Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Harga diri


__ADS_3

Dara mematut dirinya di depan cermin. Dia memakai kaos putih dengan berlengan pendek dan sebuah celana panjang denim. Walau penampilannya sederhana tetapi postur tubuhnya yang mirip model membuat pakaian itu terlihat bagus.


Dia lalu mulai berdandan alami dan natural. Sangat jarang baginya menggunakan kosmetik karena dia sayang jika kosmetik yang dia beli dengan uang sakunya akan cepat habis. Setelah dia menyapukan blush on ke wajahnya dia mulai mematut lagi wajahnya. Tidak sulit baginya untuk berhias karena dia sudah biasa merias adik-adik pantinya ketika mereka akan melakukan lomba atau pentas. Selain itu dia pernah bekerja menjadi sales kosmetik. Sehingga dia memiliki keahlian merias wajah yang dipelajarinya secara otodidak.


Langkah terakhir adalah memakai handbody mahal dengan aroma bunga mawar yang menggoda di sekitar area leher dan tangannya. Handbody itu dia beli dengan mengeluarkan uang seperempat gajinya sebagai pelayan toko.


Dia bisa saja membeli parfum dengan harga itu tetapi dia jatuh hati dengan aromanya. Selain itu handbody itu juga bisa membuat kulitnya terlihat lebih glowing.


Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk oleh seseorang. Sepertinya itu Kris. Dia terkejut melihat jarum jam yang masih menunjukkan pukul setengah tiga siang. Kenapa pria itu datang lebih awal?


"Dara apakah kau masih lama. Aku tidak punya waktu lama," kata Kris mengetuk pintu lagi.


Dara langsung membuka pintu kamar membuat Kris terkejut. Dara terlihat berbeda, kulit wajahnya yang memang putih terlihat bersinar. Warna merah lipstik menghiasi bibirnya yang kecil dan seksi karena berisi dan membelah di bagian tengahnya. Banyak wanita yang rela mengoperasi bibirnya untuk mendapat bibir seperti milik Dara.


Dara hanya memakai kaos pas badan dan celana denim berwarna biru terang dengan sobekan di bagian paha kirinya. Tidak seksi tetapi lekuk tubuhnya yang indah terlihat jelas. Membuat Kris menahan nafasnya.


Lehernya yang panjang dan jenjang terekspos sempurna karena rambutnya diikat tinggi ke atas. Aroma tubuhnya yang lembut menggugah jiwa kelelakian Kris. Dia menelan saliva-nya. Sepertinya dia akan pusing berada dekat dengan wanita itu.


Ingatannya pada goyangan Dara tadi pagi mulai berkelebat di matanya


"Tuan, ayo kita pergi," ajak Dara.


"Panggil namaku saja! Kata Tuan itu terlihat tidak cocok untukku," kata Kris yang terdengar merendah padahal biasanya dia terlihat sangat sombong. Dia lalu memberi ruang untuk berjalan terlebih dahulu.


Sepanjang perjalan ke tempat parkir, Kris mencuri pandang pada Dara yang berjalan di depannya. Dara bisa melihatnya dari cermin atau kaca sepanjang perjalanan mereka. Akan tetapi dia pura-pura tidak tahu.


"Pakailah sabuk pengaman," perintah Kris pada Dara. Dara lalu menuruti, dia mengenakan sabuk itu.


"Sebenarnya jika kau sibuk, kau tidak perlu mengantarku pergi," kata Dara.


"Aku sudah berjanji pada Nyonya Maria," jawab Alehandro mulai menjalankan mobilnya.


"Aku akan mengatakan pada Maria jika kau sangat sibuk dan ...." Tatapan tajam Kris membuat lidah Dara berhenti untuk mengucapkan sesuatu.

__ADS_1


"Kau hidup sendiri dan aku tidak tahu apa yang akan menimpamu di luar dengan uang sebanyak itu. Jika itu terjadi tidak ada yang tahu kau terluka atau bahkan mati karena kau tidak punya keluarga yang akan mencarimu!"


Dara memalingkan wajah ke luar jendela. Apa yang Kris katakan memang benar. Tetapi itu terasa menyakitkan.


"Aku hanya ingin memastikan kau aman," lanjutnya. Dara melihat ke arah Kris.


"Terima kasih," katanya sembari tersenyum kecut.


"Kita akan kemana?" tanya Kris setelah mereka memasuki jalan raya.


"Ke arah Bintaro," jawab Dara. Mereka kembali terdiam. Suasana terasa kaku dan canggung.


"Apa yang akan kau rencanakan dengan uang itu?" tanya Kris.


