Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Bukan Keluargamu


__ADS_3

"Apakah aku harus mengutarakan kecurigaan ku pada Cristian jika Cinta masih hamil anaknya ataukah aku harus membuktikannya dulu baru mengatakannya. Tinggal satu hari lagi waktu yang ku punya, apakah aku bisa membalikkan keadaan? " Diam memandang Cristian." Cinta kau memang harus kuberi pelajaran besok!" geram Aura dalam hati.


"Kau ikut ke rumah Ibu, besok. Itu jika kau mau tahu kebenarannya!" Aura berjalan keluar kamar Cristian.


"Apa maksudmu, Mom?" tanya Cristian penasaran.


"Kau ikut saja skenario yang Ibu buat nantinya, Dan ibu jamin hatimu akan tenang nantinya," jawab Aura menutup kamar Cristian membiarkannya tidur tenang malam ini.


***


Cinta keluar dari rumahnya dengan cara mengendap-endap di saat yang yang lain mulai sibuk mengurus urusan pernikahannya.


Dia memastikan diri tidak ada yang sadar dengan kepergiannya kali ini. Cinta memakai sweater panjang juga sebuah kerudung yang dia sematkan di kepalanya. Kali ini dia meminjam rok bawahan milik Mbok Jum yang kebesaran dan harus memakai ikat pinggang agar bisa dikenakan.


Dia rasa penampilannya yang tidak mencolok akan membuat orang tidak melihat ke arahnya Cinta berjalan cepat tatkala melewati para Satpam yang berjaga. Dia menundukkan wajahnya dan berjalan dengan langkah lebar.


Mobil milik ibunya melewati pintu gerbang. Cinta minggir dan pura-pura sedang mengambil suatu benda yang terjatuh.


Ibu tidak curiga karena mobil melewatinya begitu saja. Sesampainya di luar Cinta segera mencari tukang ojek yang dipesannya tadi sebelum meninggalkan rumah.


Tukang ojek menunggu persis di sebelah rumahnya. Cinta segera menghampiri.


"Kawasan Pondok Indah, Mang," ucap Cinta memberikan sebuah alamat pada tukang ojol.


"Ashiiap, Neng," jawab tukang ojol itu menyalakan mesin motornya.


"Wah, helmnya bau nggak nih?" tanya Cinta dengan nada bercanda. "Kalau bau, aku kurangin ongkosnya karena aku harus beli sampo buat cuci rambutku lagi."


"Neng bisa aja. Biasanya si Neng suka nambahin jika pesan ojek Mamang!" jawab Tukang Ojol itu. Tersenyum.


Motor segera melaju pesat menuju alamat yang dituju. Cinta turun dari kendaraan itu ketika sudah sampai di depan pintu gerbang rumah Aura.


"Mamang nunggu enengnya atau pergi?" tanya tukang ojol itu.


''Tunggu Mang, aku tanya terlebih dahulu pada Satpam." Cinta memanggil Satpam yang berjaga.

__ADS_1


''Tuan Cristian ada di rumah?" tanya Cinta. Dia hanya ingin memastikan dirinya tidak dijebak kali ini.


Satpam yang ditanya malah melihat ke belakang ke arah rumah.


"Pak!" panggil Cinta lagi.


"Tidak ada?" jawab Satpam itu. Dia ingat jika tadi nyonyanya berpesan jika ada seorang wanita masuk ke rumah jangan ada yang mengatakan jika Cristian ada di rumah ini.


Cinta mulai bernafas lega. Dia lalu meminta penjaga itu untuk membuka gerbang karena ada janji untuk bertemu dengan Aura.


Penjaga itu melihat penampilan Cinta dari bawah sampai atas yang berantakan dan kampungan. Apakah dia yang ditunggu Nyonya Aura? Pikir Satpam itu tidak yakin.


''Tunggu Nona biar saya bertanya pada Nyonya Aura terlebih dahulu," ucap Satpam itu. Dia langsung menyuruh temannya untuk bertanya pada Aura.


Sejenak Cinta memegang dahinya yang pusing. Dia tidak bisa tidur semalaman dan dia juga enggan untuk sarapan karena memikirkan masalah ini.


Dia menggelengkan kepalanya sejenak untuk mengusir rasa pusing yang menderanya.


"Ayo Nak, kita berjuang. Setelah besok kita akan menemui hidup yang baru," kata Cinta sembari menunduk mengelus perutnya. Dia tidak sadar jika ada CCTV yang memperlihatkan tingkahnya dari tadi.


"Apa tanggapanmu melihat gerakan Cinta tadi?" tanya Aura pada anaknya.


Cristian diam tapi dilihat dari sorot matanya terlihat jika dia mulai marah. Dia mengepalkan tangannya dan menggebrak meja.


"Aku akan bertanya padanya saat ini juga!"kata Cristian.


"Kau disini saja. Kedatanganmu malah akan membuatnya takut. Sebaiknya kau tetap bersembunyi hingga dia menceritakan sebab mengapa dia melakukan semua ini," ucap Aura.


Ctistian memandang ibunya.


"Kendalikan emosimu, pakai otakmu bukan perasaanmu!" ujar Aura lalu keluar meninggalkan Cristian dengan semua pemikirannya.


Aura menyambut kedatangan Cinta di depan pintu rumahnya. Kali ini dia bersikap dingin dan berwibawa di hadapan Cinta.


Mereka duduk berdua di sebuah kursi dari kayu. Kursi itu di buat dengan ukiran bunga matahari yang bagus dan menarik. Di tengah mereka ada sebuah meja bundar kecil dengan dua cangkir teh di atasnya. Sebuah vas dengan hiasan bunga anggrek bulan asli.

__ADS_1


"Wajahmu pucat Cinta! Apa kau sehat?'' tanya Aura.


''Keadaanku baik-baik saja, Tante. Kau tidak perlu khawatir," jawab Cinta menenggak teh hangat yang terasa nyaman di perutnya.


"Mengapa tante menyuruhku datang kemari?" tanya Cinta mencoba bersikap tenang. Dia meminum lagi tehnya serta menyapukan pandangannya ke semua sudut rumah dengan ekor matanya.


"Well, aku hanya ingin tahu alasanmu mengugurkan kandunganmu. Kau tahu hal iyu membuat pukulan berat bagi Cristian. Aku tidak suka melihat anakku terluka,'' tegas Aura.


Cinta tersenyum tipis dia menatap Aura.


"Hanya karena itu?" tanya Cinta. Aura menganggukkan kepalanya. "Kau yakin, Tante. aku curiga tante membawa Cristian kemari!" ucap Cinta membuat Aura terkejut.


"Aku bisa mencium aroma parfumnya dari sini dan aku yakin tebakanku pasti tidak salah," kata Cinta menatap ke salah satu ruangan yang tertutup tembok.


Aura tersenyum tipis dan hampir tidak terlihat?. Kebanyakan ibu hamil memang menyukai bau tubuh pasangannya dan dia mengenali walau jarak mereka jauh.


"Kau mungkin sangat merindukan Cristian hingga kau mencium aroma tubuhnya. Parfum suamiku dan Cristian satu produk dan tentu saja aromanya pun sama. Kau bisa memilikinya jika kau menginginkannya," jelas Aura.


"Mungkin!" jawab Cinta lemah. Yah, dia sangat merindukannya namun tidak bisa. Sejenak Cinta menghela nafasnya. Rasa pusing kembali menyerangnya. Dia mengerjapkan matanya berkali untuk menghalaunya.


"Kembali ke pertanyaan semula mengapa kau mengaborsi anakmu sendiri?"


"Karena anak itu akan menjadikan alasan Cristian untuk menyudutkan diriku dan aku tidak mau itu terjadi," jawab Cinta enteng.


"Bukankah Cristian mau bertanggung jawab atas kehamilanmu itu?"


"Dengan mengorbankan cinta kak Bella dan menghancurkan impiannya? Itu tidak mungkin kulakukan sampai kapan pun," balas Cinta.


"Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri apa kau tidak merasa hancur?" tanya Aura.


"Seperti yang Tante lihat, keadaanku baik-baik saja."


"Lalu mengapa kau menangis di kamar sendirian kemarin? Jika mereka keluarga yang menyayangimu mereka pasti tahu kesedihanmu dan mereka akan memelukmu."


Cinta terkejut dengan ucapan Aura yang seperti menikam hatinya kembali. Sekuat tenaga dia menahan dirinya agar tidak mengeluarkan air mata barang setetes pun.

__ADS_1


"Atau mereka bukan keluargamu Cinta?" tanya Aura membuat Cinta naik pitam.


__ADS_2