Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Pesanan Datang


__ADS_3

"Ale jangan seperti ini, ada anak-anak," tolak Dara halus.


"Memang apa yang akan kita lakukan?'' tanya Ale mundur kembali dan melepaskan pegangannya. Bibirnya tersimpul dengan indah, seperti sedang menggoda wanita itu.


Dara mencibir bibirnya tetapi rasa panas bekas cengkraman Alehandro masih terasa di pinggangnya. Dadanya pun masih berderu dengan cepat. Pria itu sangat pandai memainkan emosinya.


"Kau dari kemarin mengerjaiku terus," ujar wanita itu sedikit kesal.


"Memang apa yang aku lakukan?" tanya Ale pura-pura tidak mengerti.


"Kau," tunjuk Dara kesal dia lalu menghentak kakinya ke lantai dan membalikkan tubuhnya, "aku akan melihat anak-anak," lanjutnya untuk menghindari kebersamaan dengan pria itu.


"Dara aku belum menjawab pertanyaanmu," ucap Ale.


Dara lalu kembali berbalik dan melipat tangan di dada menunggu jawaban Alehandro.


"Aku yakin jika kau kembali ke Jakarta, kau akan tetap di sana karena itulah rumahmu, entah itu di rumahku atau kembali ke rumah Kris," ujar Alehandro.


Mata Dara berubah menjadi sayu ketika mendengar nama Kris disebut. Dia lalu membalikkan tubuh kembali dengan perasaan campur aduk. Tidak ada yang tahu bagaimana perasaannya saat ini. Dia melangkah pergi meninggalkan pria itu di dapur sendiri.


Kris nama yang tidak ingin dia dengar lagi. Sudah cukup dia menyakitinya. Dia boleh menghinanya habis-habisan tetapi dia tidak berhak mengambil Rose karena Rose hanya miliknya.


Alehandro yang melihat itu lalu mengambil kopi dan menyesapnya.


"Kau harus menghadapi kenyataan jika ingin hidup dengan tenang," gumam Alehandro.


***

__ADS_1


Dara begitu takjub ketika tahu jika mereka akan ke Jakarta menggunakan pesawat jet pribadi bukan pesawat umum seperti biasa.


Alehandro terlihat menjaga jarak ketika mereka berada di luar bersama orang-orang. Kursi Dara dan Alehandro saling berhadapan di sebelah Alehandro duduk Kaisar sedangkan di sebelah Dara duduk Rose tetapi anak itu malah meminta pangku Alehandro. Rose bahkan bertingkah manja dengan Alehandro dan mengajak pria itu berbicara, sedangkan Kaisar malah duduk tenang sembari bermain handphone.


Dara mengamati Rose yang dipangku oleh Alehandro, lama-lama anak itu terlihat mengantuk dan tertidur dalam pelukan pria itu.


Alehandro lalu menurunkan sandaran kursi dan mulai membaringkan Rose serta menyelimutinya. Kaisar pun mengantuk dia yang terbiasa naik pesawat milik ayahnya langsung pergi ke ruang belakang untuk berbaring di kamar yang tersedia.


Pramugari datang untuk menyakan apa yang mereka pesan namun Dara menggelengkan kepalanya. Sedangkan Alehandro kembali melihat berkas dalam map dengan serius.


Airphone mulai dipasangkan di kepala Dara, dia mulai mendengarkan lagu-lagu kesayangannya sembari memejamkan matanya. Dara lalu melihat ke arah luar jendela dan memikirkan apa yang akan dia lakukan ke depan. Bagaimana nanti jika dia bertemu Kris, apa yang akan dilakukannya?


Apa reaksi Rose jika melihat Kris apakah dia akan gembira atau menolaknya?


"Nenek... ," panggil Kaisar pada Mom Lusi yang duduk di atas kursi roda. Dia langsung berlari ke arah Mom Lusi dan memeluknya.


Dara lalu keluar dari mobil beserta dengan Rose. Anak itu sudah terbangun dari tidurnya dan menatap rumah Kaisar yang besar dan indah dengan mulut yang terbuka.


Mom Lusi lalu melihat ke arah sumber suara, lalu tersenyum pada Rose dan Dara. Alehandro yang baru keluar dari mobil langsung melihat ke arah ibunya yang menatap Dara.


"Dara," panggil Mom Lusi. Dara lalu berjalan bersama Rose mendekati wanita itu. Dia terlihat lebih kurus dan pucat.


"Bu," peluk Dara bersimpuh di depan wanita itu lalu memeluknya.


"Sudah lama sekali Dara," ucap wanita itu.


"Maaf, aku baru datang kemari," ungkap Dara dengan mata yang mengembun.

__ADS_1


"Kau itu keterlaluan, kau bahkan pergi tanpa pamit pada kami," ucap Mom Lusi.


"Aku ... ," ucap Dara tanpa selesai. Dadanya terasa penuh dan sesak. Tanpa dia sadari buliran kristal itu meleleh sendiri dari pelupuk matanya. Pertama kali dia melihat wanita itu memeluk Maria, dia merasa iri karena ada orang yang menanti kedatangan Maria dan mencintainya. Dia juga ingin memilikinya kini keinginan itu membuatnya malu. Karena Tuhan mengabulkannya dengan cara membawa Maria pergi untuk selamanya.


Tangan Lusi mengusap lembut punggung Dara. "Sudah jangan dipikirkan yang lampau sekarang yang penting kau sudah ada di sini dan itu membuat hatiku tenang."


Kedua netra Mom Lusi tertuju ke arah Rose yang sedang berdiri dan memegang tangan Alehandro. Sebuah senyuman terbit dari bibirnya.


"Apakah dia anakmu Dara?" tanya Mom Lusi.


Dara lalu merenggangkan pelukannya dan memanggil Rose.


"Rose kemarilah," Rose lalu mendekat ke arah Mom Lusi, matanya lebar menatap Mom Lusi dengan ragu.


"Kemarilah mendekat cantik, aku ini nenekmu," kata Mom Lusi. Rose lalu mendekat dan Mom Lusi mulai memeluk Rose.


"Kau sudah sangat besar dan cantik sekarang sama seperti ibumu," ucap Mom Lusi. Rose lalu mulai tersenyum malu-malu.


"Apakah nenek akan lebih menyayanginya nanti?" tanya Kaisar yang berdiri di sebelah Mom Lusi.


"Nenek akan sayang pada kalian berdua," ujar wanita itu.


"Nenek harus lebih sayang padaku karena aku adalah cucu pertama nenek," tegas Kaisar melipat tangan di dadanya, melihat hal itu, Rose mengerucutkan bibirnya lucu menatap Kaisar.


Alehandro yang baru saja mengambil barang-barang di bagasi lalu mendekat ke arah mereka.


"Hallo Mom, aku sudah membawa pesananmu," kata Alehandro mencium pipi ibunya.

__ADS_1


"Kau sudah membawanya tetapi apakah kau sudah melamarnya?" tanya Mom Lusi langsung sembari melihat ke arah Dara.


Alehandro menghela nafas sembari menatap Dara. Ibunya jika menginginkan menantu langsung saja memaksa tanpa bertanya dulu apa calon menantunya itu bersedia atau tidak.


__ADS_2