
"Kau tahu bagaimana sakitnya aku," kata Dara terisak.
"Aku tahu bagaimana perasaanmu Maria, wanita itu memang keterlaluan. Tetapi bagaimanapun nasibmu lebih baik dari pada aku. Walau dia tidak mengakuimu setidaknya kau tahu siapa ibumu. Aku sendiri tidak tahu siapa ibuku dan mengapa dia meninggalkanku di depan pintu masjid 21 tahun yang lalu. Ibumu meninggalkan dengan ayahmu karena dia tahu ayahmu akan melakukan segalanya untukmu. Sedangkan aku? Jika aku tidak ditemukan oleh orang di masjid secepatnya mungkin aku sudah mati kedinginan," ucap Dara miris. Maria lalu menyadari tidak seharusnya dia mengeluh keadaannya. Apa yang Dara katakan benar. Dia punya semuanya sedangkan Dara hanya memiliki dia sebagai seorang sahabat.
"Aku bersyukur mengenalmu Dara. Kau membuatku berpikir bahwa Tuhan selalu melakukan terbaik untukku, dia tidak sejahat itu padaku. Kau mengajariku arti bersyukur pada apa yang telah kita miliki," ungkap Maria.
"Untuk apa kau memikirkan wanita sialan itu. Jika dia memang ibu yang baik dia akan menemuimu dan meminta maaf karena menyiakanmu. Jika tidak anggap saja dia telah mati dan saat ini berada di neraka jahanam!" ungkap Dara karena itulah yang dia pikirkan mengenai keberadaan orang tuanya yang tidak jelas siapa mereka.
"Apakah kau juga berpikir seperti itu? Menganggap orang tuamu sudah berada di neraka jahanam!"
"Iyalah, mereka yang telah membuat kesalahan dan menghasilkan aku. Setelah aku keluar mereka hanya menganggapku sebuah kotoran yang harus dibuang, sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkan mereka. Kecuali mereka mengatakan jika aku diculik oleh orang dan di letakkan di masjid. Baru aku akan memaafkannya," ucap Dara.
"Aku sudah merasakan berbagai penderitaan hidup dari aku dilahirkan dan aku tidak mau memikirkan masalah yang akan membuatku terpuruk dan sedih. Hidup itu adalah sebuah pilihan dan aku memilih untuk berpikir positif ke depannya, tidak akan menoleh lagi ke belakang. Saat ini aku mensyukuri kehidupanku ini, berharap esok hari ada hari yang lebih baik lagi nanti."
"Aku akan berusaha untuk bangkit dari masalah ini dan tidak akan mengingat sikap ibuku itu. Aku anggap itu adalah cerita masa lalu ayah. Masa depanku adalah bersama Alehandro dan dia bukan dari hidupku!" kata Maria
"Bagus, lenyapkan sesuatu yang mengganggu pikiranmu. Kau menangisinya di rumahmu, belum tentu dia menangisimu disana. Jadi anggap saja dia angin lalu."
"Dara apa kau masih di rumah Kris?" tanya Maria.
"Hmmm," jawab Dara.
"Kenapa? Bukankah kau bisa menyewa rumah atau tempat tinggal lain?"
"Aku ingin melakukannya, tetapi pria itu malah tidak setuju dengan seribu satu alasan," jawab Dara lebay.
"Dia mungkin menyukaimu," kata Maria.
"Dia itu buaya karatan. Suka cari kesempatan dalam ketidak sadaran," jawab Dara.
"Maksudmu?" tanya Maria.
"Dia selalu mengatakan tidak menyukaiku tetapi di saat aku tidur dia malah menciumiku," kata Dara jujur.
__ADS_1
"Alehandro malah menjagaku, dia tidak pernah menyentuhku jika aku tidak mengijinkannya. Dia sangat menghormatiku," terang Maria.
"Itu artinya dia sangat mencintaimu sedangkan Kris hanya menjadikanku obyek halu pikiran joroknya mungkin," kata Dara.
"Kau harus berhati-hati sebaiknya kau keluar dari rumah itu segera Dara," nasihat Maria.
"Iya, aku sudah memikirkan hal itu. Untung saja semua uang darimu sudah ku masukkan ke bank jadi aku bisa bebas berjalan kemana-mana."
"Dara apa kau mau tinggal di sini bersamaku," tawar Maria.
"Tidak, aku tidak ingin membuat repot keluarga kalian. Tidak baik ada wanita lain di rumah yang baru kalian bangun. Setan tidak tahu kapan datangnya."
"Kau benar Dara," kata Maria.
"Dara aku ingin mengatakan sesuatu padamu," kata Maria.
