
Maria dan Dara menyewa kamar di sebuah kos-kosan kecil di daerah gubeng, Surabaya. Kamar mereka saling bersebelahan satu sama lain. Dara sendiri adalah anak yatim piatu sehingga dia merasa senasib dengan Dara dari mereka saling berteman di SMU dulu. Jika Maria masih sempat mengenyam pendidikan di Universitas Dara tidak setelah SMU dia mulai bekerja menjadi pelayan toko. Oleh sebab itu, Maria kabur dan minta tolong dirinya untuk mencari pekerjaan. Hanya Dara, seorang yang bisa dia andalkan.
Dara dan Maria bekerja di salah satu restoran mewah sebagai pelayan. Setiap harinya mereka sangat giat bekerja walau pekerjaan itu mereka lakukan dari jam tujuh pagi hingga jam tujuh malam tidak membuat mereka gentar. Bagi mereka asal bisa makan dan bayar kos itu sudah cukup jika lebih bisa buat beli baju di pasar sembari jalan-jalan.
"Sebentar lagi ruang pertemuan akan digunakan karena akan ada yang mengadakan rapat di sini. Dara, Satria dan Kemal bagian membersihkan ruangan dan Bella dan Arum bagian dekorasi. Ruang harus sudah siap setengah jam lagi karena acara akan diadakan satu jam dari sekarang tepatnya pada pukul sembilan nanti.''
" Baik, Pak!" jawab mereka semua. Maria larut dalam pekerjaannya hingga lupa jika dia belum makan pagi dan minum segelas air.
Semalam sesudah menonton TV dengan Dara Maria langsung kembali ke kamarnya. Entah mengapa dia teringat akan Alehandro yang membuatnya susah untuk tidur. Pagi harinya dia bangun kesiangan sehingga tidak sempat untuk sarapan bubur ayam langganan nya.
Satu jam kemudian semua tamu sudah duduk di kursi yang tersedia. Maria bertugas memberi para tamu minuman dan snack. Dia lalu membawa baki besar berisi snack dan minuman sedangkan Dara yang membagikannya.
Seorang pembawa acara memulai acara tersebut, semua orang mulai mendengarkan dengan khidmat. Rupanya ini adalah rapat tentang rencana pembuatan resort dan Hotel di daerah Malang. Pemimpin rapat sendiri belum hadir untuk saat ini.
Terdengar derap langkah beberapa orang mulai mendekati pintu masuk. Maria yang sedang sibuk melayani para tamu tidak melihatnya. Fokusnya hanya membagikan dus snack dan minuman pada setiap tamu.
Alehandro berjalan masuk ke dalam ruang rapat yang diadakan di salah satu restauran ternama di Surabaya. Dia akan memperluas usahanya di bidang perhotelan di Malang. Dia menarik beberapa orang yang berkaitan dengan proyek pembangunan untuk melakukan rapat tentang rencananya itu.
Alehandro dengan percaya diri masuk ke dalam ruang rapat. Tiba-tiba bau harum khas Maria menyeruak ke hidungnya. Dia pikir itu hanya halusinasi nya saja. Maria tidak mungkin berada di tempat ini.
Tetapi ketika melihat sosok kurus yang memakai seragam pelayan yang membelakangi nya membuat Alehandro terkejut. Seperti penampakan Maria dan rambut ikal itu seperti rambut Maria. Alehandro tetap menuju kursinya yang berada di podium. Tetapi kilasan wajah Maria membuat dia yakin bahwa wanita itu yang dia cari selama ini.
__ADS_1
"Rupanya tikus kecil ini bersembunyi di sini." batin Alehandro. Dia tetap santai seperti tidak mengenal wanita itu.
Maria yang melihat ada pemimpin acara masuk menundukkan wajah ketika pria itu melewatinya bersama para ajudan. Dia tidak sadar bahwa pria itu adalah suaminya sendiri.
"Sok, tidak kenal," batin Alehandro kesal melewati Maria.
