Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Rindu Kamu


__ADS_3

Rasa cemas dan khawatir tiba-tiba hadir dalam diri Dara. Ada sesuatu yang salah namun apa dia tidak tahu. Dia mengambil sebotol air mineral dan mulai membuka tutup botolnya.


"Dara ... ." suara Kris tiba-tiba terdengar membuatnya yang sedang meminum air tersedak dan terbatuk-batuk.


"Ada apa Dara?" tanya Savitri.


"Tidak apa-apa mungkin karena sedikit terguncang," ujar Dara. Pikiran Dara langsung tertuju pada Kris. Dia berharap semoga di manapun pria itu berada dia dalam keadaan baik-baik saja.


Dara menghela nafas sembari memegang dadanya. Ingatannya kembali pada sosok Kris ketika terakhir kebersamaan mereka di kediamannya.


"Dara, sebutlah aku pria yang egois karena aku tidak ingin kau pergi dari sini, dari hidupku," ujar Kris.


"Kenapa?" Dara memiringkan kepalanya menatap Kris.


"Aku tidak tahu, membayangkannya saja sudah terasa sakit untukku," ujar Kris. Dara tersenyum dalam tangisnya.


"Maukah kau memelukku," ucap Dara.


Kris merentangkan tangan dan memeluk tubuh Dara. Dara hanya bisa menangis dalam pelukan pria itu.


"Tetaplah tinggal di sini walau apapun yang terjadi," gumam Kris mengusap punggung Dara.


Hati Dara bersedih bila mengingat saat terakhir itu. Andaikata dia tidak pergi mungkin dia akan tetap bersama Kris dan bersama calon anak mereka. Tetapi kembali lagi, tawaran Kris untuk menjadikan dia hanya sebagai yang kedua itu menyadarkannya jika dia tidak cukup berharga untuk Kris perjuangkan. Ambisi pria itu adalah menjadi pria yang sukses dan Dara memahaminya. Level tertinggi dari mencintai adalah bahagia melihat senyuman dari orang yang dicintai walau bukan dengan dirinya sendiri.


Nafas Dara terasa sesak. Dia menarik nafas panjang untuk mengisi paru-parunya yang kurang pasokan oksigen.


"Ada apa Dara?" tanya Ray. Dara menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.


"Aku tidak apa-apa hanya merindukan Kris saja, tapi aku bisa mengatasi kerinduan ini karena ada Kris kecil di sini," batin Dara tersenyum sendiri sembari mengusap perutnya.


Ray yang melihat tingkah Dara, lalu menautkan kedua alisnya. "Tingkah Dara seperti orang yang sedang hamil saja.'' Batinnya.

__ADS_1


"Sebaiknya kita beristirahat di rumah makan terdekat," kata Ray.


"Ide bagus, Bibik juga perlu meluruskan kaki Bibik yang mulai pegal."


Mereka lalu menepikan kendaraan mereka di sebuah restoran Sunda dengan pemandangan yang ditata seperti di sebuah pedesaan.


Mereka lebih memilih duduk di tempat lesehan agar bisa meluruskan kaki yang sudah mulai terasa pegal. Seorang pelayan datang untuk memberikan menu yang ada di restoran itu. Dara sendiri ikut apa yang mereka pesan karena dia bukan tipikal orang yang pemilih dalam hal makan. Hanya saja kehamilan ini sering membuatnya muntah secara berlebihan.


Dara lalu membuka pesan di handphone yang dari tadi dimatikannya. Sebuah pesan dari M-bangking mulai masuk ke dalam handphone miliknya.


Kris terlihat mengiriminya uang dua puluh juta ke rekeningnya lagi. Sesuatu yang biasa dia lakukan setiap bulan, walau mereka telah berpisah. Hanya bulan kemarin saja pria itu tidak mengiriminya uang. Mungkin karena dia marah melihatnya dan Ray bersama.


Bagaimana bisa dia melupakan sosoknya jika dia masih begitu perhatian padanya. Namun, Dara tidak pernah memakai uang itu. Baginya itu adalah uang calon anak mereka dan akan dia tabung untuk kebutuhan anaknya kelak. Entah sampai kapan Kris akan mengiriminya uang lagi, Dara juga tidak tahu.


"Kris aku rindu," ujar Dara dalam hati hatinya mendesir sakit bagai diiris sebilah pisau jika teringat pria itu.


"Hei kalian, lihat ini!" kata Savitri.


"Kalian tahu dimana ini?" ujar Savitri.


"Di dekat jalan utama rumah kita. Grup arisan PKK yang mengirimi ini," ujar Savitri. Dia terlihat memegang dadanya dan melihat kembali video itu.


"Aku berharap siapapun dia selamat dari kejadian itu."


"Kondisi mobilnya saja separah itu apakah dia bisa selamat?" lanjut Ray.


"Maka dari itu kita harus berdoa yang baik-baik untuknya."


Dara lalu kembali teringat pada Kris semoga pria itu dalam keadaan baik-baik saja dan tidak ada hal yang buruk menimpanya. Do'a Dara dalam hati.


"Lihat jam yang tertera, pukul empat sore, berarti kejadian itu tidak lama setelah kita pergi," seru Savitri.

__ADS_1


Savitri lalu melihat video itu bolak-balik, seolah dia merasa kenal dengan pria itu. Dia sangat miris melihat kondisi korban itu. Biasanya dia paling malas melihat kecelakaan tetapi hatinya merasa tergerak untuk memperhatikannya terus-terusan. Ada sesuatu yang membuat hatinya tidak bisa berhenti menatap korban itu.


Mereka lalu meneruskan perjalanan panjang itu lagi setelah merasa kenyang dan sudah cukup untuk melepaskan lelah. Dara duduk tenang sembari membuka internet mencari info tentang rumah kontrakan yang sedang disewakan. Dia menemukan rumah kontrakan yang dia inginkan dan menghubungi penjualnya. Niatnya mereka akan melihat kondisi rumah itu terlebih dahulu jika layak untuk digunakan mereka akan langsung mengambilnya jika tidak mereka akan pergi ke hotel terdekat saja.


Akhirnya mereka sampai di wilayah Condet, Jakarta timur. Mencari rumah yang akan dituju setelah menghubungi pemilik tempat kontrakan sebelumnya dan temu janji di lokasi itu. Padahal waktu sudah malam pukul delapan lebih.


Jika ke lokasi apartemen Kris akan memakan waktu lebih lama lagi mungkin dua jam lebih. Dara memilih lokasi ini karena dia pernah hidup di daerah ini lama dan sempat satu kamar kost dengan Maria. Sedikit banyak dia tahu bagaimana daerah ini.


"Kita berhenti beberapa ruko dari sini. Lihat itu sepertinya yang ada pria berpakaian muslim dan memakai kopyah," ujar Dara menunjuk pada seorang pria yang letaknya tidak jauh dari mobil mereka.


Ray lalu menghentikan mobil itu tepat di depan pria itu.


"Pak Samsudin?" tanya Dara ketika membuka kaca mobil.


"Iya, Neng!" jawab pria itu. "Apa Neng yang akan mengontrak ruko ini?" tanya pria itu. Dara menganggukkan kepalanya. Mereka lalu keluar dari mobil itu dan mulai melihat keadaan ruko.


Ini adalah kawasan rumah padat penduduk. Di sana mereka menyewa sebuah rumah sederhana dengan ruko yang berada tepat di bawahnya. Ruko itu kecil dan sedikit tidak terawat karena lama tidak digunakan tetapi terletak di kawasan strategis.


Bu Savitri terlihat setuju tinggal di tempat itu walau menurutnya harga kontrak ruko itu sangat tinggi. Namun Dara mengatakan jika pasaran di daerah ini memang sebesar itu.


"Biar aku yang membayarnya Bu," kata Dara.


"Biar aku saja Dara," tolak Savitri.


"Tapi Bu," ujar Dara keberatan. Tangan Savitri di letakkan di atas tangan Dara.


"Gunakan uang itu untuk persalinanmu nanti,"


Ray yang mendengar pembicaraan mereka berdua, langsung membuka mulutnya lebar karena terkejut. Dara langsung menabok ringan tangan tangan Savitri yang keceplosan.


Savitri melirik ke arah Ray, lalu menundukkan kepalanya dan tersenyum ke arah Ray.

__ADS_1


"Bibik bisa jelaskan nanti," ujar Savitri tenang menepuk pundak Ray. Pria itu lalu menatap Dara dengan pandangan mata yang menyiratkan kekecewaan dan kemarahan.


__ADS_2