
Sebuah mobil datang dan membawa Dara masuk ke dalamnya dengan paksa. Setelah masuk dari belakang seseorang membekap mulutnya dengan sapu tangan yang telah diberi obat bius. Seketika tubuh Dara lemas lunglai dan tidak sadarkan diri lagi.
Dara bangun ketika mendengar keributan. Dia membuka matanya dan melihat beberapa wanita berdiri mengelilingi ruangan dengan wajah menangis dan ketakutan. Dara lalu mengerjakan matanya. Di mana dia berada saat ini? batin Dara.
Kepalanya terasa sakit dan pusing. Dia lalu memegang kepalanya dan berusaha bangkit.
"Di mana ini?" gumam Dara lemah. Dia melihat ke seluruh ruangan itu. Itu adalah kamar dengan beberapa ranjang bertingkat. Ada dua pintu di kamar itu. Satunya terbuka sedikit mungkin sepertinya itu adalah pintu kamar mandi dan satu lagi mungkin pintu keluar.
Ruangan itu tertutup rapat hanya ada ventilasi di atas pintu utama.
"Entahlah aku tidak tahu yang pasti aku tahunya kita di sini karena akan dijual oleh orang-orang itu," kata seorang wanita dengan menundukkan kepalanya.
"Di jual?" Dara langsung menegakkan kepalanya mengabaikan rasa pusingnya. Dia mengamati semua wanita itu, ada sekitar sepuluh orang. Kebanyakan dari mereka adalah wanita muda dan masih belia bahkan sepertinya berada di bawah umur. Dan ada satu anak yang terlihat masih kecil mungkin sekitar empat belas tahunan.
Keadaaan mereka terlihat buruk, kebanyakan dari mereka terluka. Bahkan ada seorang wanita dengan wajah bengkak.
"Ya, kita jadi korban human trafficking," kata wanita muda itu menangis. Di bibirnya terdapat luka lebam.
"Apakah luka itu karena perbuatan mereka?" tanya Dara.
Wanita itu memegang bibirnya. "Iya aku coba melawan dan mereka menampar wajahku keras hingga aku terjatuh dan pingsan."
Dara mengepalkan tangannya keras. "Apa kalian juga diculik sama seperti aku?"
"Jika aku pergi ke kota ini diajak oleh seorang kawan diiming-imingi kerja dengan bayaran besar nyatanya aku malah di jebak dan dibawa ke tempat ini," kata wanita itu terisak. Satu wanita yang berada di depan mereka lalu mendekat dan memeluk wanita yang menangis itu.
__ADS_1
"Dan aku sudah berada di sini lebih dari dua Minggu, aku berada di sini juga karena diimjng imingi pekerjaan pelayan sebuah hotel dengan bayaran tinggi. Nyatanya aku malah disekap di sini," ujar satu wanita lagi sembari meneteskan air mata. Mata Dara tertuju pada satu anak berusia belasan tahun.
"Dia Nara, pertama kali dia datang kemari dia memakai baju sekolah putih biru. Setelah kami tanyai katanya dia diculik oleh beberapa orang sewaktu pulang sekolah dan dimasukkan paksa ke mobil."
"Apakah kalian tidak bermaksud melawan?" tanya Dara.
"Kami semua sudah melawan tetapi jumlah mereka nyatanya banyak dan mereka itu pria-pria kuat. Tenaga kami tidak sebanding dengan tenaga mereka."
"Dari tadi kita berbicara tetapi tidak saling mengenal, perkenalkan namaku Dara," katanya sembari mengulurkan tangannya.
"Namaku Elin," kata wanita yang dari tadi diajak bicara oleh Dara.
"Kalau aku Ratna," kata wanita di depannya itu.
Tidak lama kemudian pintu terbuka lebar. Masuklah dia orang pria bertubuh besar di belakang mereka seorang lelaki bertubuh lebih kecil tetapi kekar dilihat dari raut wajahnya Dara bisa menilai jika pria itu berusia sekitar empat puluh lima tahunan. Sepertinya pria itu adalah ketua dari penjahat yang telah menculiknya.
