
"Bagaimana ini, kinerja perusahaan semakin menurun dan baju-baju produksi yang kita buat bulan ini hanya terjual sekitar 50 Persen saja sedangkan yang lainnya masih menunduk di gudang," ujar Setiawan di sela-sela rapat.
"Bahkan tidak bisa menutupi kekurangan-kekurangan biaya produksi dan membayar gaji pegawai," imbuhnya lagi sembari memijat kepalanya.
"Kami sudah berusaha sebaik mungkin untuk mempromosikan baju-baju buatan kita pada pasar, tapi banyaknya baju impor yang datanga dari negeri seberang membuat baju buatan dalam negeri anjlok drastis. Dan itu bukan saja dirasakan oleh kita, tetapi semua pabrik garmen turun merasakannya." Direktur pemasaran mulai mengeluarkan pendapatnya.
"Harga baju dari negeri seberang sangat rendah sehingga banyak orang yang tertarik tanpa melihat kualitas barangnya. Jika kita mengikuti harga itu maka tidak akan menutupinya biaya produksi, jika kita mengurangi kualitas maka banyak pembeli akan memprotesnya," imbuh Direktur itu lagi.
Semua mendengar dengan seksama, tidak terkecuali Bella. Kondisi perusahaan sangat tidak sehat, bahkan bulan ini mereka harus menggadaikan beberapa aset agar bisa menutupi biaya produksi perusahaan.
***
Setelah rapat selesai Bella dan orang tuanya masih berada di ruang rapat sembari membicarakan masalah perusahaan mereka.
"Semua akan mudah jika kau sudah menikah dengan Cristian Bella. Kita bisa meminta Cristian untuk membantu masalah keuangan perusahaan kita. Dia bisa menginvestasikan sejumlah uang untuk kemajuan perusahaan kita," ujar Setiawan.
Bella mendesahkan nafas panjang.
"Aku akan mengajukan proposal ke berbagai perusahaan keuangan untuk memberikan pinjaman. Jika harus menikah hanya untuk bisnis aku kurang setuju," jawab Bella.
"Tapi membutuhkan bantuannya, Bella.'' Riska duduk menegakkan punggungnya. Wajahnya terlihat tegang dan serius. Jika dalam dua bulan ini kita tidak bisa mendongkrak penjualan maka di bulan ke tiga perusahaan ini akan gulung tikar," ucap Setiawan.
"Aku tahu Ayah, walau aku seorang putri aku akan bekerja layaknya putra untukmu," ucap Bella. Dia lalu tersenyum dan berdiri.
"Ayah aku ada klien dari luar negeri, aku akan membawakan beberap desain baju kita padanya," ucap Bella.
"Lakukanlah yang terbaik, Nak. Kami percaya padamu," ujar Setiawan. Bella lalu meninggalkan ruang rapat itu.
__ADS_1
"Setidaknya ada anak kita yang bertanggung jawab tidak seperti Cinta yang masih suka bermain-main saja." Riska mendengus kesal.
"Sifat mereka berbeda, Sayang. Lagipula ini setengah saham perusahaan ini milikku, dan hanya lima puluh persen milikku, selebihnya milik umum. Secara hak milik, Bella yang nantinya akan mewarisi hal ini semua, Cinta mungkin hanya mendapatkan separuh dari milikku. Akan baik jika dari awal Bella yang mengendalikannya," ujar Setiawan.
"Aku tidak membedakan keduanya, hanya saja aku harap mereka berdua bisa bekerja sama di perusahaan ini," ujar Riska sembari berdiri dan melihat ke arah jendela kaca besar.
"Aku tahu itu, tapi milikmu tetap punya Bella, aku sudah bersyukur kau mau membesarkan Cinta hingga kini." Setiawan berdiri dan memeluk bahu Riska.
"Jadi biarkan Cinta mencari jatidirinya sendiri. Sedangkan perusahaan ini adalah milik Bella jadi kita harus mendidiknya untuk jadi pemimpin yang bisa menyelesaikan masalah perusahaannya."
"Aku kira karena Cinta sudah tidak berkerja di perusahaan Cristian, dia bisa bekerja di sini membantu kakaknya," ucap Riska.
"Jikapun dia bekerja di sini, itu harus karena keinginannya," jawab Setiawan.
"Terserah apa yang kau inginkan."
***
Perusahaan itu ingin bekerjasama dengan salah satu perusahaan garment di Indonesia untuk produksi baju merk mereka. Nilai investasi itu tidak main-main sebesar dua ratus milyar, nilai yang fantastis untuk perusahaan garmen milik ayahnya.
Dia melihat wanita asing yang duduk di meja resepsionis.Warna rambutnya pirang yang diikat tinggi menyerupai ekor kuda, dia juga memakai pakaian jas berwarna putih dan rok span berwarna senada. Wajahