
Cristian segera ke kamar Calesta setelah berbincang sejenak dengan ayahnya. Dia terkejut melihat Cinta sudah duduk menyuapi makan Calesta. Cepat sekali dia memasak bubur itu? batin Cristian.
Dia mulai masuk dan melihat interaksi antara ibu dan anak itu. Calesta terlihat riang ketika ibunya ada di dekatnya. Dia banyak bercerita dan tertawa. Sangat berbeda ketika tidak ada Cinta dia selalu terlihat murung dan tidak ingin berbicara dengan siapapun.
"Mommie kau tahu Sigit itu nakal sekali suka menggoda Yuyun, dia suka menarik rambutnya," cerita Calesta.
"Oh, ya!" jawab Cinta sembari menyuapi Calesta dengan sabar.
"Bahkan pernah Sigit menyembunyikan sepatu Yuyun. Waktu itu aku sampai marah dan membentak Sigit, akhirnya aku dan dia bertarung eh berantem," kata Calesta sembari menggigit.
"Kau bertarung dengan teman priamu?"tanya Cinta. Calesta dengan ragu menganggukkan kepalanya.
"Kau menang atau kalah?" tanya Cinta.
"Aku menginjak kakinya keras hingga menangis dia,"jawab Calesta.
"Bagus, itu baru anak Mommie. Kau harus membela orang yang lemah."
Calesta sejenak heran mendengar perkataan Mommie-nya. Dia kira akan mendapatkan Omelan dari Cinta tapi ternyata tidak dia malah didukung.
"Aku sayang sekali pada Mommie" ucap Calesta memeluk Cinta.
__ADS_1
"Mommie juga sayang Calesta," jawab Cinta.
"Calesta tidak sayang papa?" tanya Cristian.
"Calesta sayang papa hanya saj papa nakal tidak memperbolehkan Calesta menemui Mommie, Calesta marah dengan papa," ucap Calesta sembari memalingkan wajahnya kesal. Cristian tersenyum kecut melihat hal itu.
"Kau tidak boleh seperti itu, sayang. Bukankah kau dulu ingin bertemu papa, sekarang sudah bertemu malah seperti itu. Mommie tidak suka!" ujar Cinta pura-pura mengambek.
Calesta lalu melihat ke arah Cinta, bergantian ke arah Cristian yang terlihat sedih.
"Papa jangan marah lagi pada Mommie kalau tidak aku marah, aku tidak mau lagi melihat Papa lagi kalau Papa seperti itu,'' kata Calesta.
"Papa janji tidak akan marah lagi dengan Mommie," kata Cristian. Cinta melihat ke arah Cristian.
"Kalau begitu Papa harus peluk Mommie. Itu sebagai pertanda Papa sayang dengan Mommie," kata Calesta.
"Calesta!" panggil Cinta tidak suka.
"Kenapa Mommie, Papa Mama Yuyun selalu berpelukan sayang. Kenapa Papa dan Mommie tidak bisa?" tanya Calesta tidak mengerti.
"Calesta mereka itu ... ," Cinta terdiam ketika tubuhnya dipeluk oleh Cristian. Dia terkejut dan diam terpaku untuk sejenak. Sebuah kecupan dilayangkan di pucuk kepalanya.
__ADS_1
Hatinya merasa sangat trenyuh, tanpa terasa satu buliran air mata menetes yang langsung dia seka. Walau ini hanya sandiwara namun dia sangat gembira.
"Kau lihat kami baik-baik saja, kau punya orang tua lengkap seperti temanmu," kata Cristian.
Calesta tersenyum lebar lalu berdiri dan memeluk kedua orang tuanya bersamaan.
"Kini aku punya Papa dan Mommie seperti teman-teman yang lainnya. Aku ingin cepat pulang dan bersekolah agar bisa mengenalkan Papaku pada teman-teman satu sekolah. Mereka pasti iri melihat Papaku tampan sekali," celoteh Calesta.
Calesta terlihat sudah sehat dalam waktu sekejap saja. Dia kini sudah membersihkan diri dan bersiap untuk tidur.
"Mommie aku takut jika aku tertidur, kau akan pergi jika aku bangun nanti. Aku takut jika ini hanya sebuah mimpi indah," ucap polos Calesta.
"Mommie tidak akan pergi, Mommie akan menemanimu terus sepanjang malam."
''Kita akan tidur bersama seperti kemarin?" tanya Calesta. Cinta menganggukkan kepalanya.
''Bersama papa?" Cinta beralih melihat ke arah Cristian.
"Kita berdua saja biar Papa tidur di kamarnya," jawab Cinta.
"Papa selalu menemaniku di sini?" jawab Calesta.
__ADS_1