"Aku ingin menyewa ruko, bagian atas untuk tempat tinggalku dan bagian bawah untuk tempat berjualan. Aku ingin membuat warung makan dengan konsep seperti cafe. Walau tempat itu tidak besar tetapi aku berharap orang yang akan makan di sana merasa nyaman."


"Apa kau tidak ingin membuka tempat usaha di mall?"


"Kau tahu ini terdengar bodoh tetapi aku hanya punya uang itu dan hanya itu kesempatanku untuk mendapatkan hidup yang layak serta maju," imbuh Dara. Dari ucapannya terlihat sifat mandiri dan gigih yang tidak banyak dimiliki oleh wanita kaya yang membosankan. Pikir Kris.


Kris menarik sudut bibirnya ke atas tersenyum tetapi hatinya miris mendengar kata-kata Dara.


Uang itu satu bulan gajinya tetapi bagi Dara itu adalah seluruh hidupnya. Kris menghela nafas panjang.


"Kalau boleh tahu maukah kau ceritakan sedikit tentang hidupmu?" tanya Kris. Dara menatap Kris dan mengatup bibirnya rapat. Dia lalu kembali menoleh ke arah jendela melihat jalanan ibukota yang padat.


"Tidak ada yang istimewa. Dan bukan cerita yang menghibur. Cukup aku yang tahu bagaimana aku melalui hidup yang kejam dan penuh lika-liku," ucapnya dengan nada getir.


Mereka lalu terdiam larut dalam pikiran masing-masing hingga tanpa terasa mereka telah sampai ke tempat tujuan. Dara menunjukkan sebuah ruko di kawasan padat penduduk. Ruko itu terlihat tidak terawat dan banyak preman yang sedang duduk di depan ruko. Kris yang baru saja melihat ruko itu langsung menjalankan mobilnya lagi.


"Kenapa kau jalan lagi, itu ruko yang akan kusewa!" teriak Dara.


"Itu terlalu kecil, tempatnya sangat tidak nyaman. Tidak strategis dan ... ."

__ADS_1


"Kau tidak berhak memberi pendapatmu. Kau berjanji untuk mengantarku tetapi tidak berhak melarang apa yang akan kulakukan!" teriak Dara kesal mengepalkan tangan ke bawah.


"Dara maksudku... ," ucapannya terpotong ketika Dara berteriak lagi padanya.


"Kau tidak tahu bagaimana aku harus berhemat dengan uang itu." Wajah Dara yang putih dan bersih terlihat memerah dan matanya telah mengembun.


"Uang sewanya selama tiga tahun akan menghabiskan enam puluh persen uang itu dan aku juga masih membutuhkan uang untuk perkakas, untuk berbelanja dan uang cadangan untuk beberapa bulan hidupku ke depan. Karena butuh waktu yang banyak untuk mendapatkan hasil dari usaha kuliner itu," terang Dara penuh emosi.


Kris langsung meminggirkan mobilnya dan melepas sabuk pengamannya. Dia duduk menghadap Dara.


"Diam Dara! Aku akan membantumu mewujudkan mimpimu itu tetapi ikuti instruksiku, okay!" seru Kris membuat Dara terdiam, terpaku.


"Kenapa?" tanya Dara.


"Karena aku kasihan pada hidupmu, kau puas!"


"Kasihan, Hem!" Dara tersenyum sinis lalu tubuhnya disandarkan di kursi dan melihat ke depan.


"Aku tidak mau belas kasihanmu karena aku tahu tidak ada yang gratis di bumi ini. Kau tahu apa yang kutakutkan?"


"Apa?"


"Kau memintaku melayanimu sebagai bayarannya!"


"Imajinasi mu terlalu tinggi Dara. Kau bukan seleraku," kata Kris mulai menjalankan lagi mobilnya.


"Selera atau tidak, kita tak tahu karena bagi pria wanita jelek pun akan terlihat menarik ketika dia membutuhkannya! Percayalah aku tahu bagaimana gelagat pria seperti itu," kata Dara.


Tenggorokan Kris tiba-tiba terasa kering Dia menelan air ludah untuk membasahi tenggorokannya. Tadi dia memang tertarik melihat Dara tetapi bukan berarti dia punya niat terselubung ketika ingin membantunya.


"Sial!" umpat Kris dalam hati. Baru kali ini dia dipermalukan oleh seorang wanita yang dia anggap berlevel rendah.


Dara adalah anak yatim yang berjuang di tengah kerasnya hidup. Dia pergi dari panti karena pernah akan mendapat pelecehan dari salah seorang pengurus pria. Wajahnya yang mirip dengan seorang artis membuat banyak pria berniat buruk padanya hingga dia harus bertahan untuk mempertahankan kehormatan dan harga dirinya sebagai seorang wanita.

__ADS_1


__ADS_2