
Aku juga punya tabungan sekitar sepuluh jutaan," kata Cinta menunjukkan ATM miliknya.
"Kau simpan saja untuk biaya bersalin anakmu nanti," kata Ardi
Ya, anak. Cinta mengelus perutnya dan teringat kembali pada Cristian. "Aku harus melupakannya, dia sudah milik orang lain,'' batin Cinta.
Akhirnya perjalanan mereka hampir sampau. Sepanjang perjalanan menuju kampung halaman ibunya Cinta melihat pemandangan alam di sekitarnya. Perkebunan teh yang luas dan para petani yang hilir mudik membawa rumput yang diikat dengan tali di belakang motornya.
Cinta pun melihat kuda yang menarik kereta dengan antusias. Jarang sekali ada di kota paling di tempat-tempat khusus pariwisata.
Mereka kembali melewati perkebunan tembakau yang luas hingga sampai di desa tujuan. Desa Suka Makmur namanya.
Sebelum ke rumah kakeknya mereka menuju tempat pemakaman ibu Cinta. Di sana Cinta memperkenalkan dirinya pada ibu yang tidak pernah dikenalnya sama sekali.
"Ibu aku tidak pernah menyalahkanmu atas semua yang terjadi pada diriku. Aku hanya ingin mengatakan satu hal padamu jika aku sangat menyayangimu walau aku tidak pernah mengenalmu,'' ucap Cinta mengakhiri doa di makam ibunya.
Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan kembali menuju ke rumah kakek dan neneknya.
Ayah Ardi membuka kaca jendela. Dia mulai memanggil orang yang masih dikenalnya dengan senang.
"Eh Kirman!" sapa Pak Budi.
"Budi, kapan datang?" tanya seseorang.
"Baru saja sampai, aku duluan ya, mau merenggangkan otot dulu,"
"Yo, engko dolan ring umahku yo," jawab orang itu.
Begitulah sepanjang jalan desa yang mereka lalui Pak Budi menyapa orang-orang yang dilewatinya. Berbeda dengan di Jakarta. Kita bahkan hampir tidak mengenal nama tetangga.
Akhirnya mereka berhenti di sebuah rumah yang paling besar di daerah itu dengan toko alat pertanian di sampingnya.
"Ini rumah kakek dan Nenek Non Cinta," kata Pak Budi. "Kini toko itu diurus oleh adik ibumu"
Cinta membuka kaca jendelanya. Dia melihat sepasang suami istri yang sudah tua sedang menganyam sebuah keranjang dari kulit bambu.
Pakaian mereka sederhana hanya mengggunakan kaos kebesaran dan bawahan berwarna hitam yang lusuh.
Apakah mereka kakek dan neneknya.
Dua orang tua itu berhenti menganyam dan melihat ke arah mobil.
"Budi, Pak," kata wanita tua itu.
"Budi ya! Sudah lama sekali kau tidak pukang kampung," ucap pria tua itu menghampiri mobil kami dengan tergopoh-gopoh.
Pak Budi keluar dari mobil itu dan menyambut uluran tangan pria tua yang katanya kakek Cinta.
__ADS_1
"Sae Pak, Bapak bagaimana kabarnya?" tanya Pak Budi.
"Ya, seperti ini. Namanya orang tua sehat sehatnya ada sedikit yang dirasa,'' jawab kakek tua itu.
Ardi dan Mbok Jum segera keluar dari mobil dan menghampiri kedua orang tua itu. Mencium tangan mereka sebagai tanda penghormatan.
"Iki anakmu itu Di, sudah besar ya, ganteng pula!" Kata Nenek Cinta. "Anak Rinjani pasti sudah besar juga, seperti apa dia sekarang."
Nenek Cinta terlihat sangat sedih jika mengenang anaknya.
"Cinta sini," panggil Pak Budi. Dada Cinta berdegub kencang, rasa gugup menjalar di tubuhnya. Dia mulai membuka pintu dan keluar dari mobil itu.
"Di-dia dia anak Rinjani," tanya nenek itu. Dengan langkah gemetar dan mata yang menggenang wanita tua itu mendekati Cinta.
"Cinta! Namamu Cinta 'kan?" tanya Nenek itu. "Aku nenekmu."
Cinta tersenyum dengan derai air mata dia langsung berlari dan memeluk wanita tua itu.
"Ya Alloh, Ya Gusti akhirnya aku bisa memeluk anak Rinjani sebelum aku mati. Nduk... nduk ... nenekmu ini ingin menemuimu namun dilarang oleh ayahmu. Kau mirip sekali dengan ibumu tapi lebih putih dan bersih. Benar-benar cantik," kata nenek itu. Wajah keriputnya basah oleh air mata.
Kakeknya hanya bisa menyeka air mata dan memandang ke arah mereka. Cinta yang melihat melepaskan pelukannya dan berdiri di hadapan kakeknya lalu mengulurkan tangan untuk mencium tangan kakeknya.
