
Suasana sebuah Mall terdengar begitu ramai oleh sorak sorai penonton. Mereka bertepuk tangan dengan keras tatkala seorang penari cilik berlenggak lenggok di atas panggung dengan gemulainya. Mereka takjub pada penampilan menawan yang dipertunjukkan penari itu.
Wajah penari itu terlihat imut dengan pipi chubby nya yang putih bersih dan sebuah lesung pipi akan terlihat ketika dia tersenyum.
Anak itu menari mewakili sekolahnya dalam lomba tari yang diadakan oleh sebuah Mall. Acara ini berlangsung karena adanya perayaan ulang tahun salah satu cabang perusahaan otomotif terbesar negeri ini.
Cristian yang baru datang untuk menghadiri acara ini dibuat takjub oleh penampilan anak ini. Ini adalah puncak dari acara dan setelah ini akan diumumkan pemenangnya.
"Tuan apakah ada peserta yang penampilannya anda sukai," tanya seseorang pada pria berjas lengkap yang duduk di salah satu kursi kehormatan.
"Nampaknya penampilan anak itu mencuri perhatian semua orang kalau begitu aku memilihnya."
Tidak lama kemudian diadakan pengumuman siapa pemenang dari lomba tari.
"Dan pemenangnya adalah Calesta Mauriya," ucap pembawa acara itu. Semua orang bertepuk tangan. Anak itu naik ke panggung dengan senyum sumringah.
"Kami mempersilahkan Tuan Cristian Slim sebagai pemilik perusahaan yang mengadakan acara ini untuk memberikan hadiahnya."
Cristian berdiri dan merapikan jasnya yang masih rapi. Dia tersenyum kepada semua orang dan mulai maju untuk memberikan hadiah itu.
Pria itu mengambil sebuah piala dan berjongkok menyerahkannya pada Calesta.
"Hai, namamu Calesta, nama yang indah seindah penampilanmu kali ini," kata Cristian.
"Terima kasih, Om Ganteng," secara tiba-tiba Calesta memberikan sebuah ciuman di pipi Cristian. Membuat pria itu terkejut. Dia memandang wajah cantik Calesta dan mengusap lembut rambutnya.
"Good girl," ucap Cristian. Setelah menyerahkan piala tersebut Cristian mulai memberikan kata sambutan.
Calesta sendiri turun dari panggung disambut dengan pelukan seorang wanita.
Anaknya pasti sudah sebesar anak itu,pikir Cristian ketika melihat Calesta tersenyum. Tapi dia mencoba menepis pikiran itu. Dia tidak boleh terlena oleh masa lalu yang menghancurkan keluarga dan dirinya.
"Mengapa mommi tidak datang tante?" tanya Calesta dengan muka manyun. "Ini pasti karena jengkol-jengkol itu yang membuat mommi sibuk dan tidak mau datang. Aku benci semua jengkol itu," gerutu Calesta.
__ADS_1
Winda menjepit hidung mancung milik Calesta.
"Sakit Tante," ujar Calesta.
"Habis kau itu lucu sekali. Kau tahu siapa nama Om yang tadi kau cium itu?" tanya Winda.
"Aku tidak tahu?Jangan-jangan Tante Winda naksir ya? Nanti aku bilangin ke Om Rudi biar tante Winda di pecat jadi pacarnya." Winda membelalakkan matanya.
"Siapa yang mengajarimu bicara seperti itu?" tanya Winda. "Om Ardi itu bukan pacar tante jadi Tante boleh suka sama om-om lainnya. Om tadi kalau boleh buat Tante juga Tante mau," tutur Winda.
"Hemmmm ... ." Calesta berkacak pinggang dengan tampang marah yang lucu.
Winda membuka pesan di handphonenya.
"Mommi mu sudah datang ke mall ini sebaiknya kita ganti baju dan bergabung bersamanya." Winda menggendong tubuh Calesta memasuki ruang ganti.
Setelah itu mereka berdua keluar dari kamar ganti. Cinta datang di pintu kamar ganti bersama Ardi.
"Itu buatku, Mom," tanya Calesta dengan mata berbinar. Dia lalu menggendong boneka itu.
"Ya, memang untuk siapa lagi. Pastinya jagoan Mommi," ujar Cinta menggendong anaknya.
"Boneka dan orangnya besaran bonekanya," ujar Ardi.
"Ih ... Om Ardi. Tapi cantik Calesta 'kan?" kata Calesta dengan mimik merajuk.
"Tentu saja Cantik princess Om. Calesta hebat bisa memenangkan lomba ini," ujar Ardi.
"Mommi yang hebat, dia yang ngajarin Calesta nari jadi Calesta bisa menang," jawab Calesta.
"Kita pulang yuk!" ajak Ardi.
"Memang sudah selesai urusan pesanan makanan untuk acara ini?" tanya Winda.
__ADS_1
"Sudah selesai tinggal menunggu mereka makan dan merapikannya lagi," ujar Ardi.
"Biar para pekerja yang melakukannya," sambung Cinta. "Hari ini kita makan diluar saja untuk merayakan keberhasilan Calesta."
"Ye... !" teriak Calesta senang. Mereka lalu keeluar dari ruang ganti dan berjalan menuju pintu keluar Mall tempat acara itu dilangsungkan.
Cristian sendiri sedang memberi sambutan di acara ini. Beberapa orang bertepuk tangan dan berdiri ketika mendengar kata sambutan darinya.
Tanpa sengaja mata Cristian tertuju pada sosok yang jauh berada di depannya. Sosok itu menggendong seorang anak yang tidak jelas terlihat rupanya. Di sampingnya ada Ardi. Tangan Cristian mengepal marah.
"Cinta ... ," katanya tanpa sadar di mic.
Samar-samar Cinta mendengar suara itu.
"Sepertinya namamu disebut,'' ucap Ardi. Mereka berdua menengok ke belakang dan melihat Cristian berada di podium melihat ke arah mereka.
Cinta dan Ardi saling memandang.
"Ayo cepat," tarik Cinta memegang tangan Ardi.
Cinta berjalan setengah berlari membuat Calesta terkejut. Tanpa sengaja boneka Calesta jatuh ke bawah.
''Mom bonekaku," teriak Calesta namun diabaikan oleh Cinta. Dia berusaha untuk lari secepat mungkin menghindari Cristian.
"Maaf saya ada urusan penting," kata Cristian mengakhiri acara sambutannya. Dia berlari mengejar Cinta.
****
Like
Vote
Coment
__ADS_1