
Alehandro berlari masuk ke dalam kamar mandi, namun dia terkejut untuk kedua kalinya ketika Dara berlari kearahnya lalu naik begitu saja ke tubuh Alehandro dengan dan mengalungkan tangan ke leher keras pria itu. Kaki Dara menjapit pinggang pria itu. Dari wajahnya tersimpul senyuman lebar.
"Ada apa? Mengapa kau tampak bahagia?" tanya Alehandro menaikkan kedua alisnya ke atas.
"Aku punya hadiah untukmu?" ucap Dara.
"Hadiah? Hadiah apa yang disembunyikan di dalam kamar mandi? Apa kau memberiku sebuah sabun wangi dengan harum terbaru yang akan membangkitkan gairah kita?" tanya Alehandro meletakkan tubuh Dara ke atas wastafel.
"Ck! Pikiranmu selalu me ... sum saja," ucap Dara.
"Mengingatmu saja sudah membuatku bergairah, kau itu sangat menggemaskan. Aku ingat waktu pertama kali kita melakukannya, kau seperti perawan yang masih malu-malu namun semakin kesini aku melihat sisi liar dirimu yang terpendam mulai keluar. Permainan kita semalam, membuatku tergoda untuk pulang lebih awal. Bayangan dan desahanmu membuatku gila dikantor tadi, oh Dara, kau memang wanita yang luar biasa," puji Alehandro membuat wajah Dara merona.
Dara teringat jika tingkat hormon testosteron pria itu meningkat, dia benar-benar membuat dirinya mengerang sepanjang malam, merasa lelah dan menjadikannya mengantuk di siang hari. Di umur pria itu yang matang bahkan terlalu matang, staminanya sangat tinggi dan permainannya di tempat tidur cukup diacungi jempol.
Dari semua film porno yang dilihatnya dahulu ketika masih gadis, Alehandro tidak kalah hot dengan para pemain pria. Dia sangat berpengalaman. Untung saja dia sudah tobat jika tidak Dara tidak bisa membayangkan pasti akan banyak wanita yang datang untuk menggodanya hanya untuk sekedar bisa bermalam bersama pria itu.
Tidak ada yang boleh menyentuh suaminya, dia tidak mau jadi pemain wanita dari drama yang sedang ngebom tentang layangan yang putus. Dia bertekad akan melakukan apapun asalkan bisa membuat pria itu puas akan dirinya. Puas karena perut atasnya terisi makanan enak dan puas karena perut bagian bawahnya terpenuhi keinginannya.
"Hentikan pembicaraan tentang itu. Mulai saat ini kau harus berhenti untuk melakukannya!" kata Dara.
"Lho, mengapa? Salah apa aku?" tanya Alehandro.
"Kau salah besar telah menyentuhku tanpa pengaman," kata Dara.
"Apa maksudmu?" Dara menepuk dahinya sendiri.
"Kau belum tahu juga?" Alehandro menggelengkan kepalanya. Namun, detik itu juga matanya membelalak lebar.
"Jangan katakan jika ... .'' Dara lalu memperlihatkan testpack yang dia pegang dari tadi di belakang leher Alehandro.
Garis dua berwarna pink menghiasi benda pipih panjang itu. Alehandro tertawa tanpa bersuara sambil mengambil alat itu dan menunjukkannya pada Dara tidak percaya jika di umurnya yang sudah kepala empat lebih masih bisa menghamili wanita itu dengan cepat. Bagaimana pun spermanya itu adalah bibit baik yang patut untuk dibanggakan?
__ADS_1
"Terimakasih," kata Alehandro mengecup dahi Dara. "Kau memberikan hadiah terindah bagiku."
"Ini juga hadiah yang luar biasa bagiku, hamil anakmu itu adalah suatu anugerah besar. Bukan berarti Rose bukan anugerah terindah, tetapi kebersamaan denganmu yang penuh cinta membuatnya istimewa."
Alehandro terharu mendengar kata-kata Dara. Pria itu menangkup pipi wanita itu dan menyatukan dahi mereka.
"Kebersamaan denganmu juga hal yang istimewa dan luar biasa bagiku. Kau selalu bisa membuatku tertawa, tersenyum dan marah di saat yang sama. Aku ingin kita selalu bersama seperti ini sampai kita tua, tidak ada yang berubah."
"Ale, apakah kau mencintaiku?" tanya Dara lirih. Pria itu tidak pernah mengatakannya pada Dara. Alehandro menatapnya penuh arti.
