erick mengatakan hal itu di depan Calesta.