Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Kecewa


__ADS_3

Bella tertidur setelah kegiatan panas yang telah mereka lakukan. Dia lelah dan ingin beristirahat untuk sejenak.


David yang baru saja membersihkan diri mendekati wanitanya dan duduk di sebelah Bella. Mencium keningnya lalu mengusap lembut pipi seputih porselen itu. Dia merasa sangat bahagia jika melihat Bella berada di dekatnya.


Bella yang merasa tidurnya terusik membuka matanya pelan, tersenyum ketika melihat David ada di dekatnya.


"Tidurlah! Kau pasti sangat lelah," ucap David.


Bella mengambil tangan David menciumnya. Dia lalu mendekapnya dan menatap David dengan mesra.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya David.


"Tidak ada," jawab Bella.


"Katakan saja!"


"Aku ingin bersamamu seharian penuh tanpa ada yang mengganggu," ucap Bella terkejut dengan kata-katanya sendiri.


David tersenyum, mengecup bibir mungil Bella.


"Aku juga, tapi hari ini aku punya banyak sekali pekerjaan dan kau telah mengambil dua jam dari waktuku," jawab David.

__ADS_1


"Kau yang memulainya," ucap Bella mulai terdengar kecewa. Dia ingin memiliki David seutuhnya.


"Ya, karena aku selalu tidak bisa menahan diri untuk selalu menyentuhmu," bisik David di telinga Bella dan menciumnya, membuat Bella kegelian.


"Sudah sana bekerja, aku akan ke kamar mandi membersihkan diri," usir Bella.


"Kau tidak jadi tidur?" tanya David.


"Kau menganggu tidurku," Bella lalu duduk membiarkan selimut yang menutupi aset kembar miliknya melorot. David melihatnya.


"Kau sengaja menggodaku? Tapi sayang aku harus menyelesaikan pekerjaanku. Aku sudah mentransfer sejumlah uang agar bisa ayahmu gunakan untuk membayar hutang. Dan untuk pembangunan perluasan pabrik, aku sudah memerintahkan orang untuk membeli tanah di sekitar garment itu dengan harga lebih."


"Aku tidak suka menunda pekerjaanku. Kau hanya cukup mengurusku dengan baik saja di sini semua biar aku yang menyelesaikannya," David mengecup pipi Bella dan berdiri, merapikan jasnya lalu keluar.


Dia kemudian pergi ke ruang kerjanya lagi. Mulai mengerjakan semuanya dengan tenang dan senang. Hari ini dia sangat bersemangat. Senyum terlukis dari wajahnya sedari tadi. Hal yang sudah lama tidak dia rasakan.


Dia mulai memesan kopi dua cangkir melalui sekretarisnya. Dia sebenarnya ingin jika Bella yang membuatkannya. Tapi dia tahu diri jika dia telah membuat wanitanya lelah tadi.


Sebuah panggilan masuk ke handphonenya. Sofi, batin David. Dia melihat ke arah pintu ruang khusus miliknya memastikan jika Bella tidak akan masuk ke ruangan ini.


"Hai, adakah yang kau butuhkan?" tanya David to the point. Dia tidak bisa berbasa-basi pada istrinya itu. Dia tidak menyukainya tapi dia masih punya hati untuk mencampakkannya hanya karena anak dalam kandungan Sofi.

__ADS_1


"Apakah kau akan pergi keluar untuk makan siang? Aku baru saja mengirimkanmu makan siang lewat sopir," kata Sofi. Wajah David terlihat terkejut melihat perhatian Sofi yang tiba-tiba.


"Aku tidak akan pergi keluar. Kebetulan sekali kau mengantarkan makanan itu. Terima kasih banyak," jawab David terdengar formal.


"Maaf jika selama ini aku tidak bisa menjadi istri yang baik untukmu," ucap Sofi.


"Kita lupakan saja yang telah lalu dan seperti katamu, kita mulai dari awal lagi," kata David masih melihat ke arah pintu.


"Aku akan menjadi istri yang kau inginkan," janji Sofi.


"Kau istirahatlah jangan banyak berpikir aneh. Tidak baik bagi janin di perutmu," ujar David.


"Maaf aku harus segera mengakhiri panggilan ini. Aku masih ada pertemuan dengan relasi bisnis. Bye," ujar David mematikan handphonenya. Dia menghembuskan nafas kasar. Kesal pada diri sendiri karena menjadi pria yang kejam pada istrinya.


Kini tinggal ada panggilan telephon lagi. Dia melihat telephonnya tapi tidak menyala, tidak ada panggilan di sana. Dia melihat tas Bella di atas mejanya dan mendengar suara panggilan berasal dari sana.


David meraih tas itu dan mencari handphone wanita. Namun dia malah menemukan handphone beserta satu strip obat.


David melihat panggilan itu dari ibu Bella. Tentu saja dia tidak ingin mengangkatnya. Akhirnya panggilan itu mati dengan sendirinya. Pandangan David beralih pada obat di atas mejanya. Dia lalu meletakkan handphone Bella di tasnya lagi dan mengambil obat itu.


"Pil KB," gumam David. Separuh strip pil lebih telah habis. Itu artinya selama ini Bella meminumnya. Hati David merasa kacau dan marah mengetahui kenyataan ini. Dia kecewa.

__ADS_1


__ADS_2