
"Itu untuk membalut luka, Sayang. Ayahmu sedikit terluka di bagian perutnya jadi harus di tutup perban itu agar tidak terkena kuman dan terinfeksi." Dokter yang baru masuk ke dalam ruangan berusaha menerangkan luka David pada Cantik.
"Luka? Ayah terluka kenapa? Besar? Pasti sakit sekali ya, Yah. Kalau kecil cuma pakai plaster. Pantas ayah masih di rumah sakit karena sakit. Dan Ibu menemani ayah kan?" tanya Cantik tanpa titik koma membuat semua orang tersenyum.
"Ayah hanya luka sedikit karena terjatuh sebentar lagi juga Ayah sembuh dan pulang ke rumah. Tapi Ayah pinjam Ibu untuk menemani Ayah di sini!" terang David.
Cantik mengerucutkan bibirnya kesal. "Aku juga rindu Ibu, masa Ibu harus sama Ayah terus. Trus kapan Ibu main ma aku?"
Bella yang gemas akhirnya mencubit dua pipi Cantik lalu menciumnya.
"Ibu juga rindu main sama Cantik. Tapi Ayah butuh Ibu di sini, sekarang kita keluar dulu. Temani Ibu makan, Ayah biar di temani oleh Dokter," kata Bella. "Aku keluar menemani Cantik, biar kau di periksa oleh Dokter. Nanti aku akan kembali lagi."
__ADS_1
David menganggukkan kepalanya. Bella lalu keluar dari ruangan. Sedangkan para orang tua menunggu Dokter memeriksa keadaan David.
"Wajah anda berseri-seri dan terlihat sudah sehat dari yang seharusnya. Luka Anda juga terlihat bagus tidak banyak darah yang merembes keluar. Tekanan darah stabil, kemungkinan besar Anda akan cepat pulih jika keadaan stabil seperti ini." Dokter lalu menuliskan sesuatu di bukunya. Dokter itu lalu menutup bukunya.
"Saya turut senang melihat keadaan Anda dan saya juga salut mendengar cerita tentang Anda. Anda terluka demi menyelamatkan istri Anda, seperti sebuah cerita cinta di film dan kini saya melihatnya langsung."
"Saya hanya tidak ingin melihatnya terluka dan saya akan melakukan apapun untuk memastikan dia dalam keadaan baik-baik saja," ucap David.
"Ya, Dokter saya akan mengingatkannya tentang hal itu," kata Riska membuat David terkejut. Dia melihat ke arah Riska. Mertuanya wanitanya itu adalah orang yang paling tidak suka dengannya. Bahkan selama dia bersama Bella mertuanya ini tidak pernah berbicara padanya satu katapun hanya beberapa kalimat kemarahan ketika Bella keguguran dulu. Lalu kini dia mau menunggunya di sini. Ini suatu keajaiban.
Riska melihat ke arah David dan pada akhirnya mata mereka saling bertatapan. Naura lalu mendekat ke arah Riska dan memeluknya.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu aku akan menemui pasien lainnya." Dokter itu akhirnya keluar dari ruangan ini.
"Terima kasih Jeng, beberapa hari ini kau yang merawat anak dan menantuku dengan baik. Aku sangat berterima kasih pada Tuhan karena David memiliki kau dan Bella dalam hidupnya. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi, setelah semua kepedihan ini akhirnya anak bungsu ku mendapatkan kebahagiaannya." Naura menangis terharu.
"Aku juga berterima kasih padamu karena pengertiannya. Aku jadi tenang di rumah karena percaya ada orang yang mengurus anak dan menantuku di sini dengan baik," sela Tuan Robby.
"Dia juga seperti anakku. Aku hanya menjalankan tugas sebagai orang tua. Kebahagiaan Bella adalah kebahagiaanku dan Bella akan bahagia jika bersama David," Riska menatap David tajam. Seolah kata-katanya itu menekankan padanya untuk membahagiakan Bella mulai saat ini. Dia tidak ingin melihat David melukai anaknya lagi.
"Tentu saja David akan melakukan apapun untuk kebahagiaannya. Dia bahkan rela mempertaruhkan nyawanya agar Bella selamat," kata Naura.
"Ya, dia sudah membuktikan cintanya," ucap Riska dingin.
__ADS_1