"Aku tahu semua perhatian dan kasih sayang selalu tercurah darimu tetapi aku ingin kau mengatakan jika kau mencintaiku," harap Dara cemas. Sampai saat ini dia merasa jika dirinya hanya sebagai pengganti Maria dan hanya ada Maria dihati Alehandro.
Manik mata mereka bertemu. Dara menunggu jawaban dari Alehandro dengan penuh harap. Hatinya takut jika pria itu mencari alasan untuk mengatakannya, jika itu terjadi maka fix, Alehandro hanya menjadikan, dia istrinya tanpa rasa cinta. Haruskah hatinya patah lagi untuk kedua kalinya?
"Mereka yang tidak mencintai pasti tidak menunjukkan cintanya. Aku mencintaimu hingga membuat lidahku kelu dan semua kata-kata hilang begitu saja begitu melihat wajah Ayumu."
Dara terdiam dia lalu menutup wajahnya dan terdengar isak tangisnya.
Bukannya berhenti menangis Dara malah menangis lebih keras. Alehandro terlihat bingung. Dia lalu memeluk tubuh Dara.
"Kenapa kau menangis aku tidak suka melihat air matamu!"
"Baru kali ini aku mendengar ada yang mengatakan mencintaiku dengan kata-kata yang indah. Kris pernah mengatakan itu tetapi saat dia mempunyai istri dan aku tidak yakin dia memang mencintaiku. Sedangkan kau mengatakan hal itu untuk diriku sendiri, hanya untukku karena saat ini hanya aku yang ada di sisimu," jawab Dara.
"Saat ini?" beo Alehandro mengangkat alisnya.
"Ya, aku tidak tahu jika besok ketika aku sibuk dengan anak-anakku kau malah pergi bulan madu dengan wanita lain seperti di film yang sedang viral itu?" Alehandro menyentil dahi Dara keras.
"Kau itu ada-ada saja. Aku bukan tipe pria yang tidak setia. Jika aku mau aku sudah punya kekasih banyak atau istri sebelum menikahimu. Nyatanya, aku malah betah menduda, menunggu kau siap untuk kunikahi," ujar Alehandro.
"Sudah jangan seperti Mom yang selalu doyan dengan sinetron dan termakan oleh alur ceritanya," lanjut Alehandro.
__ADS_1
"Iya, iya aku salah!"
"Dara aku punya hadiah untukmu. Sepertinya hadiah itu pas momennya."
"Hadiah apa?" tanya Dara. Alehandro lalu mulai menggendong Dara lagi seperti koala membawanya ke kamar mereka dan meletakkannya di depan cermin meja rias.
Alehandro lalu melangkah ke meja sofa mengambil sesuatu di dalam tas kerjanya.
"Entah mengapa aku ingin membelikan ini untukmu dari kemarin, aku memesannya khusus dari Perancis dari perancang kenamaan."
"Kau tidak perlu memberikanku perhiasan lagi. Perhiasan yang kau dan Mom berikan pun belum sempat kupakai semuanya," kata Dara. Mok Lusi telah memberikan hampir semua perhiasannya pada Dara karena dia adalah istri dari Alehandro.
"Apakah salah memberikan hadiah untuk istrinya?'' tanya Alehandro membuka sebuah kalung berlian dengan inisial nama mereka yang bergandengan. AD.
Mata Dara terpukau seketika melihat kemilau diamond yang menghiasi kalung itu.
"Ale, ini indah sekali," kata Dara.
"Tidak seindah dirimu," jawab Alehandro menyematkan kalung itu di leher Dara. Dara lalu menyentuhnya dan tersenyum. Satu kecupan dilayangkan Alehandro di pipi Dara.
"Apa ini cocok untukku?'' tanya Dara.
"Kau itu cantik cocok memakai apapun." Dara merasa naik ke atas langit jika mendengar pujian dari Alehandro.
"Dara, temanku David akan merayakan ulang tahun putrinya. Aku ingin membawamu dan anak-anak pergi kesana!" ujar Alehandro.
Dara mulai merasa gugup. Dia tidak percaya diri jika pergi ke tempat para sosialita berkumpul. Wanita itu lantas memegang keningnya yang mulai merasakan pusing lagi.
"Bolehkah aku tinggal di rumah saja. Sepertinya kehamilan ini membuatku tidak enak badan," kilah Dara agar Alehandro mengurungkan niatnya membawa dia pergi.
"Kau bisa pergi bersama Kaisar."
__ADS_1