
"Siapa yang melakukan itu?" tanya Ibu Panti. Dara lalu celingukan mencari pelakunya. Dia lalu menunjuk ke arah seorang pria paruh baya yang baru masuk ke dalam rumah panti.
"Itu dia," tunjuk Dara.
"Bapak!" gumam ibu panti. Pria itu menghentikan langkahnya ketika melihat Dara berdiri di sana sembari menunjuk ke arahnya.
Wajahnya pucat pias seketika. Dia hendak membalikkan tubuhnya, tetapi Alehandro dengan cepat mencegahnya.
"Bapak, benarkah apa yang dikatakan Dara jika kau pernah mencoba melecehkannya?" seru Ibu Panti dengan wajah memerah.
"Dia berbohong, itu adalah tuduhan yang kejam. Kau gadis tidak tahu diri sudah di besarkan di sini malah memfitnahku dengan kejam kau punya bukti apa?" teriak pria itu tidak mau kalah.
Mata Dara memerah seketika.
"Aku memang tidak punya bukti tetapi aku tahu jika bukan terhadapku saja kau melakukan itu pada Kak Rindu kau juga pernah melakukannya," teriak Dara.
"Rindu, mana anak itu, dia anak gila dan kalian percaya pada anak gila. Gadis itu pun sepertinya sudah gila," ujar pria itu tanpa rasa bersalah.
Sanny maju ke depan Dara. "Bagaimana denganku kau juga dua kali mau melakukan hal bejat kepadaku! Untuk Aris menolongku dari pria tua itu," tuding Sanny dengan berderai air mata.
"Aku saksinya Bu," kata Aris maju.
Wajah Ibu Panti mulai mengeras. Lalu keributan di panti pun terjadi. Niat hati Alehandro untuk merayakan pernikahannya dengan Dara yang ada mereka malah membuat keributan di sana.
Suami pemilik panti akhirnya di bawa ke Polisi atas kesalahannya yang melakukan pelecehan terhadap beberapa anak panti hingga salah satunya menjadi gila.
Beberapa anak mengucapkan terimakasih karena Dara telah menghilangkan ketakutan mereka. Ibu panti hanya bisa menangis dikediamannya, tidak menyangka jika suaminya melakukan itu pada anak-anak didiknya.
Satu masalah sudah terangkat dan semua terlihat mudah ketika bersama Alehandro. Akhirnya rencana selamatan di tunda walau makanan dan hadiah untuk anak-anak panti dibagikan.
Mereka lalu kembali ke rumah Alehandro untuk beristirahat setelah melewati hari berat. Kaisar dan Rose masuk ke dalam kamar masing-masing karena Rose telah dibuatkan kamar tersendiri oleh Alehandro di sebelah kamar Kaisar. Dia juga telah mendapatkan satu pengasuh untuk mengurus keperluan Rose.
__ADS_1
Dara berjalan ke arah kamarnya dan hendak masuk namun tangan Alehandro menarik sehingga tubuhnya masuk ke dalam pelukan pria itu.
"Kamarmu bukan disana lagi," kata Alehandro.
Dara meringis. "Aku lupa." Alehandro menggelengkan kepalanya dan menghembuskan nafas keras. Dara berusaha untuk melepaskan diri.
"Barang-barangku," kilah Dara sembari mengigit bibirnya dan menaikkan alis ke atas.
"Ambillah beberapa baju saja selebihnya biar pelayan yang memindahkannya ke dalam."
Dara lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya lalu menutupnya. Dirinya memegang dadanya yang berdebar dengan cepat.
Takut, gugup, cemas, dan gelisah jadi satu. Dia hanya berjalan mondar mandir di dalam kamar itu sembari menyeka keringat yang keluar dari dahi.
Ingin rasanya kabur tetapi sangat lucu kan jika melarikan diri dari suaminya. Netranya kemudian tertuju pada sofa di bawah jendela. Dimana tadi malam Alehandro menciumnya dengan mesra tidak melakukan lebih tetapi itu meningkatkan hormon dalam tubuhnya.
Sebuah lemari menjadi fokusnya. Dara lalu maju dan melihat ke dalam isi lemari itu. Hanya ada beberapa baju saja dan itu terlihat biasa saja. Dara lalu melihat ********** yang terlihat tidak menarik.
Alehandro yang sudah menunggu Dara di kamar dengan tidak sabar. Dia keluar dari kamarnya, berjalan masuk ke kamar Dara dengan pelan dan melihat Dara sedang melihat ke arah pakaian dalam di tangannya.
"Dara!" panggil Alehandro yang berdiri menjulang tinggi di depannya.
