
"Kau boleh bersamanya tetapi lupakan wanita murahan itu dia tidak layak bersanding denganmu!" ungkap Kakek Wasesa.
Savitri langsung memeluk Kris.
"Terima kasih, Tuan, karena telah membiarkan aku menghabiskan sisa umur bersama anakku," ucao Savitri. Kakek Wasesa terdiam dia hanya berjalan keluar ruangan. Di depan pintu sudah ada Sheila yang berdiri menatap tubuh yang mulai rapuh karena dimakan oleh usia.
"Kakek, terima kasih banyak!" kata Sheila.
Kakek Wasesa memegang pundak Sheila. "Aku tahu kau bisa menaklukkan hati Kris dengan kesabaranmu. Karena itu aku percayakan masalah ini padamu. Kau yang akan menentukan seperti apa kehidupan Kris selanjutnya. Kau yang bisa menjadikannya besar dan kau juga yang bisa menghancurkannya karena itu dukung dua selama kau bisa melakukannya."
Sheila menganggukkan kepalanya.
***
Dara terbangun tengah malam dan merasa perutnya sangat lapar. Dia butuh roti atau makanan apa saja yang bisa dia makan.
Dara lalu melangkah ke luar kamarnya dengan mengendap dalam cahaya lampu yang remang. Dia menuju ke arah lemari es dan melihat isinya.
Sebaiknya kita makan apa Sayang, hanya ada buah dan biskuit. Tidak mungkin kan kita memanaskan sayur atau membuat mie instan, kau ingin itu, sama, sepertinya itu lezat," kata Dara pada perutnya.
"Ibu hamil dilarang, makan mie instan."
Dara menengok ke atas dengan pelan dan terkejut. Dia melonjak maju ke depan hingga kepalanya terantuk lemari.
__ADS_1
"Auww!" teriak Alehandro. Dara memegang kepalanya yang sakit.
"Aku yang seharusnya berteriak bukannya kau!"
Dia lalu menekuk bibirnya ke samping kesal. Di tangan Dara ada sebuah apel dan tangan lainnya memegang beberapa biskuit.
"Kau seperti pencuri di malam hari," ujar Alehandro meletakkan dua tangan pinggangnya.
"Aku ingin makan tapi tidak ingin membuat keributan," kata Dara memelas.
"Itu bukan makan tetapi mengemil," ujar pria itu menunjuk ke tangan Dara yang memeluk banyak makanan.
"Mau bagaimana lagi hanya ini yang aku temukan. Aku ingin makan mie namun ... ."
Alehandro menaikkan kedua alisnya.
"Duduklah!" perintah Alehandro. Kaki Dara yang bengkak menghentikan langkahnya dan berbalik lagi.
"Hah!" Dara berdiri kebingungan.
"Aku akan membuatkan mu makanan," ujar Alehandro.
Alehandro lalu menyalakan lampu, setelah itu dia mengambil panci kecil dan mulai memasak air, lalu mengambil spageti dan memasukkannya.
__ADS_1
Di tungku satunya Alehandro menyiapkan wajan dan mengambil kotak berisi saos spaghetti yang sudah jadi. Alehandro lalu meniriskan spaghetti dan meletakkan di atas meja. Di atasnya dia siram saos bolognes, bau sedap mulai tercium membuat perut Dara berbunyi keras.
"Ibu selalu menyimpan stok saos agar bisa digunakan setiap saat," terang Alehandro. Dia lalu menyerahkan spaghetti itu ke arah Dara.
"Makanlah ini, wanita hamil perlu stamina besar untuk menghadapi masa persalinan besok."
Dara merasa terharu dia sempat meneteskan satu titik air mata. Andai saja yang melakukan ini Kris pasti hidupnya akan bahagia.
"Terima kasih, " ucap Dara menarik kursi.
Dara mulai mengambil sesendok spaghetti itu.
Mulutnya berhenti bergerak. Matanya membelalak lebar.
"Ale ... ini," kata Dara, membuat Alehandro mengernyitkan dahi lalu mengambil sendok Dara dan mencicipi spaghetti itu.
"Tidak ada masalah, mengapa ekspresimu seperti itu," tanya Alehandro.
"Karena ini sangat enak," puji Dara. "Dan aku sedang menikmatinya."
"Aku memang serba bisa," kata Alehandro. Dara mulai memakan makanan itu lagi. Namun, dia menghentikan gerakannya dan menatap tajam ke arah Alehandro
"Apakah yang kau cari di dapur jam segini? tanya Dara curiga sembari menyipitkan mata.
__ADS_1
"Aku melihatmu, mengendap kukira kau itu seorang pencuri," kata Alehandro santai.
"Tidak ada pencuri yang hamil sepertiku!"