Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Informasi Penting


__ADS_3

Bukan hal mudah untuk membuka kasus ini. Mereka bertiga kini berada di sebuah rusunawa tempat tinggal Anton.


David mulai mengetuk pintu perlahan. Tidak ada jawaban. Pintu kembali diketuk untuk kedua kalinya. Masih tidak ada pertanda ada orang di dalam.


"Kamu benar lihat dia masuk ke dalam rumah ini?" tanya Bram pada orang suruhannya.


"Benar Bos aku bahkan tidak berani beranjak dari tempat ini satu sentipun takut jika orang itu pergi tanpa sepengetahuanku."


David hendak mengetuk pintu itu lagi namun belum sempat melakukannya, terdengar suara kunci berputar. Pintu mulai terbuka pelan dan tiba-tiba pintu tertutup kembali ketika Anton melihat David dan beberapa orang di belakangnya.


"Kami hanya ingin berbicara denganmu saja!" kata David sembari mendorong pintu agar terbuka.


"Bukan aku pembunuhnya!" teriak Anton.


"Jika begitu mari kita bicarakan ini baik-baik." Namun pria itu tidak mengindahkan perkataan David dia lalu mendorong pintu itu keras dan menguncinya lalu segera pergi.


"Mencurigakan!" ucap Bram. David langsung menendang pintu itu dengan sekali tendangan saja pintu langsung terbuka lebar. Mereka mencari Anton ke seluruh ruangan namun tidak ada. David lalu melihat jika jendela rumah itu terbuka lebar. David langsung melihat ke luar dan mendapati Anton sedang turun menuruni tiang dari besi yang ada di sisi samping jendela. Dan pria itu berlari jauh.


"Dia telah keluar," teriak David. "Sial!"


Dia menarik rambutnya keras.


Hanya Anton yang David harapkan bisa membebaskan ibunya dari penjara. Entah itu dia pembunuhnya atau bukan. David tidak peduli.


"Kita akan segera menemukannya," kata Tuan Robby menepuk bahu David.


"Telephon pengacara suruh menemuiku di kantor polisi kita akan menemui inspektur Rendra dan memberikan bukti-bukti ini. Mungkin ini bisa membuka jalan kita selanjutnya.


"Bagaimana dengan Wati?" tanya David. "Kita ke tempatnya saja?"


"Sayangnya wanita itu juga telah pergi pagi tadi dari kos-kosannya. Dia juga salah satu saksi yang melihat Sofi tewas untuk pertama kalinya. Ini akan membuat Wati semakin dicurigai oleh Polisi."


Semua orang menganggukkan kepalanya.


"Sebaiknya kau pulang saja ke rumah terlebih dahulu sebelum menentukan langkah apa yang akan di tempuh besok untuk menjerat pelakunya," kata Tuan Bram.


"Papa saja yang sebaiknya pulang. Biar aku dan Tuan Bram yang akan membawa bukti ini ke kantor Polisi. Aku lebih takut jika penyakit jantung Papa kumat karena memikirkan masalah ini," ujar David.


"Bagaimana tidak memikirkannya. Papa tidak tega melihat Mommy yang sudah tua mendekam dipenjara karena kesalahan yang tidak dia lakukan."

__ADS_1


"Yang terpenting saat ini Papa jaga kesehatan."


"Baiklah Papa akan menyerahkan semua masalah ini kepadamu. Kau sudah pandai memilah mana yang baik untukmu dan mana yang tidak," kata Tuan Robby dia lalu berjalan di depan terlebih dahulu bersama assistennya.


David memandang pada Bram lalu menghela nafas dalam.


"Hampir saja kita tahu pelakunya tapi gagal," ujar David.


"Masih banyak kebenaran yang akan kita ungkap ke depannya. Sekarang lebih baik kita ke kantor polisi dan menyerahkan semua bukkti ini pada pihak yang berwajib."


"Kenapa Wati harus kabur juga?" kata David.


"Itu yang membuat kecurigaan ku semakin dalam padanya," jawab Bram.


Dua jam kemudian mereka telah berada di dalam kantor polisi guna memberikan bukti dan berdiskusi tentang masalah ini. David berharap ibunya bisa dibebaskan dengan uang jaminan.


