Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Tak Sesuai Angan


__ADS_3

David memandangi Bella, yang tertidur lelap dalam pelukannya. Matanya yang selalu memancarkan aura kelembutan tertutup rapat. Pipinya terlihat halus dan kenyal, sangat putih layaknya marsmellow berwarna putih yang lembut dan manis.


David menyentuh bibir merah nan menggiurkan milik Bella. Sebuah senyum kembali terbit di bibirnya tatkala mengenang percintaan mereka yang mendebarkan dada.


Dia tidak menyangka jika Bella bisa jatuh dalam pelukannya kini. Dia tahu jika wanita ini sangat sulit di dapatkan. Dan statusnya yang menjadi pasangan Cristian membuat para pria enggan untuk melihatnya. Mereka tahu diri karena kalah saing dengan pamor pria itu.


Dari awal memang David sudah tertarik dengan wanita ini. Dia mengakui jika dia pria bajingan yang sering berganti wanita walau telah beristri. Bagi wanita bercinta dengan mereka akan menguntungkan secara batiniah karena terpuaskan dan secara keuangan karena dia selalu memberi keuntungan pada mereka dalam bentuk materi atau membantu bisnis mereka. Maka dari itu dia menawarkan diri pada Bella agar mau menjadi simpanannya tanpa tahu terlebih dahulu jika dia adalah wanita Cristian.


Handphone miliknya yang berada di atas nakas tempat tidur mulai bergetar. David meraihnya dan melihat siapa yang melakukan panggilan di pagi buta.


"Kau tidak pulang?" tanya suara dari balik layar.


"Aku masih ada pekerjaan di kantor," jawab David. Dia menyambar celana boxer dan memakainya. Lalu berjalan keluar balkon kamar.


"Katakan saja jika kau sedang bersama wanita lain saat ini,"


"Toh ! Kau tak pedulikan hal itu bukan?"


"Aku hanya berharap kau bisa memaafkanku dan memulai semuanya dari awal," terdengar ******* lirih.


"Dari awal memang sudah tidak baik dan kita telah berusaha untuk saling memahami selama ini. Namun cinta itu tidak bisa dipaksakan, kau tahu benar akan hal ini," ucap David.


"Aku mencoba memperbaiki diriku dengan melepaskan jabatanku di perusahan itu namun kau terkesan tak peduli dan aku pergi karena menyerah untuk mendapatkan cintamu ... hingga aku tahu jika apa yang kita nantikan telah datang ke bumi."


"Apa maksudmu?"


"Aku hamil," David hampir tersentak kaget dengan kabar ini. Seharusnya dia bahagia dengan kehamilan istrinya yang telah dia tunggu selama ini. Namun ini malah terdengar seperti kabar buruk untuknya.


"Aku telah menunggu kepulanganmu selama seminggu ini untuk mengabarkan soal kehamilanku, namun kau tidak kunjung datang,"

__ADS_1


"Bagaimana bisa, kita bahkan tidak pernah melakukannya lagi selama tiga bulan ini,"


''Aku meneruskan program bayi tabung itu,"


"Katamu kau tidak ingin terganggu dengan pekerjaanmu?" tanya David.


"Maaf, aku baru sadar jika aku mencintaimu setelah berpisah denganmu dan aku akan melakukan apa pun asal kita bisa tetap bersama, karena itu aku melakukan proses bayi tabung yang tertunda itu," kata suara serak dari balik telephon.


David menutup matanya erat. Dia tidak mengira jika dia memiliki dua kebahagiaan yang sangat berseberangan. Kehamilan istrinya dan baru saja memiliki Bella. Haruskah dia memilih diantara keduanya?


"Apa kau tidak bahagia? Bukankah kemarin kau sangat menginginkannya?"


"Aku bahagia, aku akan menjemputmu pulang besok!" ujar David.


"Kita tinggal saja di rumahku untuk sementara waktu karena aku tidak belum boleh banyak bergerak selama tiga. Aku membutuhkanmu untuk mendukungku kali ini," ujar wanita itu terdengar memelas.


David mengusap wajahnya kasar.


"Aku menunggumu." Panggilan itu lalu dimatikan.


