
"Sheila kau mau kemana?" tanya Kris terkejut. Dia berusaha untuk bangkit dari tempat duduk namun jatuh lagi. Sheila langsung mendekati Kris dan membantunya duduk lagi.
Dara terkejut melihatnya. Dia merasa telah bersalah hadir diantara keduanya.
"Kris kau tidak apa-apa?" tanya Sheila cemas.
"Aku baik-baik saja hanya saja kau mau pergi kemana?" tanya Kris.
Sheila menarik nafas panjang. Dia lalu menoleh ke arah Dara yang menunduk. Kris mengikuti arah pandang Sheila.
"Aku kira kau sudah menemukan kekasihmu lagi dan tidak membutuhkan aku lagi!" kata Sheila dengan hati yang getir.
Wanita mana yang rela kekasih dari suaminya datang dengan kondisi berbadan dua. Lalu dimana kedudukannya dalam rumah tangga ini, apakah hanya sebagai istri pajangan? Sungguh ironi. Sheila Nafis seorang wakil CEO yang disegani kini dimadu oleh suaminya, harga dirinya sebagai seorang wanita di pertanyakan?
Sheila membuang wajahnya ke samping mengadu giginya.
"Ini rumahmu, jika yang harus pergi adalah aku bukan dirimu!" kata Kris. Pria itu lalu menarik tangan Sheila untuk duduk di sebelahnya.
"Aku tahu kau mungkin terluka karena kedatangannya namun aku ingin kita berempat membicarakannya."
"Kris aku bukan wanita bodoh yang mau dimadu, lagi pula perjanjian kita hanya sampai satu tahun saja ini sudah enam bulan. Kau bisa hidup dengan dia dan bebaskan aku dari permasalahan kalian berdua. Kau bisa mengajukan cerai enam bulan lagi setelah pernikahan kita genap satu tahun."
Wajah Kris memucat. Dia memang tidak mencintai Sheila namun wanita itu berjasa besar untuk kesembuhannya. Walaupun kata-katanya tajam namun berkat wanita itu, dia bisa bangkit kembali walau telah kehilangan Dara.
Dia bukan pria yang tidak tahu terimakasih yang akan membuang Sheila begitu saja setelah kehadiran Dara.
Kris melihat ke arah Dara dan perutnya yang membesar. Mungkin sebentar lagi wanita itu akan melahirkan anak mereka. Pikir Kris.
"Dia sedang hamil, Sheila," kata Kris masih menggenggam satu tangan Sheila.
__ADS_1
Sedangkan Dara sempat melihat perlakuan Kris ke Sheila hatinya sakit dia hanya bisa menarik-narik bajunya sembari menahan air mata yang hampir saja keluar.
" Dara kau kuat! Kau tidak akan menangis hanya karena masalah ini. Kau kemari bukan untuk memperlihatkan kelemahanmu!" batin Dara bergejolak.
"Kau jangan khawatir aku kemari bukan untuk merebut suamimu aku hanya mengikuti apa yang Ibu Kris katakan untuk memberitahu Kris bahwa aku sedang mengandung anaknya. Tidak ada maksud lain. Secinta-cintanya aku pada suamimu aku tidak akan menjadi duri dalam pernikahan kalian!" ucap Dara yakin tegas. Membuat Kris dan yang lain terbengong-bengong mendengarnya.
"Dara!" panggil Savitri.
"Ibu, aku bukan wanita yang ingin menyakiti wanita lain. Dari awal aku ingin anak ini kumiliki sendiri dan aku telah mengatakan pada Kris untuk meraih impiannya dan aku tahu jika impian Kris bukan aku!" kata Dara dengan nada getir. Dadanya terasa penuh dan sesak matanya memerah namun tidak keluar satu tetes pun saat ini.
"Tapi anakmu juga butuh kita untuk bersama membesarkannya?" tanya Kris.
"Bersama untuk membesarkan tidak harus menjadi satu kan? Kau boleh menjenguknya tapi tidak boleh untuk mengambilnya dariku. Kau punya istri yang mungkin akan melahirkan anak lain untukmu," suara Dara sudah terdengar parau dan tercekat.
Kris tidak tahu harus mengatakan apa di satu sisi Sheila akan pergi dan mengajukan cerai sedangkan di sisi lain Dara tidak ingin bersamanya. Dia tidak tahu harus menentukan sikap seperti apa?
"Dara anak ini butuh nama ayah dan ayahnya," bujuk Savitri.
Kris ingin menyela jika dia belum menyentuh Sheila sama sekali tetapi dia tidak ingin menyakiti Sheila lebih dalam lagi.
"Aku bukan condong padamu dan melupakan dia yang telah mengurus dan mencintai Kris ketika sakit. Aku hanya ingin membantu kalian menemukan solusinya. Satu satunya jalan yaitu menyingkirkan ego dan membuat kalian bertiga menjadi satu untuk mengurus anak-anak kalian bersama-sama?" tanya Ibu Kris.
"Sheila kau anggap Dara adalah adikmu dan Dara menganggap Sheila kakaknya. Kalian bisa berbagi Kris?" usul Savitri. Sheila dan Dara saling menatap.
"Tidak! Biar aku saja yang pergi," ucap Sheila dan Dara bersamaan.
Kris mengusap wajahnya kasar. Lalu duduk bersandar dan membuang nafas.
"Apakah kalian ingin meninggalkan aku yang sedang sakit ini sendiri jika tega pergilah," kata Kris. "Kau Dara jika kau tetap egois dengan membiarkan anak kita hidup tanpa nama ayahnya dan jadi bahan ejekan orang maka silahkan. Kau mungkin jadi ibu yang hebat tetapi anakmu tetap butuh figur ayah di sampingnya."
__ADS_1
Dara terkejut mendengar perkataan Kris. Dia menelan Salivanya berat.
"Dan kau Sheila, pernikahan kita baru enam bulan, masih ada enam bulan lagi kita harus hidup bersama untuk genap menjadi setahun, maka kau tidak bisa membatalkan isi surat itu!" ucap Kris.
"Jadi kau ingin kita bertiga hidup bersama?" tanya Sheila marah.
"Kau egois Kris masih saja tidak berubah mau menang sendiri!" imbuh Dara.
"Ya, kita akan hidup bersama. Aku akan menikahi Dara agar anak itu punya namaku sebagai ayahnya. Dan pernikahan kita akan tetap ada sampai enam bulan ke depan, Sheila!" putus Kris.
"Setelah enam bulan apa yang akan kau lakukan?" tanya Sheila dengan hati yang terasa diiris oleh sembilu. Dia tidak rela jika dirinya di campakkan begitu saja oleh pria itu.
"Aku tidak tahu, kita bicarakan lagi setelah waktu itu habis. Namun, aku mohon pada kalian untuk saling mengerti."
"Dara sedang hamil besar kemungkinan besar jika dia hamil sudah delapan bulan lebih," kata Kris.
"Tepatnya tiga puluh tuju minggu," sela Savitri.
Hal itu membuktikan jika anak dalam kandungan Dara memang anaknya, batin Kris.
"Apakah kau tega melihatnya hidup terlunta sendirian?" ucap Kris pada Sheila. Sheila melihat ke arah Dara. Dia bukan tipe wanita kejam yang akan mengusir wanita yang sedang hamil ke jalanan hanya karena dia madu suaminya.
Kris memegang kedua tangan Sheila lagi. "Aku juga membutuhkanmu!"
"Akan lebih indah jika Kris mengatakan aku juga juga mencintaimu." Batin Sheila sakit.
"Kris hatiku tidak selapang itu," kata Sheila lirih menatap bola mata suaminya.
"Kita akan mencobanya, aku tahu jika hatimu itu lembut. Aku tahu ini salah tetapi aku tidak bisa membiarkan ibu dari anakku hidup sendiri di sana!" Kris menghela nafasnya.
__ADS_1
"Bukankah lebih baik aku jujur padamu walau menyakitkan dari pada aku bermain di belakangmu?" tanya Kris.
"Tidak ada yang baik, semua wanita tidak ingin berbagi," jawab Sheila. "Kau harus memilih salah satu dari kami "