"Ini dia Tamu kehormatan yang kita tunggu dari tadi, Tuan Alehandro Martin Shancez," teriak pembawa acara membuat kaki Maria bergetar seketika. Dia menengadah dan melihat jika Alehandro suaminya yang sedang berjabat tangan dengan pembawa acaranya. Maria menelan salivanya dalam-dalam. Dia gugup dan panik seketika. Dia membalikkan badan tetapi malah baki di tangannya menabrak Dara yang sama panik dengannya.
Prang! Suara baki yang jatuh dan dus anak yang berceceran menjadi pemandangan yang tidak enak dalam acara ini. Maria dan Dara saling memandang seolah mengatakan bahwa pria itu ada di sana dan ini masalah gawat bagi Maria tapi tidak untuk Dara.
"Cepat pulang saja dan pergi dari sini secepatnya!" bisik Dara. Maria menatapnya lalu berdiri dan keluar dari ruangan itu dengan cepat sedangkan Dara membereskan kekacauan yang sudah ada.
"Apa yang kau lakukan Maria mengapa kau mengacaukan acara ini? Reputasi nama Restauran kita bisa hancur seketika. Dan itu semua gara-gara kau!'' tuding manager restauran melihat kekacauan yang Maria buat.
Sial! Bayarannya akan keluar hari esok dan dia membuat kekacauan bisa-bisa dia tidak memperoleh uang sepeser pun nantinya. Rutuk Maria dalam hati. Pria itu mengapa bisa berada d tempat ini. Apakah dia akan mengejarnya lagi atau tidak , setelah apa yang dia lakukan beberapa bulan lalu.
Maria terus melangkah keluar. Rumah kos-kosannya terletak dua blok dari tempat ini hanya butuh berjalan sepuluh menit dari tempat kerjanya hingga sampai ke tempat tinggalnya.
Tidak ada akses mobil masuk ke kos-kosan sederhana itu karena terletak di dalam gang sempit.
"Lho Dek Maria kok tumben pulang lebih awal?"
__ADS_1
sapa sang pemilik Kos pada Maria.
"Iya ini Bu, kepala saya terasa sedikit pusing jadi saya ijin untuk pulang terlebih dahulu." Maria menjawab sambil memegamg pelipisnya yang memang berdenyut sedari tadi.
"Wajah Dek Maria juga pucat. Apa perlu saya bantu kerokin biar enakkan?" tawar pemilik kos yang ramah dan baik itu. Dia senang dengan kehadiran Maria dan Dara yang menyewa kamar kosnya. Mereka berdua rajin bersih-bersih sehingga kos-kosannya terlihat lebih terawat.
"Tidak usah Bu, saya hanya mau istirahat saja di kamar." Maria lalu berjalan menuju kamarnya.
"Minum angin-angin, Dek, biar enteng," seru pemilik kos.
"Iya Bu," teriak Maria dari depan kamarnya.
Maria lalu memutar kunci kamar dan lalu membuka pintu kamar setelah itu dia masuk ke dalam.
Kamar ini hanya berukuran tiga kali tiga meter dengan satu jendela besar menghadap ke teras. Terdapat satu kasur busa berukuran single yang tergeletak di lantai dengan seprai bercorak bunga besar. Satu buah lemari yang berisi sedikit bajunya dan satu buah meja kecil tempat laptopnya berada.
Selain bekerja sebagai pelayan restauran Maria
juga bekerja sebagai penulis online. Pemasukannya ini bisa dia pakai untuk menambah penghasilannya selama ini.
Maria membuang tasnya secara sembarang. Dia lalu tidur telungkup di kasurnya dan menangisi nasibnya. Dia tidak bisa meminta tolong pada Cristian lagi untuk membantunya karena merasa sungkan. Pria itu tidak punya ikatan darah dengannya tetapi sudah banyak membantunya selama ini. Dia malu pada Cristian karena kabur setelah menikah dengan Alehandro.
__ADS_1
Tiba-tiba dia merindukan ayahnya yang telah tiada.
"Ayah aku sendiri sekarang! Aku membutuhkanmu saat ini. Sangat membutuhkanmu!" ucap Maria lirih.