Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Murahan


__ADS_3

Melihat wajah Dara yang memucat membuat Ray khawatir.


"Apakah kau baik-baik saja Dara?" tanya Ray.


Dara menganggukkan kepalanya. Akalnya tiba-tiba hilang seketika. Dia tidak mampu lagi untuk berpikir. Hanya diam membisu dan mengingat semuanya.


"Dara ... ," panggil Ray lagi sembari menepuk bahu Dara. Dara terkesiap.


"Apa dia orang paling berharga bagi dirimu hingga jiwamu seperti terguncang ketika melihatnya?" tanya Ray.


"Ya, kau benar. Dia pria yang pernah dekat denganku." Dara menghembuskan nafas perlahan.


"Kalau begitu lupakan dia, karena sepertinya dia juga telah bersama wanita lain," ucap Ray.


Dara menengadahkan wajahnya menatap ke arah Ray. Dia menggelengkan kepalanya.


"Tidak semudah itu," jawab Dara.


Dia lalu bangkit hendak mengambil tasnya untuk pulang kembali ke rumah.


"Biar aku antarkan kau nampak tidak dalam keadaan baik-baik saja," ujar Ray. Dara terlihat berfikir. Mungkin itu saran yang bagus untuknya. Dia juga sudah sangat lelah dengan hari ini. Kehamilan ini juga sedikit banyak telah membuat tubuhnya tidak fit.


Dara menganggukkan kepalanya. Ray dan Dara lalu berjalan beriringan melewati para pengunjung cafe.


Dara mendekat ke arah Ray seraya berbisik. Raya yang lebih tinggi dari Dara menundukkan kepalanya.


"Cafe sedang ramai apa tidak masalah bagimu untuk meninggalkannya?" tanya Dara. Netra Ray melihat sekeliling cafe. Cafenya yang bersebelahan dijadikan satu dengan restauran miliknya memang sedang dalam keadaan ramai karena ini weekend.


"Aku lebih khawatir melihat kau dari pada cafe ini, jika cafe ini banyak yang mengurusnya sedangkan kau sendiri, jadi biarkan aku saja yang mengurusmu," ujar Ray menggoda. Dara menepuk lengan Ray ringan.

__ADS_1


"Gombal," bisiknya lalu berjalan terlebih dahulu sembari tersenyum. Sejenak bola hitam matanya melihat Kris menatap tajam ke arahnya. Dara menarik nafas dalam dan meluruskan pandangannya.


Tangan Ray memeluk pundak Dara. Mereka berjalan bersama layaknya sepasang kekasih. Beberapa hari ini Ray memang begitu intens mendekati Dara semua pegawai mengira jika mereka mempunyai hubungan lebih tetapi bagi Dara hubungan mereka hanya teman biasa.


Kris yang melihat Dara pergi bersama Ray mulai mengakhiri pertemuannya. Dia lalu berdiri.


"Kau mau kemana?" tanya Sheila memegang tangan Kris. Kris hanya menatap tajam pada Sheila dia lalu melepaskan tangan wanita itu. Sheila mengepalkan tangan erat, tetapi tetap tersenyum dengan para relasinya dan hanya bisa menatap kepergian Kris.


Kris berjalan cepat menuju ke tempat parkir. Dia melihat mobil yang dinaiki Dara mulai berjalan. Kris langsung berlari cepat menuju ke arah mobilnya.


Dia mengikuti kemana arah pergi mobil yang dinaiki oleh Dara. Selama hampir dua bulan ini bayangan Dara selalu menghantuinya. Dia khawatir dengan keadaannya. Bagaimana kehidupannya? layakkah tempat tinggalnya? apa yang dimakannya? Dan apakah ada yang melindunginya.


Dia bahagia ketika melihat Dara tadi tetapi kebahagiaannya sirna ketika melihat seorang pria terlihat mesra bersamanya. Dadanya terasa panas dan sesak. Dia tidak rela jika Dara dimiliki pria lain. Dia harus mencari kebenaran itu.


Pria itu mengatakan jika dia adalah calon suami Dara. Kris mencengkeram erat kemudinya merasakan amarah yang sangat jika mengingat hal itu.