Setelahnya lima tahun pernikahan mereka seharusnya dia bahagia mendengarnya. Dia harusnya senang karena akhirnya Sofi mau melakukan proses bayi tabung itu dan mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai vice president sebuah perusahaan telephon seluler di negara ini. Namun tidak, dia tetap merasa hampa.


David berjalan masuk lagi ke kamar. Dia melihat selimut Bella melorot ke bawah. Bella tidur dengan menelungkupkan tubuhnya, sehingga memperlihatkan punggung wanita itu yang bercahaya terkena sinar bulan yang masuk melalui pintu balkon yang terbuka lebar.


Dia lalu duduk di pinggir tempat tidur, menelusuri tulang punggung wanita itu dengan jari telunjuknya lembut. Membuat tidur wanita itu terasa terusik dan mulai bergerak.


David mulai berbaring di sebelah Bella. Mengecup pelan seluruh punggungnya dari bawah hingga naik ke atas dan sampai di leher wanita itu yang putih. Dia mulai menghisapnya, terdengar lenguhan lirih dan mata wanita itu mulai terbuka.


"Kau mengganggu tidurku!" ucap Bella.

__ADS_1


Tangan besar David mulai memeluk wanita itu dan memegang satu bukit kembar milik wanita itu dan meremasnya berlahan sedangkan bibirnya bermain di leher.


"Penyakit semua pria adalah masalah ereksi di pagi dan aku ingin menuntaskannya," ungkap David lalu memulai aksinya membuat wanita itu melayang untuk kedua kalinya.


"Kau melakukannya dua kali tanpa pengaman," kata Bella sembari menguap setelah mereka menyelesaikan kegiatan panas mereka.


"Sayang untuk melepaskan kesempatan untuk menyentuhmu secara langsung, aku akan memberikanmu obat anti hamil setelahnya jika kau tidak ingin berbadan dua," bisik David.


"Di hamili pria beristri itu adalah kutukan untukku jika itu sampai terjadi," kata Bella lalu mulai tertidur lelap.


David terhenyak sejenak ketika mendengar apa yang Bella ungkapkan.


"Walau itu kutukan tapi aku tetap akan mengikatmu hingga kau tidak bisa pergi kemanapun selain ke dalam pelukanku," bisik David di telinga Bella.


"Aku wanita bebas, jadi kau tidak akan bisa mengikatku," jawab Bella yang ternyata belum tidur. David lalu membalikkan tubuh Bella menghadap ke arahnya. Dia memegang dagu Bella diarahkan ke wajahnya.


"Kau belum tahu siapa aku Bella," ucap David.


"Terserah, tapi apa yang kita lakukan ini tanpa dasar hubungan apapun, just have fun," Bella menepis tangan David. "Biarkan aku tidur sekarang."


***


Bella bangun dan terkejut ketika mendapati dirinya tanpa busana sedikitpun. Dia mulai ingat jika dia baru saja menghabiskan malam panas dengan relasi bisnisnya. Wanita mengacak rambutnya dan baru sadar akan kekeliruan yang dia lakukan.


Suara gemercik air dari arah kamar mandi menyadarkan dia bahwa pria itu pasti sedang mandi.


Bella bangkit dan meraih bajunya, dia memakainya dengan cepat. Dia lalu menyambar tasnya yang tergeletak di meja. Dia ingin segera keluar dari tempat itu. Dia khawatir akan anggapan pria itu mengenai dirinya yang bertindak layaknya seorang wanita yang kurang belaian. Memang diakui dia dalam kondisi depresi malam tadi.


Dia mengabaikan rasa sakit di pangkal pahanya, rasa malunya lebih penting saat ini. Malam yang indah namun itu itu tetap sebuah kesalahan yang akan dia bayar mahal. Bella mendengar pintu kamar mandi mulai dibuka.

__ADS_1


Bella yang gugup segera saja meraih sepatu tanpa menggunakannya. Dia hendak meraih gagang pintu ketika namanya dipanggil.


"Bella!" panggil David. Haruskah dia berlari pergi atau membalikkan tubuhnya?


__ADS_2