Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Pendarahan


__ADS_3

"Sofi ... ," teriak David lalu berlari dan menangkap tubuh lemah itu.


"Kau lihat David, itu ulah mereka yang menyebabkan Sofi seperti ini. Awas jika terjadi sesuatu dengan menantuku ini kalian akan membayar mahal!" kata Naura.


David sendiri tidak mau mendengarkan perkataan Naura. Dia langsung cepat membawa Sofi keluar dari restoran itu tanpa melihat ke arah Bella terlebih dahulu.


"David sangat peduli pada Sofi jadi kalian jangan bermimpi untuk memisahkan mereka! Apapun masalah mereka, mereka bisa mengatasinya selama ini. Karena itu mereka masih tetap bersama," terlihat raut wajah mengejek dari Naura," dan kau baru mengenal David jadi jangan langsung ambil kesimpulan jika David itu sangat mencintaimu."


Naura lalu membalikkan tubuh dan berjalan pergi meninggalkan Bella dan Riska. Bella langsung jatuh terduduk dan menangis.


"Itulah yang ibu takutkan tapi kau tidak pernah mau mendengarnya. Semakin cepat kau melihat kenyataan maka akan semakin baik. Lebih baik kita pulang saja ke rumah kita," kata Riska.


"Lepaskan hubunganmu dengan David, Bella. Relakan dia bersama istrinya. Kita bisa membesarkan anak ini bersama tanpa pria itu," imbuh Riska. Bella menatap wajah ibunya, dia langsung merengkuh tubuh wanita paruh baya itu.


"Terima kasih Ibu, hanya kau yang selalu berada di sampingku. Semua yang kau katakan itu benar!" ucap Bella serak tubuhnya bergetar hebat karena menangis. Dia kecewa melihat David yang langsung pergi membawa Sofi tanpa melihat ke arahnya. Dia merasa seolah dia tidak berharga di mata suaminya itu.


***


Sudah satu Minggu ini David tidak dapat menemui Bella. Dia sangat marah dan menyesal setelah kejadian terakhir yang menimpa dua istrinya.


Sofi harus di larikan ke rumah sakit karena mengalami kram di perutnya dan dia harus menjaga wanita itu tiga hari tiga malam berturut-turut. Ibunya mengultimatum pada David agar menjaga Sofi dengan baik.


"Dia sakit karena mendengar perkataan wanita penggoda itu tentangnya. Dia berkata jika Sofi tidak bisa menjagamu dan mengurusku dengan baik. Dia juga mengejek istrimu jika kau lebih mencintai wanita penggoda itu dari pada istrimu sendiri. Sampai kapanpun David ibu tidak akan pernah merestui hubunganmu dengan perempuan sundal itu. Hentikan semuanya jika tidak menyesal! karena anak yang dikandung Sofi dan bahkan Sofi juga bisa meninggal jika kau tidak mau memperhatikan mereka. Resiko itu sangat besar mengingat tubuh Sofi semakin lama semakin lemah dan kau malah sibuk berduaan dengan wanita Sundal itu," ucap Naura tanpa titik koma dengan berapi-api hingga dia terengah-engah.


"Jika kau tidak mau mendengar perkataan ibumu ini. Maka kau akan di keluarkan dari keluarga ini, kau juga akan dikeluarkan dari perkerjaanmu karena perusahaan itu adalah milik keluarga ayahmu! Lalu apa yang akan kau lakukan? Kau akan membesarkan pabrik konyol punya wanita Sundal itu? Jangan harap! Tanpa tender itu perusahaan itu akan mati."


"Jika kau mau perusahaan itu tetap hidup dan kau juga tetap hidup tenang, hilangkan nama wanita itu dari hidupmu!"

__ADS_1


Perkataan ibunya membuat David terdiam. Dia tidak takut jika di keluarkan dari keluarga tapi jika dia miskin apakah Bella dan keluarganya menerimanya? Dia bahkan belum yakin dengan cinta Bella. Dari awal dia yang memaksa wanita itu untuk mencintainya.


Tapi Bella sedang mengandung anaknya? Dia juga punya hak yang sama dengan anak Sofi. Dia berhak untuk mempunyai ayah.