Kris melihat mobil itu masuk ke pekarangan sebuah rumah sederhana. Kris lalu menghentikan kendaraannya di depan rumah itu. Membuat Dara dan Ray yang baru saja keluar dari mobil terkejut.


"Jadi kau memilih tinggal ditempat seperti ini dari pada hidup bersamaku?" kata Kris mendekati Dara. Matanya menatap tajam pada Ray.


Bibir Dara terkatup rapat dia enggan untuk bertengkar dengan Kris. Pelariannya kini terasa sia-sia. Mengapa begitu cepat Kris menemukannya?


"Dara apa yang pria itu katakan?" tanya Ray mencoba untuk bersikap seperti tidak tahu menahu permasalahannya. Sedikit banyak Dara sudah menceritakan apa hubungannya dengan pria yang ada dihadapannya.


"Aku menemukan kedamaian disini dan aku juga menemukan tempat untuk berpulang," jawab Dara.


"Apakah arti pulang itu harus bersama seorang pria?" sindir Kris tajam.


"Kris pergilah aku tidak ingin bertengkar denganmu?" usir Dara.

__ADS_1


"Baru kemarin kau mengatakan cinta dan kini kau mengusirku pergi?" cecar Kris. Mata Dara berkaca seketika. Dia menghela nafasnya dan tersenyum dengan penuh paksaan.


"Kemarin itu kemarin, hari ini bisa saja berbeda," balas Dara.


"Shits!" Wajah Kris seketika menggelap. Dara terdengar sangat mudah mengatakannya seolah semua yang mereka lakukan tiada artinya.


"Aku pikir kau wanita baik-baik yang akan menunggu cintanya datang," kata Kris kesal. "Nyatanya kau sama seperti wanita di luaran sana yang hanya butuh belaian dari pria karena merasa kesepian."


"Hati-hati dengan katamu, Bung!" seru Ray sembari menunjuk ke arah Kris. Dia maju hendak memukul Kris tetapi Dara memegang dada Ray dan menghalanginya.


"Biarkan saja!" ujar Dara menatap Ray. Pemandangan itu membuat panas hati Kris.


Kris bertepuk tangan melihat pemandangan di hadapannya. "Hebat Dara, aku baru pernah melihat ada wanita menjijikkan seperti dirimu dan bodohnya aku terpikat oleh wajah lugumu."


Kesabaran Ray hampir habis tetapi Dara menghalangi Ray untuk maju. Dia menatap Ray dan menggelengkan kepala. Mata Ray kembali meredup. Dia lalu kembali bersikap tenang.


Dara memejamkan matanya menahan kesedihan yang teramat sangat. Dia lalu membalikkan tubuh dan berjalan mendekati Kris.


"Yang kau pikirkan itu benar jika aku butuh seorang pria untuk melindungimu dan mencintaiku dengan setulus hati. Jika aku menemukannya pada diri pria lain apa itu salah? Toh dia menawariku kehidupan yang lebih baik. Semua tidak melulu soal harta yang kau banggakan tetapi soal kenyamanan yang ada di hati," jawab Dara dia lalu membalikkan tubuh dan berjalan mendekati Ray menarik tangan pria itu masuk ke dalam rumah.


Perkataan Dara bagai belati yang menikam keras ulu hatinya. Seolah wanita itu mengatakan bahwa dia tidak memberikan apa yang diharapkan oleh wanita dan kenyataannya memang benar. Kris tidak bisa menjanjikan apapun pada Dara. Namun, melihat Dara hidup bersama pria lain secepat ini membuat dia harus berpikir ulang mengenai sifat Dara.


Kris menendang keras udara. Wajahnya menggelap seketika. Dirinya merasa dipermainkan oleh wanita itu. Wanita yang mencuri hatinya dan membawanya pergi dari dirinya.


"Dara kau itu wanita paling murahan yang pernah aku temui!" seru Kris sebelum meninggalkan tempat itu dan masuk kembali ke mobilnya.


Dia lalu membanting pintu mobil lalu menyalakan mesin dengan suara keras. Tangannya memukul stir lalu mulai memutar mobil untuk keluar dari lingkungan itu.


Seorang wanita paruh baya keluar dari rumah di depannya. "Kris kau kah itu?" gumam wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2