
Mendengar ucapan Alehandro mengenai 'kabar baik' membuat Maria tersedak.
"Uhuk ... uhuk ... uhuk ... ." Alehandro mengambil Maria segelas air lalu mengusap punggung Maria namun perempuan itu mengelak.
"Jangan sentuh aku. Kau tiba-tiba datang dalam hidupku lalu meminta untuk melamar, sehari kemudian menikah dan kini kau ingin aku hamil. Aku bukan piaraan mu aku manusia punya hati. Kau seakan tidak membiarkanku bernafas walau hanya sekejap. Semua terasa cepat dan membingungkan untukku. Aku tidak tahan dan sanggup lagi untuk menahan semua ini, aku minta cerai!" teriak Maria dengan rasa marah yang membuncah. Dia melepaskan semua emosi yang ditahan dalam waktu dua hari ini.
Mendengar kata cerai membuat hati Alehandro sakit secara tiba-tiba. Sejenak dia terdiam di tempatnya membiarkan wanita ini menangis mengeluarkan semua uneg-unegnya.
Maria menyeka air matanya dia lalu berdiri dari tempat duduk.
"Aku mau pergi!" ucap Maria tegas. Dia lalu melangkah pergi.
"Kemana kau akan pergi? Apakah kembali ke rumah Cristian? Sedangkan dia saja tidak ada hubungan darah denganmu!" ucap Alehandro menghentikan langkah kaki Maria.
"Ba-bagaimana kau tahu itu?" tanya Maria membalikkan tubuhnya. "Apa kak Cristian memberitahukan semuanya tentangku?"
"Kau meragukan aku untuk mencari tahu siapa sebenarnya dirimu? Aku tidak akan memilih seorang wanita tanpa tahu latar belakang hidupnya! Dan aku tidak butuh Cristian untuk tahu semua informasi tentangmu!''
"Apa yang kau tahu tentangku?" tanya Maria berjalan ke arah Alehandro.
__ADS_1
"Upaya pembunuhanmu yang dilakukan oleh seseorang? dan aku tahu siapa ibumu?" ucap Alehandro menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi sembari menatap lekat wajah Maria melihat reaksinya.
"Ibuku telah mati dari aku dilahirkan!" kata Maria memalingkan wajahnya.
"Kau yakin Maria Cruz, anak dari Sandiago Cruz dan seorang wanita anak konglomerat kaya." Alehandro menautkan kedua jarinya di depan dada.
Maria menelan salivanya.
"Aku bisa memberikanmu perlindungan dan semua informasi yang kau butuhkan," Alehandro menghentikan perkataannya.
"Pasti tidak gratis 'kan?'' ujar Maria.
"Aku minta kau melahirkan anakku, menyerahkannya, setelah itu kau boleh berbuat sesukamu," jawab Alehandro.
"Kau gila!" ujar Maria lalu melangkah pergi. Dia pergi ke kamarnya untuk mengambil barang penting miliknya.
Sepuluh menit kemudian dia telah membawa tas miliknya dan hendak melangkah keluar dari rumah Alehandro. Alehandro sendiri nampak santai memegang tablet di tangannya tanpa melihat ke arah Maria.
"Aku pergi!" pamit Maria.
__ADS_1
"Pergilah, aku tidak akan mencegahmu kali ini. Hanya saja jika nanti kau kembali lagi, kau tidak bisa pergi untuk selamanya." ucap Alehandro datar dan dingin.
Maria terdiam dan membalikkan tubuhnya pergi dari tempat itu. Dia tidak peduli lagi dengan Alehandro. Dia ingin hidup bebas tanpa terikat apapun juga.
Dia mulai keluar dari rumah itu dan masuk ke dalam taksi on line yang di pesannya tadi.
"Kau ikuti kemana dia pergi," ucap Alehandro melalui sambungan telephon, sesaat setelah Maria keluar dari rumahnya.
Dia lalu membuka tabletnya lagi, membaca hasil investigasi yang anak buahnya berikan mengenai kehidupan Maria.
"Kecurigaanku benar adanya, ternyata dia adalah anakmu, Nathalia," kata Alehandro sembari melihat foto seorang wanita.
Dia menghembuskan nafas kasar. Dia lalu mengambil handphonenya menelfon seseorang.
"Kau gila! Tidak mengatakan jika dia anak dari Natalia? Untung aku langsung menyadarinya!" teriak Alejandro.
"Ha ... ha ... setidaknya dia bisa mengobati perih hatimu!" jawab pria dari balik telephon itu.
"Bangsat!"
__ADS_1