
Rencana Dara hari ini adalah mencari sebuah ruko yang murah namun strategis. Dia ingin membuka warung makan yang nyaman seperti sebuah cafe, enak tapi dengan harga terjangkau. Dia sudah berbicara dengan Maria sebelum mengeksekusi rencana ini. Selain sebagai warung dia juga akan tinggal di sana. Rencana yang cukup matang dan sepertinya menyenangkan.
Dia terbangun di kursi sofa yang empuk. Dia semalam tertidur ketika menonton drama Korea yang menguras emosi. Tetapi siapa yang mematikan layar televisi dan mengapa dia memakai selimut? Apa Tuan Sempurna itu telah kembali dari Surabaya? Jika iya mengapa dia tidak mendengar kepulangannya?
Mungkin saja dia yang lupa. Akhirnya Dara bangkit melipat selimutnya dan membawa ke kamarnya. Ketika dia melewati depan kamar Kris dia sebenarnya ingin membuka kamar itu dan melihat apakah pria itu berada dalam kamarnya. Tetapi dia tidak berani akhirnya dia mencoba mencuri dengar lewat dinding pintu. Tidak ada suara. Dara mengangkat bahunya mungkin pria itu memang belum pulang, dia lalu mulai berjalan kembali ke kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Kris.
Setelah membersihkan diri, dia turun ke bawah, membuat sarapan pagi berupa nasi goreng cornet yang lezat tetapi sebelum itu dia membuat secangkir kopi hitam kesukaannya.
Dara yang asik memasak tidak sadar jika ada seseorang berdiri di belakangnya karena telinganya terpasang earphone yang memutar lagu dangdut kesayangannya dan bersenandung merdu. Dia melakukan sedikit goyangan sembari mengolah masakannya.
Los Dol, ndang lanjut lehmu WhatsApp-an
Cek paket datane yen entek tak tukokne
Tenan, dek, elingo, yen mantan nakokno-
Kabarmu, tandane iku ora rindu
Nanging kangen keringet bareng awakmu
Nanging kangen keringet bareng awakmu.
Kris menukik satu alisnya ketika melihat Dara melakukan goyang itiknya sedangkan dia hanya memakai atasan tank top dan celana hotpants.Dia lalu duduk di meja bar dapur menghadap ke arah Dara, mengambil gelas cangkir itu dan mulai meminumnya menikmati konser gratis di rumahnya.
Dara sedang berbalik membawa wajan teflon yang panas terkejut ketika melihat Kris duduk di depannya.
"Ya Tuhan," pekik Dara seperti melihat hantu. Dia memegang dadanya.
"Kau sudah pulang? Mengapa tidak memberitahuku?" tanya Dara. Dia lalu ke arah rak dan mengambil piring meletakkan nasi itu ke piring tadi.
__ADS_1
"Apakah harus? Toh aku pemilik rumah ini dan kau juga bukan istriku!" ujar Kris menyebalkan seperti biasanya. Dara memutar bola matanya malas. Jika bukan karena dia numpang tidur di rumah ini dia akan melemparkan wajah panas itu ke wajah Tuan Sempurna.
"Setidaknya aku bisa membuatkan dua porsi sarapan dan dua cangkir kopi," ungkap Dara melihat cangkir kopi miliknya di minum oleh Kris.
"Pantas terlalu pahit rasanya, mungkin karena hidupmu pahit jadi kau membuatnya tanpa gula," ujar Kris membuat Dara membuka mulutnya lebar. Dia telah menuangkan dua sendok teh gula ke dalam cangkir itu. Pasti rasanya telah manis.
"Mungkin kau perlu menambahkan satu sekop gula agar rasanya manis," balas Dara. "Rasanya pahit tetapi kau telah menghabiskannya." Dara menatap tajam ke arah cangkir itu.
Kris melihat kopi di cangkir itu hampir habis.
"Aku haus dan aku melihat kopi itu tanpa kusadari kopi itu telah habis padahal rasanya sangat pahit."
"Kau mau sarapan apa biar aku buatkan mungkin nasi goreng ini tidak sesuai dengan seleramu," kata Dara. "Atau kau akan membuatnya sendiri?"