"Saya juga curiga dengan keterangan yang Wati berikan. Dia nampak bingung untuk menjawab cepat semua pertanyaan. Tapi kami tidak punya bukti kuat untuk menjeratnya karena dia ada di kamarnya menurut para pelayan yang lain," terang inspektur itu.


"Tapi jika dia bukan pelakunya mengapa dia pergi dari kota ini tiba-tiba?"


"Kita akan melacak keberadaannya juga Anton,"


"Sepertinya sudah bisa karena belum ada bukti yang kuat untuk menjerat ibu anda selain bukti jika dia memang bertengkar dengan korban tepat sebelum korban ditemukan telah meninggal dunia," kata Inspektur Rendra.


"Yang terpenting bagiku saat ini adalah melihat ibu bisa keluar dari penjara ini secepatnya."


Pengacara dari pihak ibunya lalu mengurus semua keperluan untuk membebaskan ibu David untuk sementara. David sendiri duduk di ruang tunggu sembari memejamkan matanya. Kepalanya sakit sekali karena memikirkan hal ini. Dia lalu teringat pijatan Bella yang akan menenangkan urat syarafnya seketika. Dan membuat tegang urat syaraf yang lain.


Sebuah tepukan membuat David membuka matanya dan dia melihat ibunya berdiri dihadapannya. David langsung berdiri memeluknya.


"David, Mom sungguh takut berada di dalam sana. Orang-orang di dalam penjara itu bersikap kasar pada Mom," isak Naura.


"Mom sungguh tidak membunuh Sofi tapi mengapa mereka tidak mempercayai apa yang Mom katakan dan menahan Mommy sampai berhari-hari," tangis Naura terdengar semakin keras.


"Kau akan bebas sepenuhnya, Mom. Biar aku yang akan mengurus semuanya. Mom hanya perlu untuk pulang dan beristirahat saja. Papa pun terlihat sangat khawatir tadi," kata David menenangkan ibunya.


"Apakah Papamu baik-baik saja?" tanya Naura khawatir.


"Papa baik-baik saja Mom. Hanya saja aku menyuruhnya pulang setelah kami mencari pelaku pembunuhan sebenarnya," terang David membuat Naura tenang.

__ADS_1


"Syukurlah!" Naura lalu duduk karena merasa lemas. Dia mengusap air matanya dan menghela nafas.


"Mom tidak mengira pertengkaran itu membuat masalah ini menjadi panjang," ucap wanita itu.


"Semua juga tidak ada yang menyangkanya."


"Apa kalian sudah tahu siapa pelakunya?"


David menggelengkan kepalanya.


"Lalu bagaimana keadaan cucuku Cantik setelah tahu ibunya meninggal.


"Dia baik-baik saja di rumah bersama Bella. Bella tahu bagaimana mengurus masalah ini."


"Dia memang wanita yang baik," ucap Naura. Dia lalu terdiam sejenak.


"Aku dengar dia banyak menuia hujatan daru masyarakat," tanya Naura khawatir.


"Semua bisa kami atasi Mom, walau sedikit banyak itu membuatnya stress. Tapi aku berusaha untuk menenangkannya dan aku harap semuanya akan membaik setelah masalah ini selesai," ujar David.


"Mom juga berharap demikian. Kau tahu yang ada dalam bayanganku adalah Bella tidak kuat menerima semuanya lalu pergi meninggalkanmu bergitu saja."


"Mom itu tidak akan dia lakukan!" jawab David.


"Syukurlah jika semuanya membaik."


"Tapi David Mom punya sesuatu yang harus kau ketahui mungkin ini bisa membantumu membuka masalah ini," kata Naura.


"Apa itu Mom," tanya David.


"Aku melihat Sofi sedang bermesraan dengan pengawal pribadinya, itu sangat menjijikkan sekali," ujar Naura.


"Aku sudah tahu, Mom. Namun kenapa kau tidak menceritakan hal ini pada Polisi?"


"Karena itu sama saja melukai harga diri dan nama baikmu. Penggantimu adalah pegawai rendahan... itu sangat memalukan!" ujar Naura.


"Dan satu lagi, sebelum aku pulang aku melihat Roni sedang bertengkar dengan seseeorang. Aku dengar jika itu masalah hutang. Aku anggap itu bukan masalahku jadi aku langsung pergi saja dari tempat itu," ujar Naura.


"Mom kau tahu hal penting tapi kau malah tidak mengatakannya pada petugas!" seru David marah.

__ADS_1


__ADS_2