Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Mencari Bukti


__ADS_3

Riska duduk di ruang tengah sendiri dalam kegelapan. Dia mengayunkan kursi malasnya dan mulai berfikir.


Tadi siang secara tidak sengaja dia melihat Cristian menarik tangan Cinta dan membawanya pergi di depan semua orang. Dan mereka hanya terdiam dan menjadi penonton saja melihat semua itu.


Permainan apa yang sedang mereka mainkan? Apakah mereka berniat untuk mempermainkan putrinya? Dan hubungan Cristian juga Cinta terlihat aneh. Dia bisa merasakannya jelas.


Berbagai pikiran negatif masuk ke dalam relung hatinya. Riska memijit kepalanya yang terasa pening.


Flash back.


"Bu, kemana Cinta?" tanya Bella ketika sedang mencoba gaun pengantinnya. Ivan hanya menundukkan wajahnya pura-pura tidak tahu.


''Mungkin dia ada urusan mendadak dan penting di luar sehingga dia pergi begitu saja," jawab Riska pura-pura tidak tahu kejadian tadi. Dia masih melihat kotak yang berisi baju pengantin Cinta masih teronggok di atas meja.


"Bu, bagaimana menurutmu, Bu? Indah sekali bukan!" seru Bella. Riska menganggukkan kepalanya dan tersenyum sembari menyentuh model baju yang dikenakan oleh Bella.


"Kau akan menjadi pengantin tercantik tahun ini, Nak," imbuh Riska. Ivan ikut tersenyum kecut. Dia tidak berani mengatakan sesuatu atau mengeluarkan suara sedikitpun.


"Sayang Cristian tidak melihat gaun yang akan ku kenakan ini. Padahal aku sangat berharap dia ada di sini saat ini," ucap Bella dengan nada sedih. Riska terkejut, ternyata Cristian tidak menemui Bella tadi. Berarti dia kemari hanya untuk menemui Cinta. Pikirnya.


"Nanti di hari pernikahan kalian, dia pasti akan takjub melihatmu terlihat begitu cantik dengan gaun ini," kata Riska menenangkan hati anaknya. Bella menganggukkan kepalanya senang.


Riska menatap tajam pada Ivan yang terlihat menyembunyikan sesuatu. Dia merasa ada konspirasi di sini.


Riska lalu berjalan meninggalkan Bella sendiri dan pergi untuk menunggu kedatangan suaminya. Keadaan ini membuat hatinya sesak. Perasaannya sebagai seorang ibu terasa terluka. Tanpa terasa air matanya sedikit menetes dan buru-buru di usapnya agar tidak ada yang melihatnya.


Dia berjalan ke kamarnya dan berhenti sejenak di depan sebuah foto keluarganya.


"Bukankah sudah kukatakan, jika dia akan menjadi ular yang akan menghancurkan kebahagiaan Bella!" ucapnya. Riska mengambil nafas panjang dan berjalan kembali ke kamarnya.


Flash back off


Riska terkejut ketika lampu ruangan mulai dinyalakan.

__ADS_1


"Kenapa kau belum tidur?" tanya Setiawan pada istrinya.


"Aku hanya menunggu kepulangan Cinta," jawab Riska. Dia lalu berdiri dan mendekati pintu jendela.


Setiawan mendekati Riska dan memeluknya erat dari belakang.


"Terima kasih karena telah menjadi ibu yang baik dan terima kasih karena kau telah merawat mereka dengan sepenuh hati," ucap Setiawan mengecup bahu Riska.


"Itu sudah menjadi tugasku untuk selalu mendukung langkah suamiku," balas Riska memutar tubuhnya.


"Aku tahu kau memang selalu bisa diandalkan," Setiawan memeluk Riska.


"Bagaimana reaksimu jika tahu kalau Cinta punya affair dengan Cristian, suamiku?" tanya Riska di dalam hati.


"Ardi tadi membeli sebuah kebaya cantik untuk pernikahannya dengan Cinta," pancing Riska.


"Oh ya? Bagus kalau begitu. Aku sudah mengatakan pada anak itu untuk menikahi Cinta secepatnya," kata Setiawan.


"Kau memperbolehkan Cinta untuk menikah dengan anak dari seorang pembantu?" kata Riska.


"Bagaimana nasibnya nanti jika menikah dengan pria seperti itu?" tanya Riska.


"Ardi anak yang sopan dan bertanggung jawab, dia pasti bisa membahagiakan Cinta."


"Bagaimana dengan pekerjaannya?"


