Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Pagi yang Buruk


__ADS_3

Bella memandang korden putih transparant yang menari-nari dalam di gerakkan oleh hembusan angin. Kamar ini indah dan bagus estetik, dan afeksi cinta David padanya terpatri jelas dalam setiap barang ada.


Semua barang itu adalah milik mereka berdua yang ada di apartemen. Pernak pernik hasil wisata mereka yang mereka bawa dari luar negeri. Buddy bear, syal dari Spanyol yang tergantung di dinding, miniatur menara Eiffel dan keramik dari Cina. Di meja rias juga ada berbagai kosmetik dan parfum yang selalu dipakainya dulu.


Dan parfum bekas miliknya yang David belikan di Italia masih ada di sini. Walau sudah berkurang tapi masih terlihat apik.


Tempat tidurnya berukuran besar yang lembut. Dia atasnya ada bingkai fotonya dan David yang saling berpelukan dan tertawa.


Warna kamar ini di cat sesuai warna kesukaannya abu-abu dan putih yang berpadu jadi satu. Bella berjalan keluar lobby. Dia melihat langsung pemandangan kolam renang dan taman di sampingnya. Ini seperti rumah impian yang mereka rencanakan konsepnya dari dulu. Bella mendesah.


Dia duduk di kursi ayunan yang lebar. Lama-lama membaringkan tubuhnya dengan cara memeluk kakinya.


Bayangan hitam masa lalu tidak mudah untuk dia lupakan. David tidak bisa egois dengan mengurungnya dan meminta maaf semudah itu. Ini tidak adil untuknya. Dia sendirian dan kesepian sedangkan pria itu selamanya hidup bersama istri dan anaknya. Sebetulnya dia bisa membentuk hidup yang bahagia hanya saja dia tidak pernah bersyukur dan selalu mementingkan dirinya sendiri.


Bella menyentuh perutnya sendiri. Andaikan anaknya masih ada mungkin dia tidak akan kesepian seperti ini. Tanpa terasa buliran air mata lolos dari matanya. Dia membiarkan nya saja.


Dia marah pada takdir yang selalu tidak adil padanya dia marah pada dirinya sendiri yang selalu terlihat lemah tidak seperti Cinta yang berani mengemukakan apa yang dia mau. Dia marah pada David yang menghina dirinya dan dia marah pada orang tuanya yang membiarkan pria itu membawanya pergi dari rumahnya sendiri.


Lelah berfikir serta sapuan angin malam yang membelai wajahnya membuat Bella tertidur


David sendiri hanya bisa melihat Bella dari CCTV yang dipasang di semua sudut kamar untuk mengetahui apa yang Bella lakukan nantinya. Dia tidak ingin melepaskan pandangannya dari wanita itu. Mereka sangat dekat hanya terhalang oleh tembok ini tapi terasa jauh karena Bella seperti tidak tersentuh samasekali. Dia tidak akan menyerah.


Setelah memastikan wanita itu telah tertidur nyenyak di kursi balkon kamar. David lalu masuk melalui pintu penghubung kamarnya dan kamar Bella. Dia berjalan ke arah balkon dengan sangat hati-hati takut jika membuat wanita itu terbangun.


Hati David mendesir sakit ketika melihat jejak tangis di pelupuk mata Bella. Dia bersimpuh di depan wanita itu lalu mengecup pelan air mata itu.


"Tidak akan kubiarkan engkau menangis lagi, Sayang!"

__ADS_1


Dia rindu aroma ini, bau buah-buahan yang bercampur dengan harum bunga di kebun bunga milik ibunya, parfum yang biasa Bella gunakan. Terasa segar dan lembut.


Dengan sangat lembut dan hati-hati sekali David mengangkat tubuh Bella. Wanita itu bergerak memasukkan wajahnya ke dada David membuat sesuatu dalam dirinya bergejolak. Wanita ini bisa membangkitkan gairahnya tanpa melakukan apapun.