Dara yang terkejut lalu meletakkan benda sakral miliknya ke belakang tubuh. Wajahnya memerah karena malu.
"Kenapa lama?" Dara berpikir lama untuk menjawab pertanyaan Alehandro.
"Apa yang kau sembunyikan?" tanya Alehandro pura-pura tidak tahu.
"Bukan apa-apa," kata Dara menduduki barang itu. Alehandro mencoba untuk mengambilnya tetapi Dara tetap menyembunyikannya.
"Ale, hentikan," kata Dara yang tetap tidak mau melepaskan pegangannya. Sehingga mereka berdua terjatuh di tempat tidur dengan posisi Alehandro berada di atas Dara. Wajah pria itu berada sangat dekat dengan wajah Dara membuat nafasnya yang berbau harum mint menerpa wajah Dara. Dara terdiam seketika, tubuhnya membeku. Tangan Alehandro masuk ke belakang tubuh Dara dan mengambil barang berwarna merah tanpa melihatnya.
__ADS_1
"Ukuran 38 cup B, betulkan?" tanya Alehandro. Leher Dara mengerat.
"Tanpa ini kau akan terlihat cantik," goda Alehandro bangkit dari tubuh Dara.
"Kau," kata Dara merebut sepasang dalaman miliknya.
"Buang itu karena aku sudah membelikanmu beberapa dalaman yang bagus, kau mau melihat?" kata Alehandro membuang dalaman Dara ke sembarang arah, membuat wanita itu membuka mulutnya lebar.
"Kau itu tidak sopan," kata Dara tetapi menuruti langkah kaki Alehandro.
Pria itu lalu membiarkan Dara jalan terlebih dahulu. Dara menghentikan langkahnya ketika berada di depan pintu kamar Alehandro. Alehandro memegang bahu Dara dan mendorongnya masuk ke dalam kamar.
Dara tidak berhenti menatap kagum pada tatanan kamar itu. Semuanya berwarna putih bersih, seperti ruangan lain di rumah ini. Namun, nampak berbeda. Bau harum lavender yang lembut langsung menyapa indera penciumannya. Jendela kaca besar memenuhi sebagian besar ruangan itu dengan korden putih yang menari-nari dengan indah tertiup angin. Di engah ruangan ada sebuah tempat tidur berukuran besar berwarna putih dengan seprai berwarna merah, terlihat sangat kontras.
Di sebelah kiri kamar ada sebuah balkon kamar yang terbuka lebar memperlihatkan pemandangan keluar halaman depan rumah. Sesuatu yang menarik perhatian Dara adalah sebuah sofa raksasa yang lebar dan tinggi, selebar single bed berada di depan sebuah layar TV berukuran besar. Dara merasa seperti berada di sebuah ruang president suit, hotel Alehandro.
"Apa kau menyukainya?" tanya Alehandro berbisik di telinga Dara. Tangannya menelusup ke pinggang ramping wanita itu. Tubuh Dara meremang dan merasa geli dengan perlakuan Alehandro.
"Sangat, apakah kamar ini Maria yang merancangnya?" tanya Dara polos.
"Tidak kamar Maria berada di ruangan lain sebelah kamar ini. Aku tidak mungkin meletakkan kalian di kamar yang sama walau dia sudah tiada," kata Alehandro.
"Aku tahunya dari awal kau menempati kamar ini," kata Dara. Alehandro lalu berjalan ke arah tempat tidur dan duduk di sana.
"Setelah Maria meninggalkanku, aku tidak pernah memasuki kamar kami karena hatiku tidak kuat memendam kesedihan. Semua hal yang berkaitan dengannya serasa mengingatkanku akan sosok Maria, setiap sudut ruangan bayangan Maria selalu terlihat, bau harum ruangan itu serasa menyiksaku mengingatkanku akan kehadirannya, suaranya terkadang terdengar memanggilku, semua hal di kamar itu seperti membuatku gila. Hingga aku ingin pergi menyusulnya tetapi tidak mungkin karena ada Mom dan Kaisar yang membutuhkanku."
"Lalu aku pindah ke kamar ini. Setelah kau datang, aku baru berani masuk ke kamar itu dan melihat semua kenangan Maria yang dia tinggalkan, mulai kembali melihat dunia dan menata hidup."
"Kau sangat mencintainya," tanya Dara berjalan ke depan Alehandro.
"Sangat," ucap pria itu parau masih terpancar kesedihan dari mata pria itu. Alehandro lalu melihat Dara dan merasa tidak enak karena jawabannya mungkin akan menyakiti hati wanita itu.
__ADS_1