
"Jika pernikahan kalian tidak sehat, mengapa kau tidak menceraikannya?" tanya Bella.
David tersenyum kecut. "Karena Sofi baru saja kehilangan ayahnya ketika ketahuan selingkuh dan dia hidup sendiri. Sedangkan ayahnya berpesan sebelum meninggal dunia agar aku memaafkannya dan selalu menemaninya. Kami mencoba memperbaiki semuanya," ucap David dia menghela nafas panjang.
"Kami berniat menjalani program bayi tabung. Mengambil beberapa indung telur Sofi dan spermaku, menyimpannya. Kami melakukannya agar hubungan kami membaik setelah mempunyai anak. Program bayi tabung pertama gagal karena Sofi tidak sabar, dia pergi ke kantor padahal saat itu dia harus bedrest total. Setelah itu hubungan kami renggang. Kami sering bertengkar Sofi dengan semua kesibukannya sebagai wakil President perusahaan telephon seluler terkenal dan aku sibuk dengan perusahaanku. Hingga akhirnya Sofi jenuh dan pulang kembali ke rumah orang tuanya. Setelah beberapa bulan dia membawa kabar berita tentang kehamilannya."
"Dan kau tidak bisa meninggalkannya karena kondisi kehamilannya yang rentan?" tanya Bella.
David menatap Bella. "Ya!" Dia lalu mengusap pipi Bella yang seputih dan sehalus porselen.
"Aku ingin kau hamil anak kita, anak yang benar-benar di buat dengan rasa cinta bukan keegoisan semata," kata David.
"David, aku belum siap!" jawab Bella.
"Kenapa?" tanya David dengan penuh rasa kekecewaan.
"Aku perlu waktu untuk memahami ini semua. Untuk memahami perasaanmu, perasaanku dan situasi kita," ujar Bella.
David menyentuh perut Bella.
"Bagaimana jika dia sudah ada di sini?" tanya David.
"Aku ... tidak tahu, aku tidak mengharapkannya benar-benar terjadi," jawab Bella.
"Jangan coba-coba untuk menggugurkannya!" ancam David marah.
"Aku, tidak akan tega melakukannya. Jika itu memang terjadi," jawab Bella lirih. Dia tidak tahu perasaannya saat ini. Sedih atau senang setelah mendengar cerita David.
Mereka saling terdiam untuk sejenak. Larut dalam pikiran masing-masing.
"David, apakah kau masih mempunyai orang tua?" tanya Bella tiba-tiba.
"Ya, mereka menghabiskan masa tua mereka di Sulawesi, kampung halaman ibu. Sedangkan ayah aslinya dari Inggris," ucap David.
"Pantas kau tidak pernah bercerita tentang mereka atau berniat mengunjungi mereka jika mereka masih ada di Jakarta."
"Setiap bulan mereka pulang ke kediaman kami di Pondok Indah. Mereka sangat bahagia ketika mengunjungi Sofi, kemarin," ucap David getir.
"Karena itu kau pulang lebih awal untuk melakukan pemeriksaan dan...,"
__ADS_1
"Bertemu orang tuaku. Mereka sangat menyayanginya karena ayah dan ibu tidak punya anak perempuan, mereka menganggap Sofi seperti putri mereka sendiri. Selain itu dia adalah anak dari kawan karib ayah."
Entah mengapa Bella begitu iri pada Sofi. Jika Sofi menantu kesayangan keluarga David maka dirinya akan di depak dari kehidupan David jika orang tua David tahu hubungan ini. Bella sudah bisa memastikannya.
"Karena itu kau tidak bisa bercerita tentang kondisi rumah tanggamu, karena takut ayah dan ibumu kecewa?"
"Ya, ayah mengidap penyakit jantung. Aku tidak bisa bercerita hal mengerikan ini pada mereka," David tersenyum kecut.
Bella teringat akan kondisi Aura yang sakit setelah terkena serangan jantung. Dia bisa memahami perasaan David.
"Apakah kau punya saudara kandung?"
"Mengapa kau bertanya tentang keluargaku?" tanya David.
"Aku hanya ingin mengenalmu, itu saja!" jawab Bella.
"Aku anak bungsu dari dua kakak lelakiku. Mereka ada di luar negeri semuanya. Hanya pulang jika ayah dan ibu memanggil."
