Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Ikhlas dan Rela


__ADS_3

Bayi Alehandro lalu di bawa ke ruang inkubator, sedangkan Maria masih berada di ruang operasi. Pintu operasi telah beberapa kali dibuka namun hanya perawat yang terlihat panik hilir mudik masuk membawa alat atau sesuatu yang dibutuhkan. Terakhir kali seorang Dokter yang sudah berumur masuk ke dalam ruang itu.


"Bukankah itu Dokter Miller, Dokter ahli bedah? Mengapa dia ikut masuk ke dalam ruangan itu?" tanya Mom Lusi dengan hati was-was. Alehandro menatap ruang operasi itu. Instingnya sudah mengatakan jika semuanya tidak baik-baik saja.


Semua hanya terdiam dan berdoa semoga sesuatu yang buruk tidak terjadi pada Maria.


Satu jam kemudian akhirnya seorang Dokter keluar dari ruang operasi dan berdiri.


Alehandro dan semua orang langsung mendekat ke arah Dokter itu dengan wajah khawatir, cemas dan penuh harap.


"Dok! Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Alehandro.


Dokter itu hanya terdiam, Dokter Faisal pun ikut keluar dan semua melihat ke arahnya.


"Ba-bagaimana keadaan istri saya Dokter?" tanya Alehandro tidak sabar. Dokter itu terlihat menarik nafas dalam. Dia menatap semua orang yang ada di ruangan ini.


"Maafkan aku jika mengecewakan kalian. Hanya saja kami telah memberitahukan risikonya bila melanjutkan kehamilan ini." Semua orang terlihat saling memandang dengan penuh tanda tanya. Mengharap cemas dengan apa yang akan Dokter itu sampaikan.


"Maaf, Tuan Alehandro kami tidak bisa menolong Nyonya Maria untuk bertahan lebih lama lagi. Ketika kami sedang mengeluarkan putra Anda, dia mengalami komplikasi yang mengakibatkan jantungnya bermasalah, sehingga akhirnya dia menghembuskan nafas terakhir," ucap lemah Dokter Faisal sembari menundukkan kepalanya.


Tubuh Alehandro limbung ke belakang. Dia sudah tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, pikirannya kosong seketika, bahkan air matanya sudah kering.


"Tidak! tidak kau pasti berbohong, putriku dan keadaan baik-baik saja," teriak Natalia menarik kerah baju Dokter itu. Mantan suaminya memegangi Natalia dan memeluknya.


"Katakan jika itu tidak benar, katakan jika itu salah to... ." Tubuh Natalia melemas dan dia tidak sadarkan diri.


Mom Lusi memegang jantungnya yang serasa berhenti berdetak sembari meneteskan air mata. Dia lalu melihat Alehandro yang berjongkok sembari menarik rambutnya ke belakang dengan mata nanar, memeluk putra kesayangannya.


"Katakan jika ini mimpi buruk Mom, bangunkan aku, aku takut,"


"Sabar Ale, semua sudah takdir dan kita tidak bisa melawannya. Selama ini kau sudah melakukan yang terbaik untuknya."

__ADS_1


"Bagaimana bisa dia tega meninggalkan aku sendiri," ucap Alehandro, tubuhnya bergetar memeluk Mom Lusi.


Mom Lusi yang sedih, menguatkan hati karena Alehandro lebih butuh dukungannya saat ini.


"Dengarkan aku! Maria telah berusaha sekuat mungkin untuk memberikanmu keturunan. Kau harus kuat untuk anakmu, kau harus bisa merelakannya karena mulai saat ini dia sudah tidak merasakan lagi sakit yang menyiksanya. Hargai pengorbanannya dengan merawat anak kalian dengan baik," kata Mom Lusi dengan suara serak dan parau.


Alehandro hanya terdiam. Hatinya hancur.


"Lihat dia dan ucapkan selamat tinggal padanya," kata Mom Lusi.


Alehandro merenggangkan pelukannya dan melihat ke arah ibunya. Mom Lusi menganggukkan kepalanya.


Dengan bertumpu pada lantai Alehandro mulai bangkit berdiri. Langkahnya goyah dan lunglai. Kakinya terasa berat untuk melangkah ke dalam ruang operasi itu.


Dokter Faisal menepuk pundak Alehandro. "Bersabarlah! Kau pasti bisa melewati semua ini!"


