
Cinta bingung untuk menjawab Calesta kali ini. Dia enggan untuk melihat ke arah Cristian. Tidur bersamanya itu sesuatu yang sulit untuk dilakukan.
"Apa yang kau katakan adalah perintah untuk papa," ujar Cristian mengerlingkan satu matanya pada Calesta.
"Kalian merencanakan sesuatu!" tanya Cinta pada kedua orang di depannya.
"Tidak!" jawab mereka bersamaan.
"Calesta ... Mommie tidak suka jika kau berbohong," tanya Cinta pada Calesta.
"Aku tidak berbohong Mommie, hanya saja aku minta Mommie untuk kemari kata papa agar Mommie boleh kemari, Calesta," mulut Calesta di bekap oleh Cristian.
Cinta menatap tajam pada Cristian.
"Aku minta penjelasan darimu nanti!" ujar Cinta. "Sekarang tidur Calesta, ini sudah pukul sebelas malam!" ucap Cinta menahan kesal. Dia lalu tidur di sisi sebelah kanan Calesta dan Cristian di sebelah kiri Calesta. Cinta berbaring miring menghadap Cristian sembari memeluk Calesta yang tidur sembari mendekapnya.
Cristian sejenak melihat Cinta. Matanya tidak sengaja melihat ke arah gundukan di dada Cinta yang menyembul keluar separuhnya karena tertekan oleh lengannya. Dia lalu memalingkan wajahnya. Setelah mendengar suara dengkuran Calesta, Cristian beranjak dari tempat tidurnya.
"Adakah yang tidak kuketahui dari rencana kalian ini," tanya Cinta.
Cristian menghembuskan nafas kasar dan berdiri hendak pergi ke kamarnya sendiri tanpa mau menjawab pertanyaan Cinta. Dia masuk ke kamarnya melalui pintu penghubung. Cinta mengikutinya dan masuk ke kamar Cristian.
"Tunggu Cristian aku ingin bicara denganmu!" tanya Cinta. Cristian tetap diam membuka kancing bajunya sendiri. Hendak mengganti bajunya.
__ADS_1
"Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Cristian.
"Kau merencanakan semua ini?" tanya Cinta.
Cristian membuka kemejanya. Membuat Cinta menelan ludahnya sendiri. Tubuh pria itu masih tetap berotot seperti terakhir kali mereka bersama.
"Kalau iya mengapa?" jawab Cristian datar. "Tapi bukan berarti aku telah memaafkanmu. Itu kulakukan semata demi Calesta."
Cristian hendak membuka pengait celananya membuat mata Cinta terbelalak.
"Kau mau melihatku telanjang atau pergi dari sini," kata Cristian. Wajah Cinta merona merah
Dia lantas membalikkan tubuhnya hendak pergi dari kamar itu.
"Apa semalaman kau akan tetap memakai gaun itu?" tanya Cristian. Membuat langkah Cinta terhenti.
"Jika kau memang terpaksa kau boleh sekarang aku akan menyiapkan sopir yang akan membawamu ke lelakimu itu."
Cinta membalikkan badannya lagi menghampiri Cristian.
"Setidaknya dia pria sejati yang mau menampungku di kota ini," jawab Cinta menyindir Cristian.
"Pria sejati atau ada maunya? Ku lihat kau nyaman dan senang bersamanya. Kau hanya berakting menangis saja di depan rumahku setiap hari. Hal itu membuat Calesta marah dan membenciku karena melihatku mengusirmu!" jawab Cristian.
__ADS_1
"Itu kah sebabnya kau merencanakan ini semua. Berpura-pura jika kau sudah berlaku baik padaku? Licik!" balas Cinta.
"Lalu kau mengharap apa?" Cristian merengkuh pinggang Cinta sehingga mendekat kepadanya.
"Apa seperti ini?" Cristian lalu menyambar bibir lembut Cinta. Menyesapnya dengan kasar. Cinta memberontak namun niat awal Cristian ingin memberi pelajaran pada Cinta dia sendiri yang larut dan menciumnya dengan buas meluapkan marah kesal dan cemburunya, membuat Cinta kesulitan untuk melawannya.
Cinta lalu terdiam, dia tahu percuma saja melawan Cristian. Dia membiarkan Cristian mengeksplor mulutnya. Memberi sentuhan dengan lidahnya di setiap gigi dan rongga mulutnya hingga lama, membuat Cinta terhanyut.
Benar kata Ardi dia akan jatuh dalam pelukan Cristian dengan mudah.
Satu tangan Cristian mulai mengusap punggungnya dan tangan lainnya meremas rambut Cinta. Cinta yang mulai terlena memegang bahu Cinta dan mengusapnya lembut.
Cristian menarik rambut Cinta membuat wanita itu menengadah. Wajah Cinta sudah memerah karena gairah sama sepertinya.
"Sudah berapa pria yang menyentuhmu?" tanya Cristian kesal dan marah.
"Tidak ada selain dirimu," jawab Cinta jujur. Cristian menatap matanya.
"Kau bohong!" kata Cristian tidak percaya.
"Bukankah aku sudah berjanji jika aku hanya akan jadi milikmu maka aku tepati janji itu, terserah kau mau percaya atau tidak!" jawab Cinta kesal. Pandangannya melihat ke arah lain.
"Di mana bagian mana saja David menyentuhmu?" tanya Cristian posesif. Dia kembali lagi menjadi Cristian yang dulu.
__ADS_1
"Dia memeluk pinggangku dengan erat dan berdansa denganku. Kau bisa mengira sendiri apa yang telah disentuh olehnya," bisik Cinta di telinga Cristian.
Cristian mengeratkan giginya.