Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Ucapan Terakhir


__ADS_3

"Tidak kumohon jangan lakukan itu padaku, kau harus bertahan!'' ujar Bella berderai air mata.


" Maafkan aku Bella," ucap David sebelum tubuhnya terkulai lemas dan menutup matanya.


"Tidak... kau tidak boleh meninggalkan aku seperti ini?" teriak Bella sembari memeluk tubuh David erat. "Hua... hua ... " tangis Bella. Hatinya sangat terguncang mengetahui kenyataan ini. Dia tidak mengira hal buruk akan terjadi padanya.


Dengan tangan gemetar dia meletakkan jarinya di hidung David. Dia bisa bernafas lega jika pria itu hanya pingsan tidak seperti dugaannya tadi. Sebuah senyum lebar dalam tangisan terlukis di wajahnya. David tidak boleh mati sebelum dia tahu jika dia sangat mencintainya.


Bella lalu melihat mobil David yang berada di depannya. Bella lalu menguatkan dirinya sendiri dan meletakkan David di jalan beraspal dengan sangat pelan. Darah David membasahi tubuh dan bajunya. Namun dia tidak hiraukan yang dia pedulikan hanya keselamatan David saat ini.


Dia masuk ke dalam mobil dan mulai memutar kunci mobil berharap mobil itu bisa berjalan sebagaimana mestinya.


Seharusnya ada kendaraan yang lewat di jalan ini tapi kenyataannya tidak ada. Bella semakin frustasi menyalakan kendaraan itu yang tidak juga menyala.


"Ayolah... ," ucap Bella panik dan gugup, jika Bella tidak segera membawa David pergi ke rumah sakit saat ini mungkin nyawa pria itu tidak akan selamat.


"Ya, Tuhan aku butuh keajaiban saat ini." Itu lantunan doa yang Bella ucapkan dari tadi.


Akhirnya mobil itu menyala juga. Bella lalu menjalankan mobil itu dekat dengan tubuh David agar mempermudahnya memasukkan pria itu ke dalam mobil.


Dia segera keluar dari ruang kemudian dan menarik tubuh David susah payah agar bisa masuk ke dalam kursi penumpang. Dia mengeluarkan seluruh tenaga yang dimilikinya dan mengangkat tubuh David yang besarnya dia kali lipat dari tubuhnya sendiri yang kecil.


Tidak ada waktunya menangis, pikir Bella. Dia harus bisa kuat agar suaminya itu selamat. Setelah dia mendudukkan David di kursi penumpang dia lalu melepaskan kemejanya sendiri hanya memakai kaos dalam saja, dan meletakkannya di bagian perut pria itu. Dia lalu memasang seatbelt David dengan kencang dan berlari menutup pintu mobil lalu memutari mobil dan duduk di kursi penumpang.


Untuk sesaat dia melihat tubuh Roni yang bersimbah darah di aspal. Dia tidak ingin menolongnya sama sekali dan tidak ingin melihat keadaannya.

__ADS_1


Bella mulai menjalankan kendaraan itu dan menancapkan gas secepat yang dia bisa. Dia tangan David selalu dia genggam selama perjalanan. Wajah pria itu terlihat sangat pucat. Berbagai pikiran buruk mampir ke otaknya membuat dia menambah kecepatannya terus tanpa melihat argo.


Yang ada di otaknya saat ini hanya bagaimana caranya dia bisa sampai ke rumah sakit secepatnya.


"Kau harus selamat David demi aku dan Cantik. Kau berjanji tidak akan meninggalkanku!" teriak Bella frustasi.


"Kau harus memandangku tatkala aku mengatakan aku sangat mencintaimu Hu... Hu...," ujarnya lirih kemudian sembari menyeka air matanya. Perjalanan ini begitu lama dan berat untuknya. Sesekali tangannya menyeka wajah David dan fokusnya kembali ke jalanan yang mulai ramai karena sudah memasuki daerah perkotaan.


Dia membunyikan klakson keras di setiap saat memperingatkan pengemudi lain untuk minggir. Dia tidak peduli dengan cacian semua orang atas tindakannya yang mengendarai mobil dengan ugal-ugalan dan tidak peduli dengan peringatan polisi di belakangnya yang mengikuti dan memberi peringatan.