David meletakkan Bella di ranjang dengan sangat pelan layaknya barang yang mudah pecah. Dia lalu menyelimutinya. Walau dirinya sangat ingin menyentuh wanita ini namun David menahan dirinya sendiri. Dia ingin Bella sendiri yang datang padanya dengan keikhlasan dan penyerahan diri sepenuhnya.


"Aku sangat mencintaimu, Dewiku," bisik David di telinga Bella sebelum mengecupnya lembut.


Bella sendiri mendengar ucapan itu samar-samar dia terlalu larut dalam mimpinya.


David menyelimuti Bella. Menutup pintu balkon dan menutup tirainya. Dia lalu masuk kembali ke kamarnya. Dia harus mandi malam kali ini.


Pagi harinya Bella terbangun oleh suara anak yang berteriak marah. Dia langsung duduk dan mengerjapkan matanya.


"Aku mau ayah yang menyisir rambutku. Jika tidak, aku tidak mau di sisiri." Suara itu terdengar lantang.


"Tapi Nona jangan masuk ke kamar ini!" kata pelayan itu.


"Ibu, kau kah itu?" tanya Cantik. Bella terkejut mendengar panggilan Cantik. Mengapa anak ini menyebutnya dengan panggilan Ibu?


Mata anak itu berbinar bahagia. Dia lalu berlari naik ke atas tempat tidur dan duduk bersimpuh di depan Bella.


"Ibu kau kah itu yang menyelamatkanku di mall kemarin? Itu fotomu kan?" tanya Cantik menunjukkan foto di atasnya.


Bella mengangguk bingung. Cantik langsung memeluknya erat.


"Ayah tidak bohong akan membawamu padaku," kata Cantik. Bella masih tetap terpaku masih enggan untuk memeluk balas anak Sofi. Wanita yang mungkin menjadi satu-satunya tersangka kasus pelenyapan janin dalam kandungannya.

__ADS_1


"Kau sangat cantik, sama seperti yang ayah ceritakan. Aku sudah menunggumu selama ini,. Ayah bilang kau akan menemaniku bermain dan menemaniku kemanapun aku inginkan, kau akan menyayangiku dan mencintaiku," imbuh Cantik membuat Bella terpaku.


"Ini drama apalagi?" kata Bella kesal. Dia lalu menjauhkan tubuh Cantik darinya.


"Aku bukan ibumu, ibumu itu bernama Sofi jadi pergi saja padanya?" kata Bella sembari menunjuk keluar kamar. Dia seperti melihat diri Sofi ada dalam wajah anak itu.


Mata polos Cantik membelalak seketika memerah, ketakutan. Dia mundur, menangis dan turun dari tempat tidurnya. Di saat yang sama David masuk ke dalam kamar Bella.


Cantik memeluk kaki ayahnya sembari menangis berlinang air mata.


"Ayah kau bohong katamu Ibu adalah ibu yang baik. Tapi dia sama seperti bunda. Dia membentakku!" adu Cantik pada ayahnya dengan tersedu-sedu. David memandang Bella.


Bella terkesiap mendengar penuturan Cantik. Dia tidak menyangka jika Cantik akan sangat terluka seperti itu. Dia kira ini hanya akal-akalan David untuk mendekatinya lagi.


"Mengapa kau mencari ayah?" tanya David bersimpuh dengan satu kaki dan mengusap air mata di pipi Cantik.


"Aku ingin ayah yang mengucir rambutku," jawab Cantik tersengal-sengal. Dia menoleh ke arah Bella lalu memeluk ayahnya ketakutan.


"Aku tidak mau bersama Ibu jika dia memarahiku," ucap Cantik membuat Bella merasa bersalah. Tapi dia masih enggan untuk mendekati anak itu.


"Kalau begitu kita ke kamarmu saja," David menggendong Cantik dan keluar dari kamar itu.


"Pagi yang berat akan kulalui mulai saat ini," batin Bella. Dia tidak ingin memberi kesempatan pada David untuk memberi maaf.


***


Likenya dong!!!

__ADS_1


Vote yang belum yah


komentarnya


__ADS_2