
Pada pukul empat pagi Dara mata Dara terbuka ketika melihat Alehandro sedang berada di sajadahnya dengan menengadahkan kedua tangan ke atas.
Terbesit suatu kedamaian dalam hatinya. Betapa beruntungnya dia memiliki suami seperti dirinya, tidak pernah terpikirkan dalam hatinya akan di sunting oleh pria seperti itu.
Dulu dia beranggapan jika Maria sangat beruntung memiliki suami seperti dirinya dan kini sahabatnya itu membagi suami dengan dirinya.
"Maafkan aku Maria jika aku telah meminjam suamimu untuk menemani hidup ku ke depannya," batin Dara.
Dara hendak bangun namun tubuhnya terasa sangat remuk dan bagian bawah pusarnya seperti sakit. Ini seperti malam pertama baginya. Pria itu benar-benar ganas tadi malam dan dia kewalahan untuk mengimbangi permainannya. Mungkin karena lama tidak menyalurkan hasrat membuatnya seperti itu.
"Sssshhh," desis Dara ketika mencoba untuk turun dari tempat tidur. Alehandro langsung menoleh dan bangkit. Dia lalu bersimpuh di depan Dara.
"Apakah sakit?" tanya Alehandro khawatir. Dia juga terkejut karena melalui jalan surga itu dengan sulit. Padahal wanita itu sudah melahirkan seorang anak. Mungkinkah karena tidak pernah melakukan lagi setelah itu. Alehandro tidak mengerti tetapi mensyukurinya.
"Sedikit," kata Dara.
"Biar aku bantu," kata pria itu hendak mengangkat Dara. Namun, Dara menggelengkan kepalanya.
"Kau itu," kata Alehandro langsung menggendong Dara membuat wanita itu terkejut.
"Bukankah kau masih menunggu subuh datang," ujar Dara.
"Masih bisa berwudhu lagi."
Alehandro lalu menyiapkan air hangat dalam bak mandi, sementara itu Dara hanya melihat sembari duduk di atas toilet.
"Apa sakit sekali?" tanya Alehandro. Dara menggelengkan kepalanya. Dia ingin menangis diperlakukan baik seperti ini. Tidak pernah ada yang melakukan ini padanya.
Tanpa terasa air matanya mengalir dan Dara mulai terisak membuat Alehandro bingung.
"Kenapa kau menangis?" tanya Alehandro. "Apa aku melakukan kesalahan?"
Bukannya berhenti menjawab Dara malah menangis semakin keras. Dia akan kuat jika tersakiti tetapi jika diberi cinta dia malah tidak kuat menahannya.
"Dara kau kenapa?" tanya Alehandro.
"Kau jangan terlalu baik padaku," ucap Dara membuat Alehandro membuka mulutnya.
"Kau itu ada-ada saja membuatku takut." Alehandro menepuk kepala Dara dengan lembut sembari tersenyum.
"Kau adalah istriku sudah seharusnya seorang suami mengistimewakannya," kata Alehandro. Perkataan Alehandro membuat hati Dara melayang. Beginilah rasanya dicintai dan dimiliki?
__ADS_1
"Aku ingin memelukmu tapi tubuhku masih kotor," ucap Dara malu. Alehandro gemas, dia lalu menggendong Dara ke bak mandi.
"Kau bukan kotor hanya saja belum mandi besar untuk menyucikan diri."
"Aku tidak tahu tentang itu, maukah kau mengajariku?" tanya Dara.
"Tentu saja. Karena sekarang aku jadi imammu."
***
Rose dan Kaisar sudah mulai bersekolah. Awalnya Kaisar menolak tetapi ketika Dara berjanji akan menunggu Kaisar dan Rose di sekolah Kaisar akhirnya setuju.
"Uhuk ... uhuk ... !" Mom Lusi mulai batuk-batuk kembali. Dara lalu mengambilkan teh hangat untuk mertuanya.
"Mom seharusnya kau memakai syalmu," ujar Dara menyuruh pelayan untuk mengambilkan syal untuk mertuanya.
"Aku baik-baik saja, Dara, kau tidak perlu cemas," ujar Mom Lusi.
"Rose minum susumu!" peringat Dara pada anaknya yang menjauhkan gelas susunya. Rose terlihat menarik nafasnya.
"Bu, tadi Oma Nat menelponku. Katanya dia dan Buyut mau kemari," kata Kaisar.
"Oh, ya!" kata Dara sembari menyendokkan nasi uduk ke piring Kaisar.
"Baguslah, kau bisa bersenang-senang," Dara tersenyum.
"Apakah aku juga boleh ikut?" tanya Rose.
Dara melihat pada Alehandro seperti meminta bantuannya menjawab pertanyaan Rose.
