
Bella sama sekali tidak konsentrasi dengan rapat yang diadakan kali ini. Yang ada dia malah memikirkan kegiatan panas yang dilakukannya tadi satu jam sebelum rapat ini berlangsung. Rapat ini diundur karena dia perlu mempersiapkan diri kenyataannya dia malah sibuk mandi membersihkan diri.
Pria nakal, pikirnya. Dia sembari tersenyum sendiri dan menggigit bibirnya.
"Bella!" bentak Setiawan, ayahnya, ketika bertanya pada Bella namun tidak juga dijawab. Semua memandang ke arahnya. Bella yang kaget langsung menjatuhkan pena di tangannya.
"Kau melamun di tengah masalah pelik yang sedang kita bahas. Ini antara hidup dan matinya perusahaan ini. Aku harap kau mengerti, Anakku!"
"Maaf, Ayah aku juga sedang memikirkannya," sanggah Bella pada diri sendiri, Setiawan dan beberapa anggota rapat lainnya menaikkan alis secara bersamaan sembari memandangnya.
"Ada apa?" tanya Bella tanpa bersalah. Riska menepuk dahinya. Ada yang salah dengan anak ini, pikirnya.
"Sudahlah, kita teruskan rapatnya," ujar Setiawan tidak mau ambil pusing. Rapat diteruskan lagi. Semua wajah terlihat suram dan tegang. Mereka tidak menemukan cara yang tepat agar masalah ini terselesaikan dengan baik.
Tidak lama kemudian seseorang mulai masuk ke dalam ruang rapat. Pria itu menghadap ke arah Setiawan.
"Pak, Tuan David Sinclair sedang berada di depan ruangan anda, dia ingin berbicara dengan anda untuk membicarakan masalah kesepakatan yang telah disetujui oleh Nona Bella dan beliau," kata asisten Ayah.
Setiawan melihat ke arah Bella. Akan tetapi, wanita itu juga terlihat terkejut. Cepat sekali David kemari untuk menyelesaikan masalahnya.
"Dia bersedia untuk bekerjasama dengan kita, tapi aku tidak tahu jika dia merespon cepat proposalku," terang Bella.
Setiawan lalu mengalihkan pandangan ke asistennya.
"Katakan jika aku akan menemuinya seperempat jam lagi," ujar Setiawan.
Setiawan lalu undur diri, dia menyuruh Bella meneruskan dan memimpin rapat ini, sementara dia dan Riska bersiap menemui calon klien besar mereka.
Setiawan melihat David datang bersama seorang wanita yang terlihat sebagai sekretarisnya dan lima pria, tiga diantaranya lebih terlihat sebagai bodyguard.
__ADS_1
"Tuan David senang sekali orang besar dalam bisnis garmen seperti anda datang ke perusahaan kecil milik kami," kata Setiawan sembari mengulurkan tangannya. David lalu menerima uluran tangan pria itu dan mereka saling berjabat tangan.
"Anda bisa saja, ini perusahan yang bagus dan kulihat hasil pekerjaan perusahaan ini sangat rapih dan berkualitas, baik itu dilihat dari jahitan maupun kualitas bahan dan warna. Untuk itu, kami kemari ingin berinvestasi menanamkan modal," ujar David.
"Kalau begitu kita bicarakan masalah ini di dalam saja," ujar Setiawan.
Mereka lalu melangkah ke dalam ruangan kerja Setiawan. David menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan itu.
"Ruangan kami memang terlihat lebih kecil dibanding ruangan anda," kata Setiawan merendah. Dia mempersilahkan tamunya untuk duduk.
"Ini bagus, punyaku pun sama seperti milik anda," jawab David. Padahal sesungguhnya ruangan David itu sangat lebar setengah dari luas satu lantai gedung miliknya di jadikan ruangannya dan ruang pribadi yang ada di balik ruangan itu. Tempat dia beristirahat dari kesibukan yang selalu menderanya setiap hari.
"Anda terlalu merendah," balas Setiawan. Dia mulai menyukai sifat pria ini yang low profile.
Sangat berbeda dengan Cristian yang jarang bicara dan terlihat angkuh. Bandingnya.