Kris melihat piring nasi goreng yang bau harumnya membuat perutnya berdemo dari tadi. Crish lalu menariknya mendekat dan mulai memakannya. Rasanya tidak buruk dan enak tetapi mulutnya mengatakan lain.
"Aku terpaksa menerimanya karena aku merasa sangat lapar. Lain kali buatlah yang lebih lezat seperti cornet dengan segelas cappuchino, atau sandwich daging asap dengan segelas susu cokelat hangat."
"Lain kali cari saja seorang istri yang sabar untuk membuatkan mu makanan western yang kau suka karena aku harus pergi dari sini secepatnya. Aku hanya menumpang di sini hingga aku menemukan tempat tinggal baru," ujar Dara mulai membuat nasi goreng lagi untuknya. Kali ini dia hanya memasukkan bawang dan beberapa potong cabai ke nasi itu dan memberinya sedikit kecap. Tidak ada lagi nasi goreng spesial seperti tadi. Dia sudah malas membuatnya lagi.
"Apa kapan kau pulang?" tanya Dara.
"Jam dua pagi tadi," kata Kris menikmati sarapannya.
''Berarti kau baru tidur beberapa jam saja," tanya Dara.
"Itu risiko bekerja di perusahaan besar. Tuan Alehandro pun hampir tidak punya waktu untuk dirinya sendiri."
Dara lalu mengolah makanannya setelah di rasa cukup matang, dia mematikan kompor itu.
__ADS_1
Dara membalikkan badan untuk meletakkan nasi goreng itu di piringnya. Tetapi dia melihat bangku Kris telah kosong dan nasi goreng milik Kris telah habis tidak bersisa walau satu butir nasi.
Dara tersenyum. "Dasar Tuan Sempurna, dia bilang tidak suka tetapi menghabiskannya dengan cepat."
Setelah makan dan membereskan dapur Dara pergi kembali ke kamarnya ketika bertemu lagi dengan Kris yang sudah rapi dan siap dengan baju kerjanya, kemeja putih dengan garis kotak-kotak berwarna abu-abu senada dengan warna dasinya. Dia memakai celana dengan warna serupa juga.
"Kau baru pulang semalam dan berangkat lagi pagi ini!" tanya Dara.
"Tuan Alehandro sedang bulan madu dengan istrinya dan dia tidak akan berangkat hari ini jadi dia menyuruhku untuk menggantikannya," jawab Kris.
"Aku telah menemukan sebuah ruko yang akan aku tinggali. Aku akan mengecek harga dan ruko itu mungkin aku akan pindah sekitar tiga hari lagi. Apakah kau tidak keberatan?" tanya Dara ragu, takut jika keberadaannya mengganggu Kris.
"Kita akan melihatnya sore nanti jika itu terlihat layak kau boleh mengambilnya."
"Kris ini adalah hidupku dan aku bisa dengan bebas menentukan pilihanku," ujar Dara sembari menyatukan dua jarinya.
Kris menatapnya penuh arti.
"Tunggulah aku nanti sore, kita akan lihat bangunan itu bersama!" Kris lalu berjalan menuju ke pintu utama.
"Kris tapi aku ingin ... ." Belum sempat Dara mengucapkan sesuatu Kris sudah membalikkan tubuhnya.
"Aku akan ada pertemuan penting tidak bisakah kau menurut padaku. Toh kau juga tidak rugi karena harus membayar uang sewa setiap bulan dan kau pun hidup layak karena semua kebutuhanmu ada di rumah ini!" serunya lirih membuat Dara terkejut.
Dia lalu membuka pintu dan keluar dari penthouse. Dara mengikutinya hingga sampai di depan pintu lift.
"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Kris ketus.
"Aku tidak tahu hanya saja akan lebih baik jika mengantarmu berangkat kerja," ujar Dara bingung dan hanya alasan itu yang ada di otaknya.
__ADS_1
Kris lalu menyentil kening Dara membuat gadis itu memajukan bibirnya sembari memegang dahinya yang sakit. Kris tersenyum membuat Dara terkejut karena baru kali ini dia bisa melihat senyum Kris.
"Sudahlah masuk ke dalam sana. Jam tiga sore aku akan menjemputmu untuk melihat ruko yang kau inginkan," kata Kris sebelum ,dia masuk ke dalam lift dan tidak terlihat lagi.