Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Jaga Diri


__ADS_3

Melihat reaksi ibu Savitri membuat Alehandro tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya. Dia berjongkok untuk memegang tubuh Savitri yang duduk di lantai sembari menangis.


"Ibu kenapa?" tanya Alehandro.


Dara yang mendengar suara tangis Bu Savitri langsung turun ke bawah.


"Ada apa?" tanya Dara dengan suara yang masih serak karena baru saja menangis di kamar, mengingat sosok Kris.


"Ibu... ," panggil Dara terkejut lalu mendekati Savitri.


"Apa lagi yang kau katakan padanya?" seru Dara sembari memeluk Savitri. Savitri memegang tangan Dara.


"Dara dia tidak mengatakan apa-apa dia hanya memberitahu jika ... jika ... Kris sedang koma ... ," tangis Savitri.


Tumbuh Dara limbung ke belakang. Matanya nanar seketika dia lalu berpegang pada meja dapur menahan bobot tubuhnya.


Alehandro hendak memegang tubuh Dara namun tangannya di tarik kembali.


Sebenarnya ada apa ini mengapa semuanya jadi terlihat shock mengetahui kabar Kris.


"Ibu harus melihat Kris, Dara," kata Savitri. Dara menganggukkan kepalanya.


"Pantas saja jika perasaan ibu tidak enak jika mengingatnya ternyata dia sedang sakit," Savitri lalu memegang tangan Dara dan menariknya dekat dengannya. Savitri melihat ke arah perut Dara.


"Kau harus jujur padanya, dia berhak tahu semuanya," lanjut Savitri. Dara menganggukkan kepalanya. Dara lalu memeluk Savitri erat.


"Ada apa ini?" tanya Mom Lusi yang berjalan mendekat karena mendengar suara menangis dari dapur. Dia begitu terkejut melihat Dara dan Savitri yang saling berpelukan.


"Aku akan mengantar kalian menemui Kris tetapi kalian harus jujur padaku untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi," kata Alehandro tegas.


"Ale, apakah kita akan pulang," tanya Mom Lusi yang sudah menggendong Kaisar.


Alehandro melihat kedua orang itu yang menatapnya penuh harap. Dia sudah bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi dengan Dara namun siapa ibu Savitri dia tidak tahu.


Alehandro menghela nafas panjang.


"Jika kalian ingin tahu keadaan Kris dan melihatnya kalian harus ikut aku ke rumah karena aku tidak bisa di sini terlalu lama. Ini sudah malam dan tidak baik bagi Kaisar jika pulang terlalu malam kecuali kalian mau datang ke rumah besok," tawar Alehandro.

__ADS_1


Savitri dan Dara saling menatap.


"Dara aku ingin tahu keadaan Kris sekarang," pinta Savitri. Dara menganggukkan kepalanya mengerti dengan keinginan Savitri. Dia juga ingin tahu keadaan Kris sekarang dan melihatnya sesegera mungkin.


"Aku akan sholat dulu baru kita kembali ke rumah. Dan kalian bisa bersiap," kata Alehandro.


Dara lalu mengajak Alehandro untuk sholat di kamarnya. Sedangkan Savitri membereskan dagangan dan membagikan sisanya ke orang-orang di jalanan.


Alehandro pergi wudhu dan Dara menyiapkan sajadah untuknya. Alehandro lalu masuk setelah dipersilahkan oleh Dara.


"Dara apakah itu anak Kris?" tanya Alehandro tiba-tiba ketika mereka Dara hendak keluar dari kamar. Dara menatap mata Alehandro. Mengatupkan kedua bibirnya erat. Enggan untuk menjawab. Dia malu jika terlihat sebagai wanita murahan yang tidak bisa menjaga diri dan kehormatan.


Alehandro menghela nafas dalam dan memejamkan matanya lalu menggelengkan kepalanya sejenak.


"Kita harus membicarakan hal ini, nanti" kata Alehandro. Dara lalu keluar dari kamar itu tanpa sepatah katapun.


Alehandro lalu sholat.


Dua jam kemudian mereka telah berada di rumah Alehandro karena memang jarak ruko Dara dan rumah Alehandro tidak terlalu jauh.


"Kita tidak akan menginap," ujar Dara.


Alehandro menarik nafasnya dalam.


"Dengar Dara kau itu sedang hamil harus menjaga kandunganmu sendiri jangan bersikap keras kepala dan seolah tubuhmu kuat menahan kerasnya hidup. Di dalam sana ada anak yang butuh ketenangan di saat kau beristirahat. Aku yakin dari pagi kau belum beristirahat sama sekali. Dia punya hak untuk merasa damai dan nyaman untuk tumbuh baik di dalam tubuhmu," ujar Alehandro.