David memeluk Bella erat, seperti ingin memberi ketenangan pada wanitanya.
"Maaf jika aku tidak bisa mengenalkan mu pada keluargaku. Terus terang aku juga bingung dengan keadaan kita saat ini. Aku tidak ingin kau pergi menjeratmu dalam hidupmu, tapi situasi tidak mendukung," terang David. Bella hanya terdiam.
"Aku cukup tahu diri, David."
"Aku sudah mendaftarkan pernikahan kita di KUA agar kau resmi jadi istriku," ucap David membuat Bella terkejut. Dia lalu duduk menghadap David.
"Mengapa kau lakukan itu?" tanya Bella marah.
"Bukankah kau tadi bertanya bagaimana statusmu dan bagaimana nasib anakku nantinya?"
Bella menarik rambutnya ke belakang.
"Aku tidak tahu harus berkata apa, ini ... ini ... semuanya sulit. Kau memasukkan ku ke dalam suatu masalah yang pelik."
"Aku mencintaimu Bella, aku tidak ingin kehilangan dirimu," ucap David dia ingin meraih tangan Bella namun Bella menepisnya.
"Ini konyol!"
"Kenapa?''
__ADS_1
"Bisakah kau tahu situasiku saat ini. Aku bahkan tidak punya harga diri samasekali. Bagaimana jika ayah dan ibumu tahu tentangku? Mereka pasti akan jijik padaku karena mengira aku wanita murahan yang menjual diriku kepadamu!"
''Apapun yang nantinya akan terjadi aku harap kau tidak akan meninggalkanku? Ku mohon! Ini suatu permintaan, dari hatiku," pinta David dengan suara memelas. Dia terdengar putus asa kali ini."
Tubuh Bella melemas, dia sudah tidak tahu lagi harus bagaimana?
"Ini akan mudah jika aku tidak hamil!" ucap Bella tanpa sadar.
"Biarkan dia ada untuk kita," kata David.
"Aku benci dengan situasi ini. Aku ingin pergi menjauh dan lari sejauh mungkin.Namun, kau menjeratku begitu erat."
"Jangan coba kau lakukan itu karena aku akan mencarimu di manapun kau berada. Aku tidak akan membiarkan satu orangpun memilikimu selain diriku, kau hanya milikku Bella!" ucap David penuh emosi.
Bella tersenyum, memeluk David. Membuat pria itu terkejut.
"Bukankah kau sedang marah? Kenapa malah kini memelukku? Wanita itu memang membingungkan."
Tangan Bella bergerak di tengkuk David menyisir rambut bagian bawahnya.
"Aku suka kau yang posesif dan marah ketika aku mengatakan ingin pergi. Aku suka melihat raut wajah keputusasaanmu itu. Itu memperlihatkan bahwa hatimu benar-benar takut kehilanganku. Aku ragu dengan ucapan cintamu tapi melihat ekspresi dari tadi, aku sadar jika aku sangat berharga untukmu," kata Bella, membuat David lega.
"Bella jangan kau ragukan cintaku ini," kata David dengan suara bergetar. Itu terdengar sangat dalam.
"Maaf, jika aku meragukanmu karena aku tidak begitu mengenalmu. Ini semua terasa cepat untukku," balas Bella. Dia meneteskan air matanya.
"Apa kau akan berjuang untuk hubungan kita ke depannya? Aku tidak ingin menjadi istri dibalik layar saja."
"Itu perlu waktu, Bella. Tapi aku berjanji akan tetap bersamamu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu atau melepaskanmu," kata David.
"Jangan lepaskan aku, sekali saja kau lakukan itu, kau takkan pernah bisa mendapatkanku lagi!" kata Bella.
"Itu tidak akan pernah kulakukan!" jawab David.
"Kita tidak tahu bagaimana mempermainkan kita David!" balas Bella.
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu karena kau adalah nafasku, sejenak saja hidup tanpamu terasa sesak untukku. Kau itu hidupku, jiwaku dan hatiku semuanya milikmu!"
Bella mengeratkan pelukannya pada David. Air matanya menetes karena terharu. Baru kali ini dia merasakan cinta seorang pria yang besar untuknya.
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu tapi aku takut jika kau pergi meninggalkanku sendiri," bisik Bella membuat jantung David berhenti berdetak untuk sesaat.