Hingga dia melihat plang bertuliskan rumah sakit hatinya mulai merasa sedikit lega. Rasa takutnya terhadap rumah sakit dia lawan. Dia menabrak jalan membuat orang yang sedang berjaga terkejut. Bella tidak peduli, nyawa suaminya dalam bahaya jika tidak segera ditolong.


Bella menghentikan kendaraannya ketika berada di depan pintu IGD. Perawat yang melihat langsung berlari dan Bella membuka pintu kursi penumpang.


"Dia masih hidup," ucap dokter itu. Bella mengerang lega. Dokter itu lalu melepaskan seatbelt di tubuh David dan melihat darah yang banyak merembes dari perutnya.


"Dia kenapa?"


"Tertembak," jawab Bella bergetar. Dia tidak sadar jika Polisi yang mengejarnya kini berada di belakang dokter itu dan melihat kejadian ini.


Tubuhnya terasa lemas sekali. Seorang perawat lain mendekati kursi Bella dan menyuruhnya membuka pintu mobil.


Bella lalu membukanya. Perawat itu lalu membantu Bella keluar dari mobil dan merahnya mendekat ke arah David yang sudah dibaringkan di atas brangkar perawat langsung mendorongnya masuk untuk melakukan operasi darurat.


"Anda sangat berani, Nona, " puji Polisi yang bertugas. Bella hanya tersenyum masam dan berjalan masuk ke dalam rumah sakit.

__ADS_1


Seketika pandangannya mulai kabur ketika mencium aroma karbol khas rumah sakit. Rasa mual menyerangnya. Penyakitnya yang takut terhadap rumah sakit menyebabkannya menghentikan langkah ketika akan masuk ke dalam. Tapi dia harus masuk untuk memastikan keadaan David. Dia harus melawan rasa takut itu.


Bella melihat para perawat dan dokter berlarian dari dan menuju ruang tindakan.


"Pasien memerlukan banyak darah dan sayangnya hanya tinggal satu kantong kita harus mendapatkannya sebelum operasi ini dilakukan karena pasien sudah banyak kehilangan darahnya." teriak salah satu dokter.


Rasa panik dan was-was kembali menyerang Bella. Dia lalu berlari ke ruangan dimana David akan melakukan operasi.


"Dokter denyut jadi pasien sedang tidak stabil!'' teriak salah satu perawat.


" Tidak ... kalian harus menyelamatkannya... Dia harus hidup!'' seru Bella keras sehingga terdengar di setiap lorong rumah sakit ini. Seorang perawat menghalangi jalan Bella ketika dia hendak mendekati David.


"Biarkan aku bersamanya!'' lawan Bella keras. Dadanya sudah terasa sangat sesak dari matanya mengalir deras anakan sungai yang tanpa henti.


"Nyonya anda harus tenang jika anda membuat keributan di ruangan ini kami tidak bisa dengan segera melakukan tindakan operasi pada pasien, " ujar dokter berusaha menenangkan Bella dan menyuruhnya keluar.


Tubuh David seperti terangkat ke atas dan nafasnya terlihat tersengal-sengal. Bella menggelengkan kepalanya melihat hal itu. Timbul rasa ketakutan kehilangan sesuatu yang paling berharga miliknya lagi.


"Dokter pasien mengalami sesak nafas dan denyut nadinya semakin melemah," ujar perawat melihat monitor yang pergerakannya semakin menurun.


Wajah Bella terlihat memutih seketika. Tubuhnya membeku dan nafasnya berhenti melihat semua ini. Dia melihat para dokter dan perawat itu berlari dan berusaha melakukan tindakan untuk menyelamatkan David. Waktu terasa berhenti berputar untuknya dia hanya diam menatap tubuh David yang kejang. Harapannya seakan musnah seketika dan bayangan David yang memeluk dan menciumnya lewat didepan matanya.


Ini tidak adil untuknya. Disaat dia sedang memulai kebahagiaannya kenapa Tuhan malah mau mengambil harta paling berharga dalam hidupnya.


"Aku sangat mencintaimu, Bella," ucapan terakhir David tadi terngiang di telinganya.

__ADS_1


__ADS_2