"Dia sudah menjadi manager di perusahaan Cristian dan dia juga sedang menggarap suatu proyek besar di luar kota. Dia bisa di andalkan. Satu lagi, mereka juga telah hidup dan besar bersama selama ini tidak ada pria yang tepat untuk Cinta selain Ardi," kata Setiawan. Dia lalu terdiam dan memandang Riska.


"Aku tahu kau begitu peduli pada Cinta. Untuk itu aku mengucapkan banyak terima kasih karena kau telah mengkhawatirkan Cinta, Sayang," ucap Setiawan.


"Dia juga anakku, aku juga khawatir akan masa depannya." Riska memeluk suaminya. Setiawan membalas pelukan Riska, jauh di dalam hatinya dia sangat bangga akan sosok Riska yang tetap setia menemaninya hingga hari ini.


"Sudah malam sebaiknya kita ke kamar untuk tidur," ajak Setiawan yang tidak sadar bahwa Cinta tidak ada di rumahnya. Pekerjaan terkadang menuntutnya untuk pulang hingga larut malam.

__ADS_1


"Aku mau lihat keadaan anak-anak terlebih dahulu,'' ucap Riska berbohong. Setiawan lalu mencium dahi Riska dan meninggalkannya.


Riska melihat jarum jam sudah menunjukkan angka sebelas, namun Cinta belum pulang juga. Sebenarnya apa yang Cristian dan Cinta lakukan di luar sana? Rasa khawatir menguasai pikirannya.


Riska berjalan keluar dari ruangan itu menuju kamar anak-anaknya. Dia melangkahkan kaki ke kamar Bella terlebih dahulu. Anak itu sudah tertidur pulas, masih memegang handphone di tangannya. Riska mengambil handphone itu dan mengelus lembut rambut Bella.


"Kau selalu menjadi anak yang penurut, ibu bangga padamu. Semoga kebahagiaan menyertaimu," bisik Riska di telinga Bella.


Dia mulai membuka handphone milik Bella. Foto tampan Cristian terpampang di wallpaper Bella. Tidak ada yang penting dari isi di handphone itu, di dalamnya hanya ada chat tentang pekerjaan dan chat dari Cristian.


Bellanya begitu lugu dan polos, selalu melihat semua orang itu baik. Padahal dunia itu kejam semua orang bisa menusuk dari belakang. Tidak pandang bulu, status dan hubungan. Riska mulai menyelimutinya dan mengecup dahi Bella lembut.


"Bu, i love you," Bella terbangun ketika melihat ibunya ada di kamarnya.


"Masih malam tidurlah lagi," kata Riska berbisik.


Bella lalu memejamkan matanya lagi.


Riska beranjak keluar dari kamar Bella dan memasuki kamar Cinta. Dia mulai menyalakan lampu kamar. Menuju rak dan mencari sesuatu hal yang bisa membuktikan kecurigaannya. Namun tidak ada.


Riska duduk di pinggiran tempat tidur dan menekan pangkal hidungnya. Mungkin dia yang terlalu takut Cinta akan menyakiti hati Bella yang lemah sehingga dia menuduh Cinta yang tidak-tidak.


Cinta memang anak yang bandel dari kecil. Dia susah diatur dan lebih suka dengan kehidupan luar yang bebas. Sedangkan Bella adalah anak rumahan yang rajin. Dia jarang keluar rumah dan selalu menghabiskan waktunya di rumah. Kelakuan Cinta kecil selalu menguras emosi Riska hingga dewasa anak itu tetap tidak mau diatur. Dia ingin hidup bebas layaknya seekor burung yang bisa terbang ke alam liar.


Bila mengingat masalalu membuatnya mengeluarkan air mata. Dia takut jika masalalu itu akan terulang lagi.


Dia menyeka air matanya dan hendak pergi keluar dari kamar itu. Namun tanpa sengaja dia menjatuhkan boneka kesayangan Cinta.


Riska meletakkannya lagi di atas bantal Cinta. Namun dia melihat sebuah jas pria terlipat rapi di bawah bantal Cinta.


Riska mengambilnya.


"Ini jas mahal dan branded, tidak semua pria kaya bisa memilikinya. Tidak juga Ardi bahkan sekelas ayah juga belum pernah memilikinya. Jangan-jangan ini milik Cristian. Pria itu selalu memakai barang branded dan mahal," pikir Riska sembari mencium aroma jas itu.

__ADS_1


"Dan ini wangi parfum mahal, masih melekat di jas ini," Riska memegang jas itu dan meremasnya.


"Cinta apa yang kau lakukan?Aku tidak mengira kau akan setega itu pada kakakmu sendiri!" geram Riska.


__ADS_2