"Pertama karena jumlah produksi yang kalian hasilnya itu separuh kurang dari yang kami butuhkan. Kedua harga yang ditawarkan lebih tinggi dari dua perusahaan milik asing yang ingin bekerja sama dengan kami," terang David.
Setiawan menunduk, dagunya turun dan meluruh seketika. Dewi Fortuna sepertinya sedang tidak berada di pihaknya.
"J&J itu seperempat sahamnya milikku dan tiga perempatnya milik saudaraku di Itali. Aku hanya menangani bidang produksi dan juga pemasaran di daerah Asia tenggara. Jadi aku tidak punya wewenang yang bisa memutuskan hal ini begitu saja. Kami harus membicarakan hal ini dalam rapat di Italy bulan depan."
"Jadi kau datang kemari untuk membicarakan masalah penolakan terhadap proposal itu?" tanya Setiawan.
"Bisa jadi separuhnya benar," jawab David.
"Maksudnya?" tanya Setiawan sedikit berharap.
"Aku ingin menginvestasikan sebagian dana milikku ke perusahaan ini. Investasi jangka panjang tentunya. Kita akan menambah alat dan pekerja agar produksi kita meningkat tajam. Aku juga perlu memberi tahu Bella tempat-tempat di mana dia bisa memperoleh bahan yang murah dan berkualitas serta bagaimana menghasilkan barang dengan standar mutu yang kami inginkan. Untuk itu untuk sementara waktu hingga perusahaan ini stabil aku ingin agar di beri wewenang untuk mengambil keputusan agar perusahaan ini maju," kata David.
__ADS_1
"Apakah kau ingin jadi pimpinan perusahaan?" tanya Setiawan curiga.
"Tentu saja tidak, aku sudah cukup sibuk dengan pekerjaanku saat ini. Hanya saja aku setiap keputusan yang diambil harus seijinmu untuk 'sementara waktu' agar kalian bisa belajar tentang bagaimana cara kerja kami."
Mereka yang ada di ruangan itu terdiam tidak mengerti.
"Begini Nona Bella akan mendiskusikan kemajuan proyek ini denganku dan menentukan langkah apa yang akan diperlukan untuk kemajuan perusahaan ini ke depannya. Dan soal kepemimpinan biar anda saja yang tetap berada di sana. Jadi saya hanya merancang strategi pemasaran dan produksi kalian yang menjalankannya," tawar David.
Untuk sejenak Setiawan berpikir, tawaran pria ini sangat bagus menguntungkan kedua pihak. Menjual setengah saham perusahaan itu lebih baik dari pada kehilangan keseluruhan perusahaan ini.
"Tapi kami punya hutang banyak pada bank untuk menutup kerugian selama beberapa bulan ini," ujar Setiawan.
David mendengarkan dengan seksama. Dia menyilangkan kakinya dan menegakkan punggungnya.
"Kami mempunyai hutang yang sangat besar sedangkan hampir separuh lebih produksi tiga bulan ini masih mengendap di gudang perusahaan. Sebagian lagi masih beredar dalam bentuk kredit."
"Kau berinvestasi di tempat yang salah," ujar Setiawan.
"Tidak jika kalian mengikuti semua interuksiku."
"Aku membutuhkan dana besar untuk membayar hutangku, untuk itu aku akan menjual separuh saham milikku," kata Setiawan.
"Baiklah aku akan membelinya. Katakan berapa nilainya?" tanya David santai. Tapi dia tahu jika sejatinya membeli perusahaan yang sedang pailit yang sudah tidak ada harganya lagi. Ini harga yang harus dia keluarkan untuk menjerat Bella lebih dalam ke sisinya. Dan dia akan melakukan itu walau seluruh hartanya habis untuk ini.
"Seratus lima puluh milyar," kata Setiawan. David tersenyum. Itu bahkan belum dari lima persen kekayaannya.
"Baiklah, aku akan membelinya," ucap David. Setiawan tersenyum lega. "Tapi dengan syarat untuk sementara waktu Nona Bella ada di kantorku sampai perusahan ini stabil," lanjut pria itu.
"Ada apa ini?" tanya Bella terkejut ketika mendengar namanya disebut.
__ADS_1