
"Kenapa kau tidak menanyakannya?" desak Riska.
Bella tenggorokannya terasa tercekat. Bella bingung untuk mengatakan alasannya. Dia tidak mungkin mengatakan David sedang merayunya lagi dan dia takut akan takluk termakan oleh kata-kata serta terhipnotis oleh pandangan matanya.
"Ibu, aku sudah tidak nyaman di dekatnya dan aku ingin cepat pergi darinya sejauh mungkin."
Terdengar nafas lega dari Riska. Dia takut jika Bella termakan omongan manis David yang dapat melelehkan lawan bicaranya. Entah susuk apa yang di milikinya. Setiap kali pria itu bicara maka lawannya dengan antusias akan mengiyakan apa yang dikatakan pria itu. Dia punya daya tarik besar yang bisa membuat terpesona semua orang. Tidak terkecuali lawan bisnisnya.
"Ibu aku lelah. Bisakah aku sendiri dulu untuk beristirahat," pinta Bella.
"Ya, sudah tidurlah."
Riska tidak mau memaksa Bella bercerita lebih banyak tentang pertemuannya dengan David. Instingnya mengatakan ada hal lain yang belum Bella ceritakan.
Riska lalu keluar dan menutup pintu membiarkan Bella menyendiri di kamar.
***
Keesokan harinya saat semua orang di rumah keluarga Cristian sedang keluar sehingga hanya ada Cinta dan Ibu mertuanya yang sedang di terapi oleh Cinta sendiri.
Cinta dan Aura duduk di kursi sofa panjang. Mereka duduk saling berhadapan, Aura duduk berselonjor dan Cinta duduk bersila.
Satu kaki Aura di tekuk lalu di diluruskan lagi. Bergantian.
"Ini hitungan ke dua puluh, Bu," ucap Cinta.
"Sudah Cinta, kau bisa lelah nanti," ucap Aura dengan pelan dan terbata-bata juga cadel. Tapi itu termasuk kemajuan luar biasa. Tadinya dia tidak bisa bicara sama sekali. Berkat kegigihan dari Cinta dia bisa berdiri berpegang dengan pegangan dari besi yang di tempelkan langsung ke tembok.
"Nyonya Muda ada Tuan David di luar ingin bertemu Nyonya," kata pelayan yang baru masuk.
"Suruh saja dia masuk."
Pelayan itu langsung undur diri. Tidak lama dia membawa David masuk ke dalam rumah.
"Sudah lama sekali kau tidak datang David?" sapa Aura. David tersenyum meraih tangan keriput Aura dan mencium punggungnya sebagai tanda hormat. Cinta tersenyum sembari mengelap keringat di kaki Aura.
__ADS_1
"Aku sibuk mengurus cantik dan pekerjaanku," jawab David.
"Lalu di mana Sofi?" tanya Aura.
"Dia dan aku dalam proses perceraian, sudah enam bulan lamanya proses ini berlangsung dan belum ada titik temu. Dia ingin tetap menjadi istriku," terang David.
"Lalu kenapa kau menolak?" tanya Aura.
"Karena dia telah melewati batas kesabaranmu. Tadinya aku masih bertahan demi Cantik tapi sifatnya sulit untuk di rubah. Sehingga aku memutuskan untuk menceraikannya," jawab David memandang Cinta.
Cinta pernah bertemu Sofi sekali dan wanita itu melabrak Cinta habis-habisan karena di kira ingin merebut David darinya. Dia tidak salah menuduhnya karena pada saat itu dia sedang berada di rumah David hingga berhari-hari lamanya.
"Jika sudah tidak bisa diperbaiki untuk apa di satukan karena hanya akan menyakiti keduanya. Apalagi jika sering bertengkar itu tidak baik bagi psikologi anak," imbuh Cinta.
David menganggukkan kepalanya. Tidak lama kemudian pelayan membawakan kopi untuk David dan jus jeruk untuk Cinta.
"Minum kopinya, Kak David," ucap Cinta. Dia dari awal ingin menghargai pria ini yang umurnya jauh lebih tua darinya.
"Terima kasih," David menyesap kopinya.
"Apakah semua baik-baik saja?" tanya Cinta.
"Tidak baik, dia bahkan tidak mau mendengarkan penjelasan ku," kata David.
"Itu wajar dilakukan Kakak. Jika aku tidak punya hutang budi padamu, aku juga enggan untuk mempertemukan kalian," kata Cinta.