"Kau ikut Ayah Ale, saja ke mall bersama Ibu, kita main di sana hingga kau puas," ajak Alehandro.
Kaisar mencebikkan mulutnya. "Aku juga ikut Ibu saja, sepertinya lebih asik."
"Bukankah Omamu ingin mengajak berlibur, kau harus ikut mereka karena mereka akan sedih jika kau tidak ikut. Mereka rindu padamu dan hanya ingin bersamamu untuk beberapa hari," terang Dara. Kaisar masih saja menekuk wajahnya. Dara lalu mengusap rambut Kaisar.
"Tidak setiap hari Kaisar, kau bisa pergi lagi bersama kami lain waktu. Kali ini tugasmu adalah membuat Oma dan buyut senang dengan tidak membuat kecewa mereka," lanjutnya.
"Seperti aku yang tidak boleh nakal jika bersama Mom Sheila, Ibu juga mengatakan jangan merepotkannya dan buat dia senang."
Dara menganggukkan kepalanya. Setelah melayani semua orang dia baru duduk di sebelah Alehandro. Pria itu lalu menurunkan korannya dan melihat ke arah Dara.
__ADS_1
"Duduk dan makanlah," kata Alehandro. Dara tersenyum lalu mulai menyuap makanan dan belum sampai ke mulutnya.
"Ibu susunya tumpah," kata Rose memperlihatkan meja yang basah oleh tumpahan susu.
Dara lalu berdiri. "Kau itu selalu saja seperti ini," omelnya.
Alehandro lalu melihat sendok Dara yang masih berisi nasi.
"Dara biarkan Mbaknya yang membersihkan kau teruskan makanmu," perintah Alehandro. Dara menghela nafas lalu menyerahkan lap itu pada asisten rumah tangga dan dia mulai duduk di kursi.
"Ibu, duduklah dengan tenang dan mulai makan," kata Alehandro berbisik.
"Tapi!" Alehandro menyendokkan nasi ke mulut Dara. Dara lalu tersenyum.
"Ibu sudah besar kok disuapi," ujar Kaisar.
Alehandro memang paling pintar jika mengambil hati seseorang, termasuk Dara.
Setengah jam kemudian Dara sudah berada di kamar untuk mengambil berkas milik Alehandro yang masih tertinggal di atas. Dia mulai membuka semua nakas kamar dan membaca satu persatu kertas yang ada hingga netranya melihat satu kertas yang dilipat dua.
Dara penasaran tulisan apa itu. Dia mulai membukanya dan melihat jika dibawah sana bertuliskan Maria beserta tanda cinta.
Dara lalu duduk di tepi tempat tidur dengan nafas yang terasa sesak ketika membacanya.
Dear. Suamiku tercinta Alehandro.
Jika kau menemukan surat ini berarti aku memang sudah tidak ada di dunia ini. Tetapi yakinlah jika cintaku akan selalu ada untukmu dan cintaku tidak terbatas tempat, waktu, dan tidak bisa dipisahkan oleh kematian.
Sayang, janganlah bersedih hati ketika aku telah tiada. Jangan juga merutuki takdir yang tidak berpihak apalagi sampai marah pada ank kita dan mengira dia adalah penyebab kematianku. Kau tahu anak kita adalah bukti cintaku padamu. Jadi jika kau kecewa maka kau juga mengecewakan cintaku.
Dia adalah aku dalam bentuk lain. Maka sayangi dia dan jaga dia dengan baik.
Sayang, aku tahu kau sangat mencintaiku. Namun, aku berharap kau akan menemukan penggantiku suatu hari nanti. Pengganti yang bisa menjagamu dan mencintaimu dengan sepenuh hati.
Kau tahu jika anak kita juga membutuhkan ibu yang baik. Maka jika kau mau menikah lagi carilah wanita yang memang menyayangi anakku dengan sepenuh hati. Namun, jika boleh aku meminta satu hal padamu untuk terakhir kalinya. Aku minta kau mencari Dara, temanku untuk menjadi ibu bagi anakku. Karena hanya dia yang bisa kupercaya untuk menggantikan posisiku. Aku juga percaya dia akan menyayangi anakku dengan sepenuh hati.
Itu semua akan terjadi jika kau menyetujuinya dan aku pun tidak akan memaksamu. Dara pun punya kehidupan dan pilihan sendiri. Aku hanya bisa berharap dan berdoa pada Tuhan semoga semua keinginanku ini bisa terjadi dan kalian akan bersatu.
Selamat Tinggal Cinta. Jangan bersedih tetaplah menatap masa depan dengan senyuman.
Dari cintamu. Maria.
__ADS_1
Setelah membaca surat itu, Dara terlihat shock berat.