Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Kenakalan Anak


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan jam empat pagi Bella bangun seperti biasa untuk membuatkan sarapan. Dia melihat David tidur di sofa. Bella bangun lalu mendekati suaminya yang masih merajuk akibat malamnya terganggu oleh Cantik.


Bella mendekati David lalu duduk di sebelahnya menyentuh pipi. Tangan David memegang tangan Bella.


"Jangan menggangguku jika kau tidak bisa memberikan apa yang ku mau," katanya terdengar kesal.


"Tuan David merajuk," goda Bella.


"Kau tahu rasanya menginginkannya tapi tidak bisa. Itu sangat menyiksa," kata David membuka mata dan menatap Bella lekat.


"Kau malah membuat kepalaku semakin pusing," David kembali lagi menutup matanya. Dia belum bisa tidur sejak semalam. Dia memikirkan tentang pembunuh Sofi.


Bella mencium dahi suaminya.


"Tadinya aku ingin mengajakmu ke kamar sebelah ternyata kau malah marah. Aku mau mandi saja," ucap Bella berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi. David menelan salivanya lalu membuka mata.


Dia langsung berdiri dan menggendong Bella, membuat wanita itu terkejut menutup mulutnya karena tidak ingin membuat Cantik terbangun.


"Kau memang istri yang pengertian," kata David.


Dua jam kemudian Bella duduk bersandar di tempat tidur dan David sudah tertidur di pangkuannya dengan lelap. Pria itu sedikit bercerita tentang masalahnya setelah memperoleh apa yang diinginkannya. Dia tahu David bukan kesal karena terganggu oleh Cantik tapi kesal karena tidak bisa melepaskan kegundahan hatinya.


Istri tidak harus menyelesaikan semua masalah suami tapi menjadi pendengar yang baik saja itu sudah cukup bagi mereka.


Bella lalu menggeser pelan kepala David. Mengecup pelan bibirnya, bangun, mengambil piyama bermotif bunga besar berwarna warni yang tergeletak di lantai dan memakainya.


Bella lalu keluar dengan langkah sepelan mungkin tidak ingin membangunkan David. Di kamar dia melihat Cantik masih tertidur lelap. Jika tidur di kamarnya sendiri dia akan bangun pagi tapi jika tidur bersamanya dia bisa bangun siang hingga pukul sembilan pagi. Terkadang David ingin membangunkannya tapi Bella melarang. Alasannya dia masih kecil butuh banyak tidur untuk pertumbuhan.


Setengah jam kemudian dia sudah rapi dan siap untuk keluar dari kamar. Para pelayan sudah membersihkan rumah dan dia hanya memasak sarapan yang sudah di racik kemarin malam dan dia simpan di lemari pendingin.


Dia mulai berkerja di dapur. Memasak lebih banyak selain untuk keluarganya dia juga ingin memasak untuk para pelayan.


Satu jam kemudian semua masakan telah selesai di bantu oleh satu pelayannya yang lucu Atun.


"Bu, kering kentangnya di masukkan ke wadah ini?" tanya Atun. Setelah mereka saling mengenal akrab Bella tidak ingin dipanggil Nyonya alasannya karena itu tidak sesuai dengan dirinya yang apa adanya. Alhasil para pelayan memanggilnya Ibu tetapi pada David tetap memanggil Tuan.


"Ya, sayur bihunnya juga di wadah yang seperti itu. Sambalnya tolong di taruh ke mangkuk kecil berbunga itu dan potongan telor sama timun pakai mangkuk kecil saja," perintah Bella. Dia lalu membuat susu dan kopi untuk anak dan suaminya yang masih berada di kamar. Setelah itu dia menaruhnya di atas nampan.

__ADS_1


"Mbak, kalau semua sudah tertata rapi di meja makan. Sisa nasi uduk itu di bawa saja ke belakang untuk mbak dan teman-teman yang lain, aku masak banyak kok," ujar Bella. Atun menganggukkan kepalanya. Bella lalu berjalan naik ke atas kamarnya.


"Ibu itu memang baik sering banget memasakkan makanan untuk para pegawainya, " gumam Atun sendiri. Sri yang sedang menyapu di belakangnya jadi penasaran apa yang sedang diomongkan oleh sahabatnya itu.


"Ngomong apa Tun?" tanya Sri.


"Ini Ibu baik banget pagi-pagi udah masak segini banyak buat semuanya," kata Atun.


Sri melihat ada ayam goreng, kering kentang, kacang goreng, sambal dan sayur bihun campur jamur hitam juga nasi uduk yang masih mengepul di dalam ceting terbuat dari anyaman bambu.


"Wah ... kelihatannya enak Tun," ujar Sri.


"Kamu kan tahu kalau Ibu memang jago memasak."


"Dah, bantu aku mengambil wadah-wadah di dapur belakang biar cepat selesai setelah itu kita pesta makan ama anak-anak lain." Atun lalu mendorong tubuh Sri keluar dapur khusus.


"Iya, nggak usah pakai dorong segala," ujar Sri cemberut.


"Kalau nggak begitu kamunya lelet sih, keburu Tuan datang kan g enak kitanya," balas Atun lagi.


Bella yang baru sampai di kamar sudah mendapati Cantik yang duduk dengan lesu di tempat tidur.


"Maaf Sayang, tadi Ibu di bawah menyiapkan sarapan untuk kita semua," kata Bella meletakkan baki di meja dan mengambil segelas susu besar untuk Cantik.


Cantik yang baru bangun langsung menerima susu itu dan meminumnya.


"Habiskan!" perintah Bella melihat Cantik enggan untuk meminumnya.


"Iya, Bu," jawab Cantik yang takut jika melihat mata Bella membesar.


"Ayah di mana, Bu?" tanya Cantik.


"Di kamar sebelah."


"Kok?" tanya Cantik.


"Ayah tidak ingin mengganggu tidurmu dia memilih tidur di kamar sebelah."

__ADS_1


"Kenapa Ibu tidak menaruh kopi itu di kamar Ayah!" Bella melihat ke arah kopi yang masih mengepul itu.


"Kau benar." Bella tersenyum lalu mengambil kopi itu dan berjalan ke kamar sebelah.


"Habiskan susunya!"


"Iya Bu," jawab Cantik sambil tersenyum licik.


"Jangan buang di toilet seperti kemarin!" ujar Bella. Cantik menggigit bibirnya sembari menggelengkan kepalanya.


"Jadilah anak yang manis," kata Bella sebelum sempat menghilang di balik pintu penghubung kamar.


Mata Cantik langsung melihat ke sebelahnya, dia mengambil bunga anggrek dari tempatnya dan menuangkan susu itu ke dalam vas lalu meletakkan kembali bunga anggrek ke tempat semula. Dan duduk tenang kembali sembari membasahi bibirnya dengan susu.


"Sudah habis susunya!" tanya Bella melihat gelas susu yang kosong. Matanya menatap curiga pada Cantik.


Cantik mendesah. "Ibu lihat sendiri kan? Dan aku tidak beranjak dari tempatku saat ini." Cantik memperlihatkan gelasnya.


"Anak yang pintar sekarang cepat bangun dari tempat tidur dan mandi bersama Mbak Lili, dia sedang membereskan mainanmu."


Cantik langsung bangun, berlari cepat sebelum Ibunya tahu kejadian tadi dan berteriak.


"Aku akan mandi dan turun ke bawah," kata Cantik sebelum keluar dari kamar. Bella menggelengkan kepala melihat kelakuannya.


Dia memang anak Sofi orang yang paling dibencinya tapi Cantik bersikap seolah dia adalah anak Bella. Tidak ada rasa canggung dan selalu bersikap manja terkadang nakal pula.


David datang dengan kopi di tangannya. Dia berjalan sembari menyeruput kopi. Melihat istrinya membenahi tempat tidur.


"Apakah kau ingin berendam. Kalau iya aku akan menyiapkan airnya," tanya Bellla.


"Tidak, jika tidak bersamamu," kata David tersenyum menggoda. Lesung di kedua pipinya terlihat jelas. Hal itu yang membuat dia berjuta kali lipat terlihat tampan di mata Bella.


"Sayangnya kau terlambat bangun dan aku sudah mandi," kata Bella mengambil gelas di sebelah nakas. David memeluk Bella dari belakang membuat wanita itu terkejut dan menyentuh vas bunga di sampingnya.


Tangan Bella berhasil meraihnya sebelum jatuh ke bawah namun dia terkejut melihat air berwarna putih mengenai tangannya.


"Cantik ... !!!" teriak Bella geram. David terkejut dan melepaskan pelukannya. Bella membalikkan tubuhnya.

__ADS_1


"Lihat, apa yang dilakukannya!" Bella memperlihatkan Vas bunga yang berisi air susu.


__ADS_2