Mata Alehandro terus menatap ke depan.


Alehandro melihat jelas tubuh Maria sudah terbujur kaku di ruang operasi. Wajahnya telah memucat terkena sinar lampu ruangan.


Suasana seketika hening. Hanya suara nafas Alehandro yang berat dan langkah kakinya yang terdengar jelas. Kini dia berada di depan jenazah Maria yang telah memejamkan matanya dengan rapat. Seulas senyum terlihat diwajahnya. Dia seperti sedang tertidur pulas dan bermimpi indah.


Tangan Alehandro yang gemetar mulai mendekati wajahnya. Menyentuh kulitnya yang masih hangat.


"Maria, anak kita telah lahir namun kau tidak ingin melihatnya," ucapnya bergetar dengan parau.


"Apakah kau masih marah padaku hingga pergi meninggalkan aku." Anakan sungai mulai membanjiri wajah Alehandro.


"Maria kau telah berjanji untuk tetap bertahan... namun... " Alehandro menunduk tidak dapat meneruskan kata-katanya. Hanya Isak tangisnya saja yang terdengar.


"Aku ... aku sungguh mencintaimu ... ."

__ADS_1


"Terima kasih karena telah memberikan cinta kasihmu. Walau Tuhan memberikan waktu bagi kita bersama sangat singkat, tetapi itu adalah momen terbaik dalam hidupku. Kau sangat berarti untukku namun Tuhan lebih menginginkanmu untuk menemaninya di surga. Kau adalah ratu bidadari dari surga yang Tuhan ciptakan untukku." ucap Alehandro berbisik di depan wajah Maria.


Dia lalu mengecup lama kening Maria.


"Aku ridho, aku ikhlas, aku rela, karena kau adalah wanita dan istri terbaik yang ada di dunia ini," bisik Alehandro. Dia lalu melepaskan kecupan itu dan sejenak seperti melihat bayangan Maria yang tersenyum lebar padanya.


Alehandro tersenyum sembari mengusap pipinya. Maria telah bahagia di sana dan dia tidak bisa terpuruk karena bayi kecil mereka membutuhkannya.


"Selamat tinggal, Sayang!" ucap lirih Alehandro sembari menutup wajah Maria.


Tangan Lusi lalu memegang bahu Alehandro. Dia menganggukkan kepala dan mengusap punggung putranya.


"Dia tersenyum dan terlihat cantik."


Alehandro menganggukkan kepalanya. Dia lalu berjalan keluar dari ruangan itu menuju kamar dimana bayinya berada.


Dunianya terasa hancur tetapi dia masih mempunyai seorang putra yang harus dia rawat dan dia besarkan dengan kasih sayang. Dia terus berjalan hingga ke depan sebuah ruangan dengan tembok terbuat dari kaca. Beberapa bayi terlihat berada di ruangan itu sedang tertidur lelap.


Alehandro lalu mencari box yang bertuliskan namanya dan Maria. Dia melihat sebuah kotak inkubator berisi seorang bayi yang sedang tertidur pulas. Ruangan itu tertutup dan di jaga oleh dua orang perawat.


Alehandro mengetuk ruangan itu dan meminta ijin perawat untuk melihat anaknya. Perawat itu mengijinkannya walau ini waktunya para bayi untuk beristirahat. Mereka melakukan itu karena mereka tahu jika pria ini sedang berduka setelah kehilangan istrinya. Mungkin kehadiran si kecil bisa menjadi obat lara baginya.


Perawat itu mengambil tubuh kecil itu dari kotak dan memberikannya pada Alehandro.


Alehandro mencium lalu mendekapnya erat.


"Kini kita hanya berdua saja, Sayang, karena ibumu telah pergi untuk selamanya. Tetapi Ayah berjanji akan selalu ada untukmu."


Mata kecil dan mungil mulai terbuka dan mulutnya menguap serta menggeliat. Hal itu membuat Alehandro tersenyum.


Dia menarik nafasnya panjang. Mendekap anak itu serasa memberi kekuatan lebih untuknya di antara rasa terpuruk dan hancur akibat kehilangan Maria.

__ADS_1


Dia adalah bagian dari diriku yang lain. Ucapan itu sering Maria katakan berkali-kali dan kini Alehandro mulai mengerti apa artinya itu.


__ADS_2