David tidak percaya dengan perkataan ibunya tentang Bella. Dia tahu siapa Bella dengan baik. Kini dia sendiri di apartemen. Mengingat kenangannya bersama Bella beberapa terakhir. Sekedar untuk mencium bau harum Bella yang mungkin masih tertinggal di tempat tidur atau barang-barangnya.


"Bella aku sangat merindukanmu? Apakah kau juga merindukanku?" tanya David sendiri. Dia mencium baju tidur milik Bella yang masih tersampir di lemari kamar.


Tiba-tiba handphone miliknya berbunyi.


"Dokter Zahra?" gumam David. Dia adalah dokter kandungan milik Bella.


"Ya, hallo dokter?" kata David.


"Apa! Baik saya akan segera ke sana." David langsung memegang keningnya yang terasa nyut-nyutan karena kepalanya terasa sangat pening. Sofi baru saja membaik dan kini Bella harus di larikan ke rumah sakit karena pendarahan. Kenapa? Apa yang terjadi?


Dia mengacak isi laci dan akhirnya menemukan obat itu.


Dia akan membawa obat itu, mungkin Bella membutuhkannya.


Dengan berlari dia melangkah menuju tempat parkir. Sesampainya di sana dia bergegas naik ke dalam mobil dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh.


Pikirannya di selimuti hal buruk. Bagaimana jika anak dalam kandungan Bella tidak selamat. Dia bahkan sudah merencakan semuanya untuk mereka. Dan kedatangan anak itu dalam perut Bella memberinya banyak mimpi. Bahwa hidup ini indah dan menyenangkan bila bersama keluarga yang hangat dan saling mencintai.


David merasa tidak sabar untuk sampai di rumah sakit. Dia bahkan menerobos beberapa lampu merah dan mengabaikan keselamatan dirinya dan juga orang lain demi melihat keadaan Bella saat ini. Dia satu-satunya wanita yang dicintai selain ibu kandungnya.


Dia tidak takut kehilangan anak itu. Karena jika dia kehilangan anak itu berarti dia juga kehilangan Bella dan impian keluarga kecilnya yang bahagia. Akankah Bella masih mau bersamanya jika di tidak mengandung?

__ADS_1


Soal ibunya, dia bisa memindahkan Bella di luar negeri agar ibunya tidak bisa mencium kebersamaan mereka hingga perusahaan milik ayah Bella stabil. David tidak bisa berpisah dari Bella. Dia sangat mencintainya. Baginya Bella yang lembut dan penuh kasih sayang adalah wujud Dewi yang ada di bumi ini. David sangat memujanya.


Dengan tidak sabar David memarkirkan Roll-royce warna hitam sehingga menabrak bemper mobil lainnya. Orang yang di tabrak oleh David keluar dari mobil dengan marah-marah.


"Loe kira-kira dong kalau mau parkir. Memang ini parkiran babe lu yang bisa seenaknya saja kami tabrak mobil pengendara lain bla ... bla ... bla ...," maki pemilik mobil itu.


David langsung mengeluarkan kartu kreditnya.


Dia serahkan karti itu pada pria tadi. "Mana handphone milikmu?''


Pria tadi terdiam dan menyerahkan handphonenya. David lalu mengambilnya dan memasukkan nomer miliknya.


"Kau perbaiki mobil itu dan setelah itu hubungi aku. Aku ada urusan lain yang lebih penting!''


David lalu berlari ke ruang dokter Zahra. Dadanya berdenyut kencang karena rasa takut panik dan cemas jadi satu. Nasibnya kini bergantung pada kabar yang akan di sampaikan dokter itu.


Dia lalu melihat Dokter Zahra sedang berjalan di koridor rumah sakit.


"Dokter!" panggil David.


"Akhirnya kau datang juga.Bagaimana apakah kau sudah menemukan obat itu?" tanya Dokter.


"Ini Dokter." David menyerahkan obat itu.


"Apa Bella sangat membutuhkan obat ini hingga aku harus membawanya kemari?"


"Jika saja kau tahu ini obat apa?" ucap Dokter itu sambil mendesah.

__ADS_1


__ADS_2