Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Permasalahan Berat


__ADS_3

"Maria! Semua tidak seperti pikiranmu!" seru Natalia.


"Ini rumahku dan kamarku tidak seharusnya kau bersikap tidak sopan, keluar!" usir Maria pada Natalia.


"Bukan maksudku seperti itu, aku hanya ingin berbicara padamu beri aku sedikit waktu."


"Waktu, cukup banyak waktu yang telah kau buang dahulu tetapi kau tidak pernah kembali untuk menemui putri kecilmu jadi anggap dia sudah mati!"


Maria menarik nafas tangisnya turun seketika.


"Aku bisa saja memaafkanmu tetapi rasanya terdengar tidak adil bagi ayahku jika aku melakukannya. Ayah hidup menderita karena kau untuk itu aku berharap kau pun akan merasakan apa yang ayah rasakan hingga akhir hidupnya. Penderitaan tanpa ujung," ucap Maria lirih di bagian akhir.


"Maria," panggil Natalia dengan lemah. Netranya terlihat berkaca-kaca tidak percaya dengan apa yang dilihatnya kini. Dia sudah mengira jika Maria akan mengatakan hal keji yang menyakitkan tetapi tetap saja itu terasa sakit untuknya.


"Maria, mungkin bagimu aku adalah wanita yang buruk tetapi jauh di dalam hatiku aku sangat merindukanmu," kata Natalia.


"Hentikan leluconmu! Kau hidup baik-baik saja selama ini. Kau bahkan telah menikah setelah meninggalkan ayah. Kau juga tidak terlihat membutuhkan aku sebagai anakmu." Maria tertawa sinis dalam tangisnya ,"Kau bahkan tidak langsung memelukku ketika Ale mengatakan jika aku anakmu ... ,itu membuktikan jika kau tidak mencintaiku."


"Waktu itu aku ha ... ."


"Natalia ... ada apa ini? Sayang kau kenapa?" Alehandro mendekati Maria yang terlihat menangis. Dia memeluknya.


"Usir dia, jangan pernah masukkan dia ke rumah ini lagi!" pinta Maria


"Aku hanya datang untuk meminta maaf," ucap Natalia lalu membalikkan tubuh dan pergi dari tempat itu seraya menyeka air matanya.

__ADS_1


Tubuh Maria bergetar karena menangis. Hatinya terlalu sakit untuk menerima kehadiran Natalia. Baginya Natalia adalah sosok ibu dan istri yang kejam karena telah meninggalkan dia saat masih balita dan ayahnya. Dia sudah menunggu wanita itu datang hingga ayahnya meninggal dunia. Tetapi, tidak sekalipun wanita yang ingin dia panggil ibu itu datang ke rumah hingga harapannya ikut mati bersama kepergian ayahnya. Rasa kecewa, marah, dan benci membaur menjadi satu.


Apalagi ketika melihat pertama kali wanita itu bertingkah genit pada suaminya.Dia menjadi menganggap wanita itu tidak layak untuk mendapatkan sebutan ibu bagi dirinya. Wanita itu bukan seperti sosok ibu yang dia inginkan. Penuh kasih sayang seperti Mom Lusi.


"Sayang, tenanglah!" ujar Alehandro.


"Kenapa kau bawa dia kemari?" tanya Maria dalam dekapan Alehandro.


"Karena dia ibumu, aku tidak ingin melihatmu berdosa karena telah berbuat jahat pada ibumu, dengan tidak mengakuinya," terang Alehandro.


"Lalu apakah seorang ibu boleh berbuat jahat pada anaknya?" tanya Maria balik.


"Maria kau sedang mengandung. Kau akan jadi seorang ibu. Ada baiknya kau bersikap baik pula pada ibumu," jelas Alehandro.


Maria melepaskan pelukannya pada Alehandro.


"Sayang ... ."


"Lebih baik aku pergi jika kau memaksaku melakukan hal yang tidak mungkin aku lakukan!"


"Kau tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini. Apa saja yang kualami. Dia dengan mudah datang dan meminta maaf seolah semuanya baik-baik saja. Padahal ," Maria duduk di pinggiran tempat tidur dan terisak.


"Padahal aku melewati banyak penderitaan sendiri, kesepian dan merasa menjadi anak yang tidak diharapkan oleh ibunya. Kau tidak merasakannya karena kau mempunyai ibu yang baik. Sedangkan aku ... aku hanya hidup dengan ayahku yang sakit-sakitan, sosok ibu hanya sebuah mimpi bagiku hingga aku lelah untuk menunggunya pulang dan rasa lelah itu berubah menjadi benci karena kekecewaan yang kurasakan."


"Maria ," Alehandro ingin memeluk Maria namun wanita itu merenggangkan tangan tanpa mau melihat pria itu.

__ADS_1


"Jangan dekati aku jika kau hanya ingin membela wanita itu."


"Baiklah mungkin kau butuh waktu untuk sendiri, aku akan meninggalkanmu sebentar ke bawah untuk menemui Cristian yang mau berpamitan. Kau sebaiknya di sini saja menenangkan pikiranmu setelah semua selesai aku ingin kita bicarakan masalah ini lagi."


Alehandro lalu keluar dari kamar. Tubuh Maria lemas dia lalu membaringkan tubuh dan menangis.


Sesampainya di luar kamar Alehandro mendapatkan panggilan dari Kris.


"Iya Kris," jawab Alehandro.


"Maaf Tuan aku tidak menggantikanmu di rapat nanti," kata Kris dengan suara bergetar.


"Mengapa?"


"Ada masalah pribadi yang tidak bisa saya sampaikan," lanjut pria itu.


"Ya, sudah aku akan berangkat ke kantor untuk menghadiri rapat. Seharusnya kau bisa menghubungiku sebelumnya jangan mendadak seperti ini!" gerutu Alehandro.


"Saya juga tidak tahu akan ada kejadian. Saya sungguh meminta maaf," ucap Kris.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Toh selama kau bekerja kau telah melakukan semuanya dengan baik dan soal pengunduran dirimu sedang aku proses. Kau bisa berhenti bekerja setelah aku menemukan penggantimu," kata Alehandro.


"Terima kasih banyak, Tuan."


Alehandro lalu mematikan sambungan telephon itu.

__ADS_1


Hari yang berat dia lakukan hari ini. Semoga semua permasalahan ini akan cepat selesai nantinya. Alehandro memijat keningnya yang sudah mulai terasa pening.


"Maria aku hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu dan anak kita karena penolakan mu terhadap ibu yang telah melahirkan mu!" gumam lirih Alehandro melihat Maria dari luar kamar.


__ADS_2