Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Salah dan Tidak Mau Mengalah


__ADS_3

Bukan hal mudah bagi Kris untuk merelakan kepergian Dara. Pria itu duduk termenung tanpa mau, melihat ke arah istrinya.


"Maaf aku sungguh tidak tahu."


"Aku sudah memintamu dengan baik agar kau mau menerimanya. Namun, kau malah mengatakan hal yang menyakitkan. Bagaimana jika dia pergi dan membawa anakku!" kata Kris dengan nada meninggi.


"Kau menyalahkan aku seolah aku yang bersalah dalam hal ini. Seharusnya kau bisa berkaca pada dirimu sendiri. Jika kau memang mencintainya dan ingin hidup bersama dia dan calon anak kalian seharusnya kau membiarkan aku pergi. Bukannya mencegah seolah memberi sebuah harapan palsu untukku!" seru Sheila tidak kalah tinggi.


Savitri yang melihat pertengkaran dua orang ini hanya menghela nafasnya. Selama beberapa bulan hidup bersama Dara tidak sekalipun anak itu menyela pembicaraannya dan selalu bersikap sopan. Namun, semuanya sudah terjadi mau tidak mau dia harus menerima istri dari Kris itu.


"Lalu mau kalian itu apa?" tanya Savitri membuat dua orang itu terdiam seketika.


"Aku tidak tahu keinginan dia, Bu. Tetapi aku sangat menyesali perkataanmu tadi. Dari awal sudah kukatakan jika aku tidak mau dimadu."


"Kris apa yang kau inginkan?" tanya Savitri.


"Sebagai pria kau harus tegas dan memegang prinsip. Tanya dalam hatimu apa yang kau inginkan. Istrimu tidak ingin di madu dan Dara tidak ingin menjadi duri dalam pernikahan kalian. Namun, dia punya anakmu dalam perutnya yang sebentar lagi akan keluar yang akan membutuhkan nama ayahnya dan butuh kehadiranmu sebagai ayahnya," kata Savitri.


"Ibu ini memang terdengar egois tetapi salahkah jika aku ingin keduanya dalam hidup ini. Jika aku di suruh memilih aku tidak tahu harus memilih yang mana."


"Kris kau tidak bisa egois," ucap Sheila hidungnya sudah mengembang kempis dari tadi.

__ADS_1


"Sheila semua ini terasa berat untukku juga. Maka dari itu aku mohon agar kau mau mengerti keadaanku dengan memberikan aku sedikit waktu untuk berpikir setidaknya hingga anak itu lahir," pinta Kris. Sheila terdiam nampak berpikir.


"Hingga sampai anak itu lahir kau harus memberikan keputusan!" ujar Sheila dengan menghapus cairan yang keluar dari hidungnya.


"Aku berjanji akan memberi keputusan setah anak itu lahir," ucap Kris.


"Lalu bagaimana dengan Dara? Ibu tidak mungkin meninggalkan dia sendiri di ruko itu. Dia sedang hamil besar."


"Ibu kita sudah lama terpisah dan aku ingin bersamamu, maukah ibu tinggal bersamaku," ingin Kris.


"Baiklah, Dara akan tinggal di sini," kata Sheila mengalah. Tetapi setelah ini aku minta agar kau memberikan keputusan, aku tidak mau nasibku di gantung.


"Baik."


Mereka bertiga akhirnya pergi mencari Dara ke rumah toko. Ketika sampai di sana mereka terkejut mendapati rumah toko itu masih tertutup rapat padahal hari sudah gelap.


"Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya?" tanya Savitri khawatir.


"Ibu tenanglah kita akan mencarinya," ujar Kris. Mereka lalu memutari jalan yang mereka lewati tadi berharap bisa menemukan Dara. Namun, mereka tidak menemukannya.


Hati Kris sudah tidak karuan, Savitri malah terlihat cemas sedari tadi. Sheila tambah merasa tidak enak dan merasa bersalah.

__ADS_1


Dia bersalah karena mengusir wanita yang sedang hamil. Dia marah tapi tidak sekejam itu untuk membiarkan wanita hamil besar hidup terlantar di jalanan.


"Atau sesuatu yang buruk terjadi padanya? Coba Kris kita datangi semua rumah sakit di daerah ini!" perintah Savitri.


"Sheila kita cari di rumah sakit sekitar sini atau klinik bersalin. Ibu benar mungkin hal buruk bisa saja terjadi padanya," kata Kris.


Mereka pun mencari di semua Rumah sakit di daerah mereka.


Kris menarik rambutnya ke belakang dengan keras. Lalu menutup kedua matanya dengan tangan. Menutupi tangis yang hampir keluar.


Dia takut sesuatu yang buruk terjadi pada Dara.


Ini adalah rumah sakit terakhir yang mereka kunjungi dan harapan itu masih ada untuk menemukan sosok Dara.


Pintu mobil mulai terbuka dan Sheila masuk ke dalam ruang kemudi.


"Bagaimana!" tanya Kris.


"Di sini tidak ada pasien yang hamil dengan nama Dara," jawab Sheila.


Kris meninju Dashboard mobil. "Jika saja kau bisa menahan diri semua ini tidak akan terjadi. Jika sesuatu terjadi pada anakku aku tidak akan memaafkan dirimu Sheila!" tunjuk Kris geram.

__ADS_1


"Aku yang salah wo ... ho... aku juga sudah berbaik hati mencari madu suamiku dengan mengelilingi kota ini dan aku juga sudah keluar masuk rumah sakit untuk menemukannya! Apakah itu belum cukup untukmu?'' jawab Sheila berang.


"Sudah ... sudah sebaiknya kita kembali dulu menenangkan pikiran dan mencari Dara lagi besok!" ucap Savitri menengahi pertengkaran anak dan menantunya ini. Dua duanya sama sama salah dan tidak ada yang mau mengalah.


__ADS_2