Dara ingin menjawab tapi tangan Savitri menggenggamnya.


"Kau berjanji akan mengatakannya ketika kita berada di rumahmu," balas Dara tidak mengindahkan isyarat dari Savitri.


"Dara aku tidak suka seorang wanita yang egois, pikirkan anakmu itu. Dia terlalu lelah merasakan kau bergerak terus sedari tadi. Dia juga merasakan perasaanmu ketika kau bersedih dan tertekan," kata Alehandro cemas. Dia teringat akan mendiang istrinya yang akan lemas ketika banyak bergerak. "Istirahatlah terlebih dahulu. Aku tidak ingin kandunganmu bermasalah karena kau lelah dan mendengar berita yang tidak mengenakkan."


Dara membenarkan perkataan Alehandro dalam hati tubuh dan jiwanya memang lelah. Dia ingin melepaskan penat untuk sejenak tetapi tidak ada yang bisa dia ajak bicara dan dijadikan tempat bersandar. Bu Savitri memang baik namun dia tidak bisa menceritakan masalah hatinya pada wanita itu. Dia tipe orang yang tidak suka berkeluh kesah tentang masalah yang dialaminya.


"Kita akan membicarakan masalah ini besok. Kaisar juga sedang membutuhkanku. Kau tahu jika dia sedang demam," lanjut Alehandro.


"Mbak!" panggil Alehandro pada pelayannya. Dua orang pelayan lalu datang mendekat.

__ADS_1


"Kalian tolong layani mereka dengan baik dan ajak mereka ke kamar tamu. Dua kamar berbeda," ujar Alehandro.


Savitri melihat ke arah Dara.


"Apa kita akan menemui Kris besok," tanya Savitri ingin sebuah kepastian.


Alehandro menganggukkan kepalanya. Dia lalu naik ke kamar atas.


Kenangan Dara akan Maria kembali lagi ketika dia melihat rumah itu. Maria punya segalanya. Namun, mengapa Tuhan begitu tidak adil dengan mengambil nyawanya ketika dia sedang bahagia tinggal bersama mertua dan suami yang mencintainya. Sesal Dara.


"Apa sebaiknya aku tidur bersama Ibu," kata Dara pada Savitri ketika mereka akan berpisah di dua kamar yang berbeda.


"Nak Ale, benar. Kau butuh ketenangan dan istirahat yang cukup. Jika dia bercerita tentang Kris sekarang mungkin kita bisa membicarakan hal itu sampai tengah malam dan tidak baik bagi kesehatan dan janin dalam perutmu. Tetapi jika kita membicarakan ini besok dengan tubuh yang segar dan kepala yang dingin mungkin kita bisa tahu apa yang akan kita lakukan ke depannya. Apakah kita akan langsung menemui Kris atau kita hanya melihatnya dari kejauhan?"


Dara lalu menganggukkan kepalanya mengerti.


"Kita tidak membawa apa-apa kemari," bisik Dara.


"Sudahlah, ibu bisa mengambil pakaianmu besok pagi di rumah," kata Savitri.


Mereka lalu masuk ke dalam kamar masing-masing. Di atas tempat tidur sudah tersedia baju santai untuk Dara yang terbuat dari kain katun yang menyerap keringat. Bau harum kamar itu pun enak dan lembut.


"Kamar mandi ada di ujung lorong depan kamar ini," beritahu pelayan. Dara menganggukkan kepalanya.


"Apakah Anda akan ikut makan malam di bawah atau makanan di bawa ke dalam kamar?" tanya pelayan itu lagi.


"Aku masih kenyang, tidak ingin keluar untuk makan," ucap Dara.


"Akan tetapi Mom Lusi sudah menyediakan makan malam untuk para tamunya."


"Baiklah," ucap Dara. Lagi pula dia tidak bisa tidur dalam keadaan lapar. Anak dalam perutnya akan merajuk minta ibunya untuk makan.


Setengah jam kemudian mereka telah berada di ruang makan. Mom Lusi menjamu tamunya dengan baik walau mereka dari kalangan biasa.


Alehandro sendiri tidak ikut turun karena sedang menenangkan Kaisar yang rewel. Kaisar hanya akan sedikit tenang jika bersama ayahnya. Terang Mom Lusi.


Setelah itu mereka kembali ke kamar. Dara mulai membaringkan tubuhnya dan merasa rileks tidur di rumah itu. Dia memikirkan apa yang akan dia katakan pada Kris besok jika mereka bertemu. Apakah Kris akan menerimanya dengan baik, sedangkan pria itu tahunya dia telah bersama pria lain?

__ADS_1


__ADS_2