Namun kakeknya memeluk Cinta dan mendekapnya dengan erat. Dia meraung menangis keras. Seolah ingin dia luapkan rasa rindunya pada anaknya melalui Cinta.
Tubuh kakek bergetar hebat karena menangis. Dia seperti enggan melepaskan pelukannya.
Semua orang yang berada di toko melongok keluar untuk melihat apa yang terjadi. Adik dari ibunya terkejut ketika melihat Cinta. Dia seperti melihat kakaknya dalam rupa wajah lain bangkit dari kuburnya.
Mereka semua menyambut kedatangan Cinta dengan hangat. Rasa yang belum pernah dia dapatkan di rumahnya.
Malam harinya Cinta berdiri di depan foto ibunya. Benar apa kata Pak Budi jika ibunya cantik dengan kesederhaannya. Pantas saja jika ayah tertarik pada ibu dan mencintainya.
''Itu foto almarhum ibumu, sama cantiknya seperti dirimu. Tapi lebih cantik kau. Ibumu itu wanita yang sederhana. Dia beruntung menikah dengan ayahmu. Bukan karena ayahmu kaya, tapi ayahmu itu orang yang baik, sangat perhatian dengan ibumu."
Nenek pun menceritakan semua masa lalu ibu dan ayah dulu.
"Nenek bisa apa ketika melihat ayahmu menbawamu pergi, satu yang nenek takutkan kau akan diperlakukan tidak adil di sana. Mengingat masa lalu ayahmu yang meninggalkan istri pertamanya hanya untuk bisa bersanding dengan ibumu."
"Ibu, aku biasa memanggilnya. Dia sangat baik, tidak pernah membedakan aku. Bahkan dia menyayangiku seperti anak kandungnya sendiri. Nenek tidak perlu khawatir," ucap Cinta dengan berlinang air mata mengingat Riska. Walau tidak sepenuhnya kata-katanya benar namun Riska sudah merawatnya dengan baik.
"Syukurlah jika begitu. Nenek sangat khawatir Nduk( sebutan untuk anak perempuan)," ujar neneknya.
"Walau tinggal bersama kami dalam waktu sebentar tapi ayahmu masih mengingat kami. Beberapa bulan sekali ayahmu masih mengirimi kami uang untuk biaya hidup di rumah. Padahal kami tidak kekurangan satu apapun," kata neneknya.
"Aku baru tahu jika aku punya ibu lain selain ibu, maksudku aku punya ibu kandung," kata Cinta takut jika kata-katanya menyakiti hati neneknya.
Neneknya hanya terdiam. "Mungkin ibu tirimu itu tidak mau membuka luka lama sehingga menutup semua kenyataan ini."
__ADS_1
Cinta hanya tersenyum getir menanggapi pernyataan neneknya.
"Nenek sangat berharap kau mau tinggal disini."
Cinta memeluk neneknya, "Sebenarnya aku suka tinggal disini, hanya saja aku masih punya pekerjaan penting, Nek!" kilah Cinta.
"Akh! Kau beralasan saja," nenek lalu berjalan ke arah dapur membuatkan kopi untuk semua orang. Keluarga Pak Budi akhirnya menginap di rumah ini karena rumah Pak Budi sempit dan sudah ditempati oleh keluarga adiknya.
Kakek sendiri asik berbincang dengan Pak Budi ditemani oleh Ardi. Mbok Jum sudah tidak terlihat batang hidungnya sedari sore tadi. Katanya ingin menjenguk sanak saudara.
Cinta duduk ikut bergabung dengan mereka.
"Cinta apakah kau sudah mau menikah?" tanya Kakeknya.
"Tidak, Kek!"
"Dia hampir saja menikah namun gagal, Kek," ledek Ardi.
Cinta menendang kaki Ardi keras dan menajamkan matanya tidak suka.
"Lho, kenapa?" tanya kakeknya.
"Karena ... ." Mulut Ardi keburu dibekap oleh Cinta dan bahu pria itu dicubit keras olehnya.
"Kurang cocok mungkin belum jodoh,'' jawab Cinta menutupi permasalahan sebenarnya.
"Apa kau mencintainya?" tanya Kakeknya.
Mendengar pertanyaan itu membuat mata Cinta kembali berembun. Cinta menengadahkan wajahnya agar tangisnya tidak keluar.
"Ya sudah jika kau tidak ingin membahasnya .Kita bercerita soal lain saja," ucap kakeknya seperti tahu apa yang dirasakan oleh sang cucu.
Tiba-tiba bunyi handphone milik kakeknya berbunyi.
"Nek, coba lihat siapa yang menelfon!" panggil kakeknya.
Dengan tergopoh-gopoh neneknya keluar dari dapur dan mengambil handphone itu.
"Setiawan,"pekik neneknya ketika melihat nama yang tercantum.
Cinta dan Ardi saling memandang. Bagaimana mereka akan menerangkan pada orang tua ini jika mereka sedang melarikan diri?
***
Like
Vote
__ADS_1
Komen