
Setelah selesai membersihkan diri dan mengganti dengan pakaian rumah, Dara lalu duduk melihat sebelah tempat tidurnya. Rasa kehilangan pasti ada setelah Rose pergi bersama Ayahnya. Walau ini baru beberapa jam berlalu, tetapi terasa lama dan berat.
Dia tidak boleh egois, melarang Rose akrab bersama Ayahnya. Pria itu juga berhak atas Rose, namun ada perasaan tidak rela yang harus dia tekan dalam-dalam. Semua demi kebahagiaan Rose.
"Nak, sedang apa kau di sana? Apakah kau bahagia bersama Ayahmu?'' Dara mendesah. Pintu kamar mulai diketuk. Dara berdiri dan berjalan ke arah pintu. Membukanya dan melihat Kaisar sedang berdiri di depan pintu. Tersenyum ke arahnya memperlihatkan giginya yang ompong di bagian depan.
"Tante!" panggil Kaisar. Dara melihat ke arah kanan kiri tidak ada orang lain. Dia lalu menunduk melihat ke arah Kaisar.
"Boleh aku masuk," kata Kaisar.
"Boleh hanya saja tidak ada Rose di dalam kamar," ucap Dara membungkuk.
"Aku ingin berbicara dengan Tante sebagai pria sejati," ujar Kaisar menepuk dadanya sendiri.
Dara menyatukan alis lalu tersenyum, dia lalu mengambil tangan Kaisar dan membawanya masuk ke dalam kamar.
"Apa kau belum sekolah Kai?" tanya Dara.
"Aku belajar di rumah, ada guru yang akan datang kemari mengajariku belajar," terang Kaisar.
Dara lalu mengajak Kaisar duduk di tempat tidur.
"Apakah kau ingin pergi ke sekolah?" Kaisar menundukkan kepalanya lalu menggeleng.
"Kenapa?"
"Karena tidak ada Ibu yang mengantarku, semua temanku diantar oleh ibunya dan ibuku sudah tidak ada," jawab Kaisar.
Hati Dara tersentuh mendengar kata-kata Kaisar. Dia lalu memeluk tubuh Kaisar dan mengusap punggungnya lembut.
__ADS_1
"Tadinya nenek yang suka mengantarku tetapi ketika nenek sakit hanya Mbak saja yang mengantarku sekolah. Ada ibu dari temanku yang mengatakan aku adalah anak nakal karena tidak punya ibu yang mengajariku sopan santun," jelas Kaisar.
"Ada pula yang mengatakan jika ibuku meninggal karena aku," imbuhnya lagi sembari menangis tersedu-sedu. Tangan Kaisar memeluk pinggang Dara.
Mendengar hal itu hati Dara ikut teriris. Dia lalu memangku Kaisar.
"Maka itu Ayahmu memanggil guru kemari dan melarangmu sekolah?"
Kaisar menganggukkan kepalanya. Dara teringat pertama kali melihat Kaisar. Anak itu hampir saja bertengkar dengan Rose jika dia tidak menengahi, pertemuan kedua mereka bertengkar hebat lagi. Pantas saja jika ada ibu-ibu gerah dengan sikap Kaisar. Anak ini sebenarnya butuh perhatian lebih dan bimbingan sehingga tingkah lakunya bisa teratur dan sopan.
Dara bisa melihat jika semua orang di rumah ini akan menuruti semua keinginannya. Itu yang membuat dia manja dan merasa bahwa semua harus sesuai dengan apa yang dia mau.
"Apakah Rose akan kembali ke rumah ini Tante?" tanya Kaisar.
"Nanti iya, tetapi Rose juga harus kembali ke Bali untuk meneruskan sekolahnya," ujar Dara.
"Berarti nanti Tante dan Rose akan pergi dari rumah ini?" tegas Kaisar.
"Aku ingin kalian di sini, aku tidak punya teman bermain," ujar Kaisar.
"Kita tanya saja pada Rose apakah mau tinggal di sini bersamamu?" kata Dara.
"Kenapa harus Rose jika Tante ada di sini Rose pasti ikut tinggal di sini."
"Jadi kau ingin Tante tinggal di sini hanya karena Rose?"
Kaisar menggelengkan kepalanya. "Lalu?'' Dara Menaikkan kedua alisnya ke atas.
"Aku ingin Tante jadi ibuku, boleh?" tanya kaisar lirih hampir tidak terdengar. Ucapan Kaisar yang jujur dan tulus menggetarkan hati Dara. Dia merenggangkan pelukannya dan mengangkat wajah Kaisar dengan tangannya.
__ADS_1
"Mengapa?" tanya Dara menatap Kaisar. Mata Kaisar terlihat memerah nafasnya sudah tersengal-sengal.
"Karena aku ingin mempunyai Ibu yang akan memelukku setiap hari dan menemaniku tidurku sembari membacakan cerita dongeng. Aku juga ingin memberitahu teman-teman jika aku juga punya Ibu yang akan memarahi teman yang nakal padaku," ujar Kaisar lalu memeluk tubuh Dara erat menangis dalam pelukannya.
"Maria, betapa menderitanya anakmu, hidup tanpa dirimu," batin Dara. "Andai saja kau masih hidup, nasib Kaisar tidak akan seperti ini."
Dara mengusap setitik air mata yang sempat keluar, lalu membalas pelukan Kaisar dan mengusap kepalanya pelan lalu mencium pucuk kepalanya yang berbau buah-buahan segar.
"Sudah jangan menangis lagi, kita sebaiknya pergi makan malam," kata Dara.
"Tetapi apakah Tante mau jadi ibuku?" tanya Kaisar.
"Jika kau berjanji mau menuruti perkataan Tante dan akan menjaga Rose seperti menjaga adikmu," ujar Dara.
"Aku janji akan menuruti semua perkataan Tante dan menjadi kakak yang baik bagi Rose."
Dara lalu menyubit gemas pipi Kaisar.
"Kau lucu. Tante sangat menyayangimu," ungkap Dara.
Alehandro yang berdiri di depan pintu menarik nafas lega mendengar jawaban Dara. Dia sempat menitikkkan air mata mendengar pengakuan Kaisar jika dia tidak sekolah karena pernah memperoleh bully dari teman-temannya. Selama ini dia hanya diam hanya berkata tidak ingin sekolah lagi.
Keputusannya untuk menjadikan Dara ibu bagi Kaisar memang tepat. Wanita itu dengan mudah bisa mengambil hati Kaisar walau mereka baru bertemu.
Baru saja Alehandro membalikkan tubuhnya Dara sudah membuka pintu kamar dan berisi di belakangnya.
"Sedang apa kau di sini, Ale!" tanya Dara.
Mom Lusi yang hendak memanggil anak dan cucunya makan tersenyum melihat tingkah mereka dari ujung lorong. Dari tadi dia melihat Alehandro berdiri di depan kamar Dara sembari menempelkan telinganya di dinding pintu.
__ADS_1
Semoga semuanya jadi awal yang baik bagi semua orang karena sudah cukup lama rumah ini tidak dipenuhi tawa riang.