
"Haruskah aku mengatakan ini sekali lagi padamu! Jika aku benci menjadi alasan perpisahan antara kalian berdua," geram Bella.
"Ini semua bukan karenamu!"
"Sudah cukup rasa sakit yang kau lakukan padaku, jangan tambah lagi karena aku tidak sanggup menahannya," ucap Bella parau dan bergetar. Matanya menyiratkan kepedihan yang sangat dalam.
"Ambil putrimu ini, dia butuh sosok ibu disampingnya. Jangan pisahkan mereka!"
Bella lalu meletakkan pelan Cantik di pelukan David namun tangan Cantik memegang baju bagian dadanya erat.
"Dia bahkan tidak mau berpisah darimu!" ujar David.
"Dia hanya mengira aku ini ibunya pada kenyataannya aku wanita yang menyebabkan luka di hati ibunya. Tinggalkan aku dan hiduplah berbahagia dengan istrimu!" ujar Bella menarik lembut tangan Cantik dari bajunya.
"Tidakkah aku masih punya satu kesempatan lagi untuk memperbaiki segalanya?" tanya David penuh harap.
"Aku membencimu tepat di mana kau tidak ada di sampingku sewaktu aku kehilangan anakku. Dan dengan kejamnya kau menuduhku yang menghabisi anakku! Jangan coba-coba kau datang lagi dalam hidupku!" ujar Bella meraih tasnya dan pergi dengan kepala tegak mengungkapkan David sendiri bersama anaknya.
Tidak lama kemudian pelayan datang membawa pesanan.
"Di mana para wanita yang memesan makanan ini?" tanya pelayan itu bingung.
David mengambil dompet di di saku celananya dan menyerahkan sebuah kartu berwarna hitam pada wanita itu.
"Bayar saja dan bawa makanan itu kembali, kau boleh membawanya pulang atau makan bersama teman-temanmu."
Pelayan itu terlihat gembira dan membawa kartu itu untuk membayar makanan itu.
Bella sendiri dalam keadaan kacau. Dia pergi ke tempat parkiran masuk ke mobil dan mulai melajukan kendaraannya ke jalanan ibu kota. Dia mengarahkan mobilnya ke apartemen pribadi miliknya. Apartemen yang jarang sekali dia injak masuk ke dalam karena itu hadiah dari David untuknya. Tapi entah mengapa dia ingin pergi lagi ke sana kali ini?
Sepanjang perjalanan dia memikirkan kembali kata-kata David. Tidakkah dia bisa punya sedikit hati untuk tahu apa yang dia rasakan.Luka yang mendalam yang dia torehkan selama mereka bersama. Bukan karena sifat atau perlakuan buruknya. Tapi lebih karena statusnya dia yang hanya sebagai istri simpanan layaknya wanita murahan yang dipelihara pria kaya. Dia hanya dijadikan pemuas nafsunya saja. Pikir Bella.
__ADS_1
Sesampainya di depan unit apartemen mewah itu tangan Bella mulai memencet sandi kunci apartemen. Namun selalu gagal, hingga dia putus asa dan membalikkan tubuhnya.
"27 Febuari, tanggal pernikahan kita, itu sandinya,'' kata David tepat dihadapannya. Dia menyerahkan Cantik pada pengasuhnya dan pergi mengikuti Bella setelah di beritahu oleh anak buahnya jika Bella sedang menuju jalan apartemen miliknya.
"Keparat!" erang Bella. "Bisakah aku memiliki privasi sendiri atas hidupku. Aku lelah selalu kau awasi!" teriak Bella kesal.
"Setelah empat tahun kau menghilang tanpa kabar dan aku baru menemukanmu sekarang! Haruskah aku melepaskanmu lagi!" ucap David dengan nada penuh emosi.
"Aku benci dirimu pergilah jauh dariku!" kata Bella berjalan pergi dari melewati David.
"Jika kau benci diriku, kau tidak akan pulang ke rumah kita!" ucap David meraih lengan Bella kuat hingga dia meringis kesakitan.
"Aku kira ini sudah diberikan padaku! Tapi jika kau tidak ikhlas memberikan ini sebagai hadiah, ya sudah aku kembalikan lagi padamu! Toh, sertifikat itu masih ada di lemari kamar."
"Kau terlalu banyak bicara!" ucap David menarik cepat tubuh Bella dan menciumnya paksa. Perempuan itu memberontak tapi David tidak melepaskannya hingga dia terdiam dan tenang.
