
Pagi harinya ketika Maria terbangun dia melihat Cristian dan Cinta sudah berada di dekatnya. Dia mengernyitkan dahinya mengingat kejadian terakhir kali yang membuat dia tertidur.
"Kau sudah bangun! Syukurlah," ucap Cristian.
Maria mulai ingat dia tertidur setelah seorang dokter datang dan menyuntikkan obat ke tubuhnya. Tapi kenapa? Maria mulai menggali lagi memorinya. Dia menutup mulutnya seketika. Dan langsung duduk.
"Kak! Aku tidak mau menikah dengan pria itu, tolong gagalkan semuanya sebelum terlambat!" pinta Maria meraih tangan Cristian dan menangis terisak-isak. Cristian sendiri melirik ke arah Cinta.
"Okey, jelaskan satu persatu!'' ucap Cristian memeluk Maria.
"Ibunya tiba-tiba datang ketika Alehandro menciumku di kantor dan dia menyuruh Alehandro menikahiku," isak Maria.
"Berciuman! Memang kau punya hubungan apa dengan pria itu?" tanya Cristian terkejut. Dia mengernyitkan dahinya.
"Aku ... aku ... ," Maria memainkan jarinya gelisah. Dia tidak tahu harus memulai dari mana kisah awal mereka bersama.
"Sudah berapa kali kalian bersama secara ehm .. kau tahu atau sudah sejauh mana hubungan kalian?" tanya Cristian lagi.
"Kami hanya berciuman saja tidak lebih," jawab Maria polos.
"Dia memaksamu?"
"Tidak! Tapi itu tidak seperti yang kau kira?" Lagi-lagi Maria melirihkan kalimat terakhirnya sembari melirik wajah Cristian takut takut.
"Cinta apa pendapatmu?"
"Ku kira mereka bisa memulai suatu hubungan, mungkin hanya mis komunikasi saja!" ungkap Cinta.
__ADS_1
"Okey! Pertama apa yang membuatmu ragu memilihnya?" Cristian memandang lekat Maria.
"Kau tahu jika dia itu pria yang suka gonta ganti wanita. Aku hanya ingin menikahi pria yang mencintai dan setia padaku hingga akhir hayat, Kak."
"Kau sudah punya kekasih?"
"Aku sudah putus dua bulan lalu," terang Maria.
"Kau tidak sedang mencintai orang kan?" tanya Cristian. Maria menggelengkan kepalanya.
"Maria, Alehandro itu memang pria brengsek, tapi aku tahu jika masa lalunya yang membuat dia seperti itu. Jika kau bisa mendapatkan hatinya maka dia akan tunduk padamu, percaya padaku. Yang kedua masalah hati, cobalah untuk menerima dia, setahun ini jika kau belum bisa maka kau bisa meminta cerai darinya. Dan yang terakhir, kau tidak pernah merasakan kasih sayang ibu sedari kecil. Tidakkah kau ingin punya ibu seperti ibu Alehandro yang akan menyayangimu sepenuh hatinya?" jelas Cristian.
"Kau sedang mencari ibumu 'kan? Alehandro punya uang, kedudukan, dan kekuasaan yang bisa membantumu mengungkap identitas aslimu. Dia akan selalu bisa melindungimu dari marabahaya, jadi kau tidak perlu bersembunyi lagi menutupi siapa dirimu sebenarnya," tambah Cristian membuat Maria terpana.
"Kak!" panggil Maria sembari terisak.
"Aku akan selalu melindungimu, tapi alangkah baiknya jika kau punya seorang suami yang bisa melindungimu, yang memberikan tempat di dadanya, dan merengkuhmu sehingga kau merasa aman dan nyaman."
***
Akhirnya pernikahan itu pun terjadi walau hati Maria belum rela seratus persen. Lusi terlihat sangat bahagia dia berkali-kali memeluk tubuh Maria dan mengungkapkan perasaannya pada semua orang kerabat yang hadir.
Akhirnya semua pun berakhir. Maria kini berada di kamar milik Alehandro. Kamar yang telah di hias dengan bunga-bunga putih yang disusun di dalam vas vas dari kristal, mawar merah yang dibentuk tanda cinta di tempat tidur dan lilin-lilin yang menerangi kamar itu menimbulkan kesan romantis. Semua akan indah jika yang dinikahinya adalah orang yang dicintai. Sayang pria itu bukan pilihan hatinya. Pikir Maria.
Dia mulai berdiri di depan cermin dan mematut dirinya. Tersenyum sinis seolah menertawakan nasibnya sendiri.
"Mungkin benar apa kata Kak Cristian jika aku harus memanfaatkan Alehandro demi mengungkap kebenarannya selama ini," Maria menutup matanya sejenak menetralisir perasaannya.
__ADS_1
Baju ini sangat besar dan berat. Maria merasa lelah menggunakannya. Dia berusaha untuk melepaskan resleting belakang bajunya. Namun sulit, hingga Alehandro datang dan melihatnya.
Seketika Maria memalingkan wajahnya dia enggan untuk melihat ke arah pria itu. Rasa tidak terima di nikahi pria itu masih terasa dalam hatinya.
''Kau perlu bantuanku?" tanya Alehandro mendekati Maria.
"Tidak aku bisa sendiri!" jawab Maria ketus.
Pria itu lalu duduk di atas tempat tidur melepaskan jas dan dasi kupu-kupu yang melingkar di lehernya. Melirik ke arah Maria yang masih terlihat sulit membuka resleting.
Dia lalu mendekat dan berdiri di belakang Maria. Mereka terlihat saling bertatapan melalui pantulan cermin.
Dada Maria berdegup kencang, dia merasa sangat gugup kali ini. Kakinya bergetar ketika nafas pria itu ada terasa di bahunya yang terbuka. Apakah dia akan meminta haknya malam ini? Pikir Maria.
Tangan Alehandro mulai memegang ujung resleting menariknya pelan jarinya sengaja menyentuh kulit putih dan lembut milik Maria membuat hati darah wanita itu mendesir.
"Aku berjanji tidak akan meminta hakku jika kau tidak mengijinkan. Maka jangan takut padaku, karena aku akan menunggumu menyerahkan diri kecuali kau mau melakukannya saat ini," ucap Alehandro sembari mengecup bahu Maria lalu menatapnya melalui cermin. Maria terpana hingga tanpa sadar baju itu jatuh sendiri hingga memperlihatkan tubuhnya yang hanya memakai segitiga pengaman saja.
Dia membuka mulutnya lebar sedangkan Alehandro menatapnya sembari menaikkan alis, Maria langsung berjongkok dan menarik bajunya lagi. Wajahnya memerah bagai kepiting rebus.
"Baju yang indah," goda Alehandro tertawa, dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi sembari bersiul kecil. Menaklukkan anak kecil dan polos itu akan mudah baginya. Pikir Alehandro.
***
Mau ngingetin banyak banget yang g like.
Walau like semua adalah hak kalian untuk memberikannya pada siapa? Tapi aku, sebagai penulis sangat berharap kalian bisa memberikanku like, yang berarti akan menambah persenan popularitas bagi per babnya. Toh menekan tombol like itu tidak sulit.
__ADS_1
Vote itu sebagai bentuk hadiah dari kalian. Aku sangat berterima kasih pada kalian yang setia pada ceritaku.
Komentar hal yang paling aku paling tunggu2.