
Berbagai pertanyaan hadir di benak Alehandro, dia mulai menghubungi orangnya untuk mencari tahu penyebab kecelakaan anaknya secara lengkap karena ada indikasi kesengajaan.
Kaisar sudah menjalani operasi dan dia sudah melewati masa krisis, hanya saja alat di tubuhnya belum dilepaskan. Menunggu keadaannya stabil atau setelah dia sadar.
"Polisi mengira jika penyebab kecelakaan itu karena rem blong. Beberapa pengendara melihat jika mobil ini melaju kencang di turunan dan membunyikan klakson sepanjang hal itu terjadi.
"Berarti ada kepanikan yang terjadi di dalam mobil?" tanya Alehandro ketika orangnya mulai memberitahu kejadian di lokasi terjadinya kecelakaan itu.
"Ya, sudah dapat di pastikan itu. Tetapi terasa janggal jika mobil Tuan Tanjung mengalami rem blong karena kurang perawatan. Pasti ada sabotase."
"Itu juga yang sedang kupikirkan,'' jawab Alehandro.
"Apalagi semua keluarga Tuan Tanjung ada di sana. Tuan Besar sendiri, putri dan menantunya serta satu-satunya penerus keluarga itu Tuan Muda Kaisar," ucap detektif yang sedang menangani kasus ini.
"Kau benar, belum lagi Dokter mengatakan jika luka di perut Kaisar itu dari tusukan benda tajam," imbuh Alehandro.
"Ini semakin mencurigakan."
"Untung anakku bisa melewati masa Kritis ini walau tubuhnya masih di penuhi alat penopang hidup."
"Karena itu aku memintamu untuk menyelidiki kasus ini," kata Alehandro.
"Baiklah Tuan Alehandro saya akan mendalami kasus ini dan akan mengirim perkembangan penyelidikan secepatnya.," ucap Bagas detektif swasta sewaan Alehandro.
"Saya percaya pekerjaan Anda pasti baik karena anda direkomendasikan langsung oleh David, teman saya."
"Oh, bapak David Cortez, ya saya ikut menangani kasusnya."
"Kalau begitu saya sudahi pembicaraan ini karena harus melihat keadaan anak saya."
Alehandro lalu mematikan panggilan telephon itu. Netranya menangkap sebuah pergerakan dari ujung lorong. Alehandro menatap curiga, Alehandro berjalan ke arah ujung lorong itu dan menemukan Dara terjatuh di lantai sembari memegang gelas plastik berisi minuman yang hampir jatuh.
__ADS_1
"Dara kau tidak apa-apa?" tanya Alehandro.
Dara terdiam seperti sedang melamun. "Dara!" panggil Alehandro lagi.
Dara terkesiap dan melihat ke arah suaminya.
"Kau kenapa?" tanya Alehandro melihat tingkah Dara yang aneh. Wanita itu mencoba tersenyum tetapi wajahnya menampilkan gurat ketakutan yang coba disembunyikan.
"Tidak apa-apa, aku hanya terjatuh karena tidak sengaja menabrak seseorang," ucap Dara dengan suara melamun.
"Apakah orang itu terlihat mencurigakan?" tanya Alehandro curiga.
Dara menggelengkan kepalanya. Tetapi lehernya terlihat bergerak dan wajahnya masih tegang.
"Tidak hanya saja aku seperti mengenalnya, tapi sudahlah," kata Dara mencoba mengalihkan perhatian.
"Kau tolong aku mengambil makanan itu," tunjuk Dara pada tas plastik berisi roti yang jatuh ke lantai.
"Dara kau tidak perlu repot-repot aku bisa menyuruh orang untuk membelinya. Kau baru saja mendonorkan darahmu pasti masih merasa lemas. Jadi cukup duduk atau pulang saja ke rumah untuk beristirahat."
"Karena itu aku memintamu membawakanmu tas ini karena aku lelah dan lemas, aku perlu banyak makan dan minum ini untuk mengembalikan stamina," kata Dara tersenyum. Pembawaannya yang santai ketika menghadapi masalah membuat hati Alehandro tenang.
"Bagaimana dengan Rose?" tanya Alehandro ketika mereka sudah duduk di kamar Kaisar.
"Dia sudah bersama Kris dan Sheila, untung ada mereka jadi aku bisa leluasa menjaga Kaisar di sini," cetus Dara mengunyah makanannya. Dia lalu mencoba menyuapi Alehandro. Namun, tangan pria itu menolaknya.
"Jika kau sakit maka kau tidak bisa menjaga Kaisar dengan baik. Kau harus sehat dan kuat agar ketika masalah menerpa, staminamu tetap ada."
"Sok tahu!" ujar Alehandro.
"Eh, aku pernah di titik terendah saat beberapa orang menculik dan berniat menjual diriku ke luar negeri."
__ADS_1
Alehandro membuka mulutnya, di saat itu Dara memasukkan suapan itu sehingga pria itu akhirnya memakan makanan yang Dara beri.
"Lalu bagaimana caranya kau bisa lepas dari mereka?"
"Aku memakai otakku, otak akan bisa berpikir jernih jika kenyang maka dari itu aku tidak telat makan. Jika korban lainnya hanya bisa menangis, tidak denganku. Aku selalu menghabiskan makananku agar punya cukup energi untuk melawan mereka." Dara kembali menyuapi Alehandro.
"Kau lawan mereka semua," tanya Alehandro penasaran.
"Aku lawan dengan otak yang kumiliki, kau tahu bukan jika aku pandai," ucap Dara sembari tertawa geli.
Alehandro memutar bola matanya malas.
"Kris yang menyelamatkan aku. Aku selalu menyalakan handphone milikku agar Kris selalu bisa melihat keberadaan ku. Singkat cerita dia datang dengan membawa sekompi pasukan," ucap Dara melebihkan cerita.
"Hanya sayang ketua mereka atau Bos besar itu tidak tertangkap. Dia berhasil kabur." Dara menghela nafas panjang.
"Apa kau akan mengenali orang itu jika sesuatu ketika bertemu kembali?"
"Tentu saja." Dara nampak berpikir. "Waktu itu Kris melarangku memberi tahu ciri-ciri Bos besar karena tidak mau aku terlibat dalam masalah yang pelik dan mengancam nyawa. Dia takut jika Penjahat itu akan mencari keberadaan ku kalau aku mengungkap jati dirinya."
"Kris salah, seharusnya dia membiarkanmu mengungkap siapa dalangnya agar tidak ada lagi korban yang lain."
"Pemikiran orang berbeda-beda. Kris tipe pria yang cari aman," ucap Dara.
"Karena itu dia lebih memilih istrinya dari pada dirimu," kata Alehandro.
"Semua itu sudah jalan dari Tuhan. Jika aku masih bersamanya, aku tidak ada disini bersamamu," ujar Dara. Alehandro lalu merengkuh kepala Dara dan mencium dahinya.
"Kau benar, aku beruntung memilikimu dalam hidup ini."
"Kau beruntung bisa memiliki Maria dan aku," kata Dara.
__ADS_1
Dara terdiam. Ingatannya kembali pada pria yang menabraknya tadi. Pria yang menjadi dalang penculikannya dulu. Bos besar penjual wanita ke luar negeri. Haruskah dia menceritakan masalah ini pada Alehandro?