Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Calesta Sakit


__ADS_3

"Aku tidak pernah bertemu dengannya lagi semenjak ada insiden pembatalan pernikahan itu," terang Cristian.


"Oh!" jawab Alehandro kecewa. Mereka lalu melihat Cinta dan David yang terlihat mesra.


"Kau benar-benar rela melihat Cinta bersama David sekarang ini," kompor Alehandro.


"Dia masa laluku bukan masadepanku," jawab Cristian.


"Itu jawaban ambigu, aku bisa menebak jika kau masih mencintainya. Kau akan menyesal jika kehilangan cintamu itu, tapi tidak apa-apa David atau kau sama saja bagiku. Kalian berdua adalah sahabatku dan aku akan ikut bahagia jika kalian bahagia," ujar Alehandro.


Maria datang mendekati Cristian dengan raut muka yang terlihat khawatir.


"Hai cantik? Ada apa dengan wajahmu itu?" tanya Alehandro. Maria tidak menanggapi sapaan Alehandro. Dia malah terlihat sinis menatap pria itu.


"Kak, Calesta demam tinggi, kata orang rumah dia menggumamkan nama ibunya terus. Aku khawatir jika Kakak tetap bersikeras tidak mempertemukan mereka, keadaan Calesta akan memburuk," bisik Maria.


Cristian menelan salivanya dalam-dalam. Jika bukan karena ini pesta yang Alehandro buat dia tidak akan meninggalkan Calesta sendirian di rumah hanya dengan perawat dan suster.


Dia menatap benci pada Cinta yang terlihat bahagia sedangkan anaknya malah sedang sakit di rumahnya.


"Kak kita harus pulang segera. Demam Calesta semakin tinggi," ujar Maria lagi.


Cristian lalu berdiri bukannya ke arah pintu keluar dia malah ke lantai dansa. Tanpa kata-kata dia langsung menarik tangan Cinta yang sedang asik berdansa dengan David.

__ADS_1


"Cristian apa yang kau lakukan!" tanya Cinta terkejut. Cristian hanya terdiam tetap membawa keluar Cinta walau semua orang menatapnya penuh tanda tanya.


Sesampainya di depan mobil Cristian langsung mendorong Cinta masuk.


"Kau kasar sekali!" teriak Cinta kesal.


"Hai!" sapa seorang wanita di dekat Cinta. Cinta menoleh dan melihat wanita di sebelahnya.


"Oh, hai!" Cinta tersenyum terpaksa. Setahunya dia wanita yang ada di rumah Cristian waktu itu. Apakah dia kekasih Cristian? tanya Cinta dalam hati.


"Kau mau membawaku kemana Cristian!" tanya Cinta ketika melihat Cristian sudah duduk di kursi kemudi.


"Kita akan pulang," jawab wanita di sebelahnya.


"Pulang, apakah artinya aku boleh menemui Calesta!" tanya Cinta senang.


Satu jam kemudian mereka telah sampai ke rumah orang tua Cristian. Pria itu lalu membuka pintu mobil dan menarik Cinta dengan kasar.


"Sabar!"teriak Cinta kesal.


Maria hanya menggelengkan kepalanya. Wanita muda itu mengikuti kakak sepupunya ke dalam rumah.


Tubuh Cinta ditarik hingga ke depan kamar. Cristian lalu membuka pintu kamar itu. Cinta berdiri terpaku tatkala melihat anaknya sedang berbaring di kelilingi oleh Erick dan Aura. Cristian lalu masuk dan memeriksa keadaan Calesta.

__ADS_1


Cinta ragu untuk melangkah masuk. Dia merasa malu karena rasa bersalah yang menderanya.


"Mommie ... ," gumam Calesta, menyadarkan Cinta.


Cinta lalu berlari ke arah Calesta.


"Sayang, sayang ini Mommie, kau akan baik-baik saja. Ada Mommie di sini," ucap Cinta membelai dahi Calesta.


Perlahan mata Calesta mulai terbuka.


"Ini Mommie, Calesta tidak bermimpi kan!" tanya Calesta memastikan keadaan. Cinta menggelengkan kepalanya. Dia mencium lembut dahi Calesta setitik buliran kristal jatuh mengenai pipi Calesta.


"Mommie pasti rindu Lesta, Lesta juga rindu Mommie sangat rindu," ucap Calesta memeluk tangan Cinta.


Cristian yang melihat hanya menghembuskan nafas yang terasa sesak untuknya sembari memalingkan wajahnya.


Cinta melihat ke arah Aura. Wanita itu hanya menyunggingkan senyuman sembari mengedipkan matanya. Hati Cinta seakan teriris sembilu melihatnya.


"Pa , Mommie boleh tinggal di sini?"Cristian hanya diam membisu. "Jika Mommie tidak boleh tinggal di sini Lesta tinggal dengan Mommie saja. Mommie sendirian di rumah jika tidak ada Calesta."


Perkataan Calesta serasa menikam ulu hati Cristian.


Like

__ADS_1


Vote


Komentar.....


__ADS_2