"Apa itu?" tanya Dara yang mulai jalan ke ruang bawah untuk mencari sarapan paginya.
"Kris sudah mempunyai tunangan dan wanita itu anak dari relasi Alehandro."
"Kau tidak akan menerimanya kan? Aku tahu jika Kris memang tampan dan menarik. Kau pun terlihat tertarik padanya tetapi aku sarankan sebaiknya kau jauhi dia."
"Kau tenang saja aku bisa menjaga diriku sendiri," kata Dara.
"Lalu kapan kau akan pergi dari sana?" tanya Maria terdengar khawatir.
"Aku akan berpamitan padanya terlebih dahulu, baru aku akan pergi ke tempat kost kota yang lama sambil mencari ruko yang kuinginkan."
"Itu lebih baik," kata Maria. "Kita harus berhati-hati pada predator wanita muda dan cantik seperti kita."
"Kau sudah menikah tidak masuk ke dalamnya jikapun ada predator tak lain dan tak bukan yaitu suamimu sendiri," ungkap Dara terkekeh.
"Dia predator tampan dan kaya," kata Maria terkekeh. Dara lalu terdiam dia menarik nafas lega.
__ADS_1
"Aku senang mendengar kau bisa tertawa lagi. Lupakan ibumu dan tanggapannya padamu. Cukup lihat ibu mertuamu yang baik saja," kata Dara.
"Iya sahabatku yang manis. Aku pun berdoa semoga kau segera mempunyai suami dan keluarga yang akan menjagamu dan melindungimu selalu," kata Maria.
"Aku tidak pernah memimpikan hal seperti itu karena aku takut jika mimpiku tidak menjadi kenyataan. Lagipula aku belum punya pacar yang mirip dengan Hyun Bin artis kesayanganku itu. Mungkin jika sudah mempunyainya, aku akan memikirkan untuk membentuk suatu keluarga dengan pria itu."
"Amiin."
Mereka lalu menceritakan keseharian mereka setelah itu telephon dimatikan. Dara melihat dapur di depannya. Andai saja ini adalah rumahnya dia akan merasa senang dan bahagia. Tetapi itu tidak mungkin.
Kata Maria Kris sudah mempunya seorang tunangan. Apa dia tidak takut jika tunggangannya tahu bahwa ada wanita lain dalam rumahnya?
Kris memang cowok brengsek. Sudah ucapannya tajam ditambah lagi kelakuannya itu memperburuk penilaian Dara terhadap pria itu.
Untuk mengusir kejengkelan dan kemarahannya selepas sarapan Dara pergi keluar dari kediaman Kris untuk mencari rumah kontrakan yang terlihat cocok untuknya.
Uang dari Maria yang sudah dia simpan di bank bernilai 300 juta. Itu uang yang banyak jika dia bisa pergunakan dengan baik dan uang yang sedikit jika dia tidak bisa menjaga dan mengelolanya.
Dara lalu berjalan kaki menuju halte bus way. Ada dua pria yang berada dalam bus itu. Sesekali mereka melirik ke arah Dara yang memakai kaos pas badan dan celana denim seperti biasa.
Dara sudah merasa risih untung saja bus itu cepat datang jadi dia masuk ke dalam bus. Dua pria tadi ikut bus yang sama dengan Dara dan duduk dua baris di belakang Dara. Dara lalu memainkan handphonenya sembari melihat tingkah dua pemuda tadi dari pantulan layar telephon. Instingnya mengatakan ada yang tidak beres dengan mereka. Dia akan melihat nanti ketika dia turun dari bus itu, jika pria itu mengikuti dia berarti keamanannya dalam bahaya.
Ini Jakarta kota paling kejam di negara ini. Dia harus berhati-hati dalam setiap langkahnya jika ingin selamat.
Bus berhenti di daerah Manggarai. Dara lalu turun dia sengaja berjalan melewati jalanan yang terlihat ramai. Memang benar, jika dua pria itu mengikutinya. Dara memutar otaknya agar dia bisa terhindar dari kedua pria itu.
Dara langsung berlari cepat dan dua pria itu mengikutinya trus. Dara yang panik berusaha menghubungi Kris. Hanya pria itu yang bisa menolongnya saat ini. Tetapi dua pria itu berhasil memepetnya. Dara membunyikan handphone di tangannya di balik celana bagian perut. Mode panggilan masih berlangsung.
Ujung pisau menusuk punggungnya. Membuat wanita itu meringis.
"Jika kau ingin selamat maka ikuti kami," ancam pria itu.
"Kalian siapa?'' tanya Dara.
__ADS_1
"Kau juga akan tahu sendiri nantinya, nona manis!"