"Itu Bos wanitanya, cantik, muda dan segar," kata salah satu pria bertubuh besar. Pria itu lalu mendekat ke arah Dara. Dia hendak memegang dagu Dara, namun Dara meludahi tangannya.
"Wah, kalian lihat," pria itu lalu menyerahkan tangan ke depan para pengawalnya dan mereka lalu mengelap tangannya dengan sapu tangan. "Kau memang sangat cantik, tapi sayang kau terlihat garang. Jika yang lain melakukannya aku akan menghajar mereka tetapi kau termasuk aset paling berharga milikku jadi kau tidak boleh lecet atau terluka karena akan mengurangi hargamu nantinya." Setelah itu pria itu langsung menjambak keras rambut Dara dan satu tangannya menelusuri wajahnya. Kepalanya di miringkan sebuah senyuman bengis keluar dari wajahnya yang putih bersih.
Dara merasa jijik disentuh pria itu. Matanya menajam, penuh dengan api kemarahan mulutnya, terkatup rapat.
"Mata lebar dengan hidung yang sempurna, bibir yang seksi dan tubuh yang aduhai. Sedikit polesan akan membuatmu terlihat seperti bidadari," lanjut pria itu lagi
"Rawat dia dengan baik jangan sampai ada luka sedikitpun di tubuhnya. Aku akan menawarkannya ke negara timur tengah. Orang sana dia pasti bisa laku mahal," perintah pria itu pada para pengawalnya.
__ADS_1
"Kapan kita akan membawa para gadis ini ke Singapura?" tanya para pengawal itu.
"Besok malam, khusus untuk dia aku akan membawanya sendiri ke hotel Indonesia tetapi sebelum itu aku akan menawarkannya ke pada para pelangganku," kata Pria itu lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Dara menghembuskan nafas keras. Dia lalu membuang mukanya. Wajahnya merah padam dan matanya berkaca-kaca.
Ini adalah penculikan yang pernah dialaminya untuk kedua kali. Jika yang pertama dia dibawa paksa oleh bosnya ke sebuah gudang dan dia masih selamat karena hanya ada mereka di sana. Jika kini ada beberapa orang pria di sini. Dia tidak mungkin bisa melawan mereka sendiri.
Dara lalu memikirkan sebuah cara. Dia teringat menyimpan handphonenya di balik celana jins bagian perutnya.
"Apa itu kamar mandi?" tanya Dara pada Ratna.
"Iya," kata Ratna.
"Aku ingin ke belakang," ujar Dara. Dia lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi itu. Dan menutupnya rapat. Tangannya merogoh ke masuk ke dalam celana jins miliknya. Untunglah hape itu masih ada di sana. Ini sudah pukul enam pagi dan di sini tidak ada sinyal. Pikir Dara. Namun ada jendela kecil di atas toilet. Dara lalu naik ke atas toilet itu dan mencari sinyal. Untunglah sinyal itu masuk ke handphonenya.
Dia kini bisa melihat ada belasan chat dari Kris menanyakan keadaan Dara. Dan beberapa panggilan ke dalam handphone ini.
Dara lalu mengetikkan sesuatu ke wa.
'Kris tolong aku! Aku diculik dan akan dijual oleh mafia. Jangan menelfonku karena itu berbahaya cukup cari tahu dimana aku lewat sinyal GPS ini. Ku mohon tolong aku karena aku hanya mempunyaimu saat ini.'
Pesan itu langsung dikirimkan Dara. Dia lalu tidak mengaktifkan semua jenis panggilan karena akan sangat berbahaya baginya. Dia juga membuat menu penghematan daya.
Setelah itu dia kembali menyelipkan handphone miliknya di balik celana bagian depan. Memasukkannya agar tidak ada yang melihat ataupun curiga karena satu gerakan aneh pada dirinya akan membuat setiap langkahnya yang dibuatnya akan hancur.
__ADS_1
"Kris tolong aku!" pikir Dara. Hanya pria itu yang bisa dia harapkan. Jika dia tidak menolongnya maka akan habis masa depan dan hidupnya. Tetapi apakah Kris akan sebaik itu menolongnya?