"Aku tahu kesalahanku begitu besar dan tidak bisa dimaafkan. Tapi aku ingin memperbaikinya. Kau tahu sendiri bagaimana menderitanya hidup tanpa orang yang kita kasihi dan cintai," balas David. Cinta menghembuskan nafas keras.
"Ini tidak mudah," ujar Cinta.
"Aku tahu itu."
"Jika antara aku dan Cristian hanya ada kesalah pahaman semata. Jika kau dan kakak tidak ada fondasi cinta yang kuat belum lagi masalah Sofi yang sulit untuk diatasi. Aku heran bagaimana kau bisa tahan dengan wanita seegois itu selama sepuluh tahun."
David menghela nafas keras.
__ADS_1
"Awalnya aku hanya berpikir menikah hanya sebuah status. Aku bisa mencari kesenangan di tempat lain. Setelah aku bertemu Bella dan menikahinya aku baru tahu apa itu rasanya memiliki sepenuhnya dan aku juga baru merasakan bagaimana senangnya menjadi raja di keluarga." Cinta menyipitkan matanya menatap tajam David.
"Bukan aku ingin bersikap semena-mena tapi lebih kepada bagaimana cara Bella melayaniku, memenuhi kebutuhanku, menganggap pendapatku adalah yang terbaik sehingga aku merasa dihargai sebagai seorang lelaki, dan dia terlihat sangat membutuhkanku di setiap kesempatan. Satu hal yang paling aku rindukan dia menyerahkan jiwa dan raganya hanya untukku, dia berani melawan semuanya asal aku selalu ada." David terdiam menunduk.
"Namun aku mengecewakannya dan menuduhnya telah menggugurkan janin yang dikandungnya. Itu tuduhan kejam dan aku mengakui kesalahanku," ucap David serak dan bergetar terdengar penuh penyesalan.
"Aku berusaha mencarinya kemana pun dia pergi, hingga ke Singapura, mencari namanya di setiap apartemen yang ada di sana. Tapi dia begitu pintar menyembunyikan diri."
"Kau sangat mencintainya?" tanya Cinta.
"Sangat, bahkan aku tidak bisa menutup mataku tanpa melihat fotonya terlebih dahulu. Aku merindukannya, hingga nafasku terasa sesak di buatnya. Aku berfikir jika aku akan mati karena terlalu merindukannya," tutur David melihat Cinta dengan mata yang memerah.
"Lalu bagaimana Cantik? Bukankah dia juga butuh ibu?" tanya Cinta.
"Kau tahu kan penyakit bipolar yang di derita oleh Sofi. Jika aku tidak bisa menjauhkannya dari Cantik bisa-bisa dia terluka ketika penyakit Sofi kambuh."
"Ya, aku pernah melihat Cantik dicubit ibunya hingga membiru hanya karena Sofi melihatku bermain dengannya. Dan dia meracau tidak jelas," imbuh Cinta.
"Ya, itu juga salah satu alasanku tidak menceraikan Sofi dulu, berfikir jika dia seperti itu karena tekanan yang dia rasakan dan itu semua penyebabnya adalah aku." David mengatupkan kedua bibirnya sejenak.
"Kenapa kini kau menyerah?" tanya Cinta.
"Karena dia tidak ingin sembuh. Satu tahun setelah Cantik lahir dia kembali bersikap sama seperti dulu. Penggila kerja sehingga sering meninggalkan Cantik. Aku sudah mencoba untuk mengingatkannya dia malah marah dan memaki diriku. Aku bukannya menyerah, aku hanya menunggu Bella pulang untuk bisa kembali bersamanya dan juga Cantik sangat membutuhkan sosok ibu yang hangat seperti Bella," David mengambil kopinya dan meminum. Tenggorokannya terasa kering menceritakan masalah keluarga yang dia pendam selama ini.
"Bagaimana jika Bella sangat membencimu dan tidak akan memaafkanmu. Atau bagaimana jika dia punya pria lain selain dirimu?"
"Uhuk!" David tersedak dan menyemburkan kopinya.
Cinta tertawa keras.
"Sungguh Kak David, jika aku jadi Kak Bella aku tidak akan memaafkanmu semudah itu. Aku lebih baik bersama pria lain yang single dan hanya mencintaiku," terang Cinta.
***
Hari Senin Vote yah!!! Satu lagi kalau Vote ada 15 orang.
__ADS_1
Jangan pelit like lho... sodaqoh tanpa bayar