
"Kau mau pesan apa, Kak?" tanya Cinta setelah dia memanggil pelayan untuk datang.
Bella terdiam, larut dalam pikirannya sembari menatap anak kecil yang berada di dalam dekapannya. Hatinya berdegub kencang, takut jika dia David ... Mungkin David yang lain.
"Kak?" panggil Cinta sembari memegang tangan Bella. Dia terhenyak terkejut.
"Kak, kau memikirkan apa?" tanya Cinta.
"Tidak!" jawab Bella cepat.
"Aku ikut apa yang kau pesan," tambah Bella. Cinta lalu memesan makanan. Setelah itu dia melihat-melihat keadaan sekitar seperti mencari seseorang.
"Itu dia ayah dari anak ini," tunjuk Cinta pada sosok pria yang terlihat sedang berdesakan keluar dari lift. Bella belum melihatnya tetapi melihat siluet pria itu membuat jantung Bella berdegub dengan kencang. David? Ketika wanita itu mulai melihat wajah pria itu dari kejauhan. Tidak mungkin? Anak ini anaknya? Bagaimana bisa?
Bella menyembunyikan tangannya yang gemetar di balik punggung anak itu. Wajahnya terlihat memucat seketika walau dia berusah mungkin menyembunyikan perasaan hatinya di depan Cinta.
"Ekh ... dia kah David yang kau maksud?" tanya Bella pada Cinta.
"Ya, apa kau mengenalnya?"
"Siapa yang tidak mengenal pengusaha itu? Fotonya sering hilir mudik di setiap majalah dengan para wanita," jelas Bella dengan nada seolah dia telah mengenalnya membuat dahi Cinta berkerut.
"Kau terlihat kesal, Kak. Aku jadi curiga?" pojok Cinta.
"Tidak. Maksudku aku tidak benar-benar mengenalnya. Dia salah satu klien ayah," Wanita itu terlihat gugup walau menyembunyikannya serapih mungkin.
"Oh, itu artinya kau mengenalnya," desak Cinta.
"Hanya sekilas saja," ujar Bella sembari memalingkan muka dan membuang nafas kasar. Dia menggeser tubuhnya agak ke pojok sengaja menyembunyikan diri. Namun itu tindakan bodoh, bagaimanapun pria itu pasti melihat dirinya nanti.
Bella lalu melihat pantulan dirinya di dinding kaca sebelah tempat duduk. Dia ingin memastikan penampilan dirinya tidak kacau untuk saat ini.
Dia mengepalkan salah satu tangannya untuk mengatasi rasa emosi yang caruk maruk dan membuncah di hati.
Hingga akhirnya pria itu kini ada di hadapannya dengan posisi membelakangi.
__ADS_1
"Hai ... ." Sapa David ketika melihat Cinta. "Di mana Cantik?"
Cinta menunjuk Bella yang duduk di belakang David dengan isyarat matanya.
David membalikkan tubuhnya. Untuk sesaat dia terpana. Darahnya membeku seketika. Hanya matanya saja yang berkedip. Dia hampir tidak bernafas ketika melihat Bella menggendong Putri kecilnya.
"Kau ... ," akhirnya ucapan itu saja yang keluar dari mulutnya.
"Tuan Sinclair senang bertemu denganmu," ujar Bella terlihat sopan dengan memasang senyum di bibir. "Aku tidak tahu jika ini ternyata anakmu." Dia lalu mengulurkan tangannya.
Mata David berkilau dengan emosi yang terpendam.
"Bella." David meraih tangan itu dan menekannya sekilas sebelum melepaskan. Suaranya terdengar parau membuat jantung Bella jungkir balik mengenang memorinya empat tahun lalu.
Tidak, tidak boleh, Bella tidak boleh memikirkan hal itu. Hari-hari itu telah hilang dalam halaman-halaman masa lalu mereka. Walau kesalahan mengubah mereka dan tidak bisa ditarik kembali.
Beberapa waktu berlalu terlihat jelas dari guratan rambut kelabu di dahi pria itu dan kerust kecemasan yang terpahat di alisnya. Di umurnya yang sudah memasuki 40 tahun lebih pria itu anehnya masih terlihat tampan, dengan fitur maskulin dan agresif pria yang selalu menuntut perhatian dari hidung mancungnya yang tajam serta belahan dagunya. Dan tubuhnya ...
Charlotte menundukkan wajah menyembunyikan rona wajah di pipinya. Dia mendesah pelan. Dulu dia selalu menyentuhnya, mengagumi setiap lekuk dan kokohnya tubuh pria itu, merasakan sensualitas yang ada dalam diri pria itu. Dan kini setelah berpisah selama bertahun-tahun menyadari tubuh David dengan kesadaran yang menyerupai rasa sakit.
Ya Tuhan dia harus menghentikan pikiran ini. Cinta memperhatikan interaksi keduanya yang saling diam. Seolah dirinya dalam dimensi waktu yang berbeda dan mereka berdua berbicara melalui hatinya.
"Aku tadi menemukannya di pojokan outlet baju anak sedang menangis," ucap Bella. Dia bersyukur karena suaranya tidak terdengar gemetar.
"Terima kasih banyak, tadi aku sedang bertemu dengan salah satu klienku dan tanpa aku sadari Cantik hilang dari hadapanku," jawab David dengan penuh penyesalan.
"Kau sangat ceroboh, kau seharusnya menjaganya dengan lebih baik," omel Bella. Membuat bibir David tertarik sedikit ke atas menampilkan sebuah senyuman yang samar.
"Aku akui kesalahanku, tapi aku beruntung karena hal ini aku bisa bertemu denganmu lagi setelah sekian lama," jawab David. Membuat wajah Bella merona.
"Kalian terdengar akrab," tanya Cinta tiba-tiba membuat mereka sadar bahwa ada orang lain di ruangan ini.
"Tentu saja," jawab David. Dia lalu duduk di sebelah Bella dengan santai dan sangat mulus seperti merasa nyaman dengan lingkungannya.
"Seperti yang tadi aku katakan jika dia relasi ayah, kami sering berbicara dahulu."
__ADS_1
"Tidak hanya sekedar berbicara," imbuh David dengan tatapan mata tajam.
Mata Cinta melihat keduanya bergantian.
"Okey, sepertinya ada masalah lain yang perlu kalian bicarakan atau tuntaskan."
"Aku ... ," Bella memotong namun tangan Cinta bergerak menyetop pembicaraan ini.
"Aku tidak tahu dan tidak ingin tahu, tapi jika kalian mau memberitahuku itu akan lebih baik."
"Aku tidak ada hubungan apapun dengannya," ucap Bella melirik ke arah David yang berada di samping.
Cinta menarik dua alisnya ke atas.
"Dia istriku, status kami masih suami istri," jawab David dengan tegas dan penuh keyakinan.
Cinta terlihat terkejut mendengarnya. Dia tahu jika David sedang mengurus proses perceraiannya dengan Sofi. Tapi jika status kakaknya masih istri David berarti?
"Aku tidak mengerti?" Cinta menggelengkan kepalanya.
David melirik ke arah Bella sejenak yang sedang membuang muka ke samping. Dia bisa mendengar nafas berat yang Bella keluarkan.
"Kami pernah menikah walau tanpa surat resmi, "
"Bagaimanapun itu tidak sah karena bukan ayah walinya!'' ucap Bella tidak ingin mengakui statusnya.
"Entah apa itu sah atau tidak yang jelas kau dan aku pernah menikah dan tinggal bersama!" jawab David tegas.
"Ini sepertinya bukan perkara mudah. Ekhm ... Cristian sudah ada di bawah menjemputku. Sebaiknya aku turun saja. Dan kalian bisa membicarakan masalah ini berdua. Setelah itu akan minta penjelasan darimu besok, Kakak!" kata Cinta menggendong Calesta dan mengambil tas belanjaannya lalu melangkah pergi.
"Aku baru tahu jika kau telah kembali ke negara ini?" ucap David.
"Jangan membuatku tertawa. Aku tahu mata-matamu selalu ada mengawasi di depan rumahku!" jawab Bella. David tersenyum.
"Kau jeli," ucap pendek pria itu.
__ADS_1
"Aku dan Sofi tinggal menunggu surat perceraian, kembalilah padaku," pinta David.