Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Menyempurnakan Hidup


__ADS_3

"Mulailah belajar untuk mencintaiku," ucap Alehandro.


Dara ingin menyela tetapi tiba-tiba ibu jari Alehandro berada di bibirnya. Menyentuhnya.


"Dara, ikutlah kembali ke Jakarta."


Tangan Dara mengambil tangan Ale dan menjauhkan dari wajahnya. Matanya menatap Alehandro.


"Mengapa? Aku punya kehidupan yang baik di sini l, kembali ke sana sama saja dengan menggali luka lama?"


"Untuk kebaikan hatimu untuk kebaikan Rose. Rose berhak tahu siapa ayahnya," ujar Alehandro membicarakan masalah ini lagi.


Dara menundukkan wajah dalam. Sejenak mereka terdiam.


"Dara," panggil Alehandro.


"Ale, bagaimana jika Kris meminta hak perwalian Rose. Aku takut."


"Kita akan berjuang bersama jika kau memang tidak mau hidup bersama Kris tetapi jika kau memilih untuk hidup bersamanya, aku akan turut bahagia," ungkap Alehandro.


"Kau memang pria baik, sangat baik."


"Aku tahu," jawab Alehandro.


"Tetaplah terkadang kau menyebalkan dan mengesalkan," ucap Dara lagi.


"Dan aku butuh lawan yang sama-sama menyebalkan dan keras kepala sepertimu," imbuh Alehandro.


"Kau kemari memang sudah merencanakan ini semua atau ini hanya kebetulan semata?" tanya Dara curiga.


"Aku haus tolong ambilkan minuman soda di kulkas," pinta Alehandro.

__ADS_1


"Soda tidak baik untuk kesehatan lebih baik air mineral atau jus," ucap Dara bangkit dari kursi.


"Susu hangat itu menyegarkan," imbuh Alehandro. Dara menatapnya jengkel sembari menggelengkan kepalanya.


"Aku mengatakan hal benar kan!"


"Terserah apa katamu," jawab Dara pergi ke dapur lalu membawa sebotol jus jeruk dan dua gelas. Dia lalu menyerahkan satu gelas pada Alehandro dan menuangkan minuman itu.


Lalu mereka kembali duduk sembari melihat adegan film dua orang yang sedang memadu kasih dan berpagutan mesra.


"Mengapa suasana mendukung untuk melakukan itu?" ucap Alehandro. Botol dingin yang dipegang Dara langsung ditempelkan di kepala pria itu. Membuat pria itu terkejut.


''Agar otakmu itu kembali dingin," ujar Dara.


"Malam-malamku selama ini sudah dingin jadi tidak perlu ditambah hal yang dingin lagi," sungut Alehandro kesal menyingkirkan botol itu dari Dara.


"Kau belum menjawab pertanyaanku yang tadi?"


"Kenapa harus aku bukankah banyak wanita lain yang pantas menjadi ibu Kaisar?" Alehandro mengorek kupingnya yang gatal dengan kesal karena harus menjawab pertanyaan yang sama berkali-kali.


"Aku sudah memikirkan ini lama dan menunggu saat yang tepat. Aku selalu mengamatimu dari jauh lewat anak buahnya lalu aku melihatmu tidak pernah dekat dengan pria manapun selama beberapa tahun ini. Hal itu, yang membuat aku mantap untuk datang kemari."


Alehandro terdiam sejenak menatap Dara.


"Apa kau puas dengan jawabanku ataukah ada lagi yang ingin kau tanyakan?"


Dara menggelengkan kepalanya lalu menarik nafas. Dia tidak tahu harus mengatakan apa kali ini. Rasa kantuk mulai menyerangnya.


"Aku tidak membawa pakaian ganti dan pakaian ini sama sekali tidak nyaman untuk kukenakan untuk tidur, kau memaksaku untuk tidur di sini tanpa menyiapkan pakaian ganti untukku," lirih Dara.


"Kau pakai saja baju milikku, besok pagi biar aku suruh orang untuk membawakanmu baju baru."

__ADS_1


"Biar orangku saja yang akan membawakan bajuku kemari, kau tidak perlu repot. Kau pun tidak tahu ukuran bajuku," ujar Dara.


"Aku paham, bra ukuran 38 cup B, dengan celana ukuran M," ujar Alehandro santai.


Wajah Dara memanas seketika. Berbicara dengan pria itu membuat hatinya kesal.


"Why, benarkan tebakanku. Aku selalu pandai menebak hal apapun itu," selorohnya. Wajahnya lalu di dekatkan pada wajah Dara. "Lagipula aku sudah pernah melihat kau tanpa busana," bisik Alehandro. Lalu mengecup pipi Dara cepat dan langsung pergi masuk ke dalam kamar sebelum berbagai umpatan keluar dari bibir **** wanita itu.


Tidak lama kemudian Alehandro keluar dari kamar dengan memakai piyama tidur. Dia melemparkan piyama tidur untuk Dara.


"Kau tidur di kamar aku akan tidur di sini," ucap Alehandro. Dara yang masih kesal mengambil piyama itu dan menghentak kakinya keras sebelum meninggalkan pria itu di luar.


Tidak butuh waktu lama bagi Dara untuk terlelap tidur bersama anak-anak. Di tengah malam Alehandro membuka pintu kamar dan masuk secara perlahan.


Hatinya menghangat ketika melihat Dara dan anak-anak tidur satu tempat tidur.


"Mom kau benar, seharusnya aku melakukan ini lama," gumam lirih Alehandro. Entah pikiran apa yang merasukinya, dia lalu ikut berbaring di sisi Kaisar merasakan sebuah kedamaian.


Rose membutuhkan ayah dan Kaisar membutuhkan ibu sedangkan mereka butuh pendamping untuk menyempurnakan hidup.


Alehandro menatap Dara yang sudah tertidur. Dalam posisi tidurpun dia masih terlihat cantik. Sudah lama dia ingin melamar Dara hanya saja dia takut jika wanita itu masih memendam banyak rasa untuk Kris.


Dia akan memberi banyak waktu untuk wanita itu menentukan hidupnya ke depan. Apakah akan memilih Kris kembali atau wanita itu menerima lamarannya. Apapun itu dia akan menerimanya.


Cinta? Di usianya yang tidak muda lagi dia sudah tidak memikirkan cinta. Dia hanya ingin mempunyai pasangan yang mengerti dirinya dan menjalani masa tua bersama-sama.


Alehandro lalu mulai memejamkan matanya dan tertidur. Di saat itu Dara membuka matanya karena sejak tadi dia belum tidur sama sekali.


Mulai berpikir, apakah ini yang terbaik? Melihat mereka bersama seperti ini membuat hatinya mendesir haru.


"Dara tidurlah," ucap Alehandro tanpa membuka matanya. Dara lalu tersenyum dan memejamkan matanya lagi.

__ADS_1


__ADS_2