Bella memukul lengan David berkali-kali dan mencoba mendorong pria itu kuat-kuat namun tenaganya serasa tidak apa-apanya di banding dengan kekuatan yang David miliki. Hingga wanita itu menggigit bibir David kencang sehingga rasa amis terasa di mulutnya. David melepaskan ciuman itu.
"Ku kira kau lebih tahu aku daripada orang lain jadi aku tidak akan membiarkanmu lepas kali ini!" ujar David. Lalu mengangkat tubuh Bella dan masuk ke dalam apartemennya. Dia lalu berjalan menuju kamarnya.
David melemparkan tubuh Bella ke tempat tidur dengan keras sehingga tubuh itu memantul di kasur lembut milik mereka.
Bella duduk mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Semuanya masih sama. Interior dan peletakan barang-barang itu masih sama di tempatnya bahkan tidak berubah dan bergeser sedikitpun.
"Kau ingin apa? Bukankah perpisahan ini baik bagi kita. Kau bisa hidup damai dengan keluargamu." Ada rasa sakit di hatinya ketika mengucapkan itu.
"Dan aku sudah mengakui bahwa aku yang membunuh anak kita!" ucap Bella serak setengah ingin menangis.
"Pada kenyataan kemarahanku tidak sebesar rasa cintaku. Aku sadar jika aku sendiri tidak bisa hidup tanpamu di sisiku!" kata David setengah mendesah.
Bella tersenyum sinis. "Apa artinya itu jika kau sendiri tidak percaya padaku!"
__ADS_1
"Aku lelah dengan semua ini. Butuh keberanian lebih untuk bisa kembali ke sini dan beraktifitas seperti dahulu tapi kau malah mencoba menghancurkan segalanya," imbuhnya.
"Aku ingin merajut kembali kebersamaan denganmu, ku mohon kembalilah padaku!" ucap David penuh pengharapan. Bella tahu ada ketulusan dari kata-katanya dan matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam.
"Se ... mua sudah terlambat," jawab Bella dengan suara tersendat karena tangisnya. Dia mengusap air matanya tapi David dengan cepat mendekat dan mengusapnya.
"Aku yang membuat luka ini biarkan aku yang menyembuhkannya," ucap pria itu. Darah Bella membeku, dia hanya terdiam duduk di tempatnya. David memeluknya erat.
"Aku tahu kau juga masih mencintaiku."
"Apa artinya cinta bila tanpa kepercayaan. Kau bahkan menyembunyikan kehidupanmu dariku. Tidak pernah sekalipun kau ceritakan masalahmu, apa yang kau sukai dan tidak kau sukai. Kau hanya datang untuk memuaskan nafsumu lalu pergi ketika kau sudah puas!" ucap Bella getir.
David memejamkan matanya, untuk pertama kalinya sebagai seorang pria dia menangis di hadapan wanita dalam pelukan Bella. Memperlihatkan kerapuhannya.
"Maaf jika itu melukaimu, aku hanya ingin melindungimu dari rasa sakit dan membuatmu nyaman. Tapi itu malah membuatmu terluka!"
"Kau bahkan tidak mau mendengarkan penjelasan ku tentang ... dan kau malah meneriaki dan menyalahkanku di saat aku sendiri sedang membutuhkan pelukanmu," tubuh Bella bergetar hebat.
"Aku sudah tahu semuanya kini,"
"Karena itu kau baru mencariku setelah beberapa tahun berlalu!"
"Kau yang bersembunyi dariku!"
"Aku depresi dan butuh pengobatan dari psikiater untuk waktu yang lama," terang Bella.
David terhenyak dan menarik bahu Bella menghadap ke arahnya.
"Ceritakan semuanya yang aku tidak ketahui dari awal kita menjalani pernikahan ini. Apa yang terjadi, perasaanmu dan segala hal yang ingin kau katakan tentang masa lalu kita agar aku mengerti di mana semua letak kesalahanku karena aku tidak ingin mengulangnya!"
"Dengan syarat ceritakan semua tentang Sofi dan kau juga keluarga mu, yang aku tidak ketahui," ucap Bella mantap.
__ADS_1
"Setelah itu biarkan aku tenang dengan hidupku!" tawar Bella.
"Jika aku melakukan banyak sekali kesalahan, aku akan mencoba lagi dari awal tanpa memaksamu. Aku akan membuatmu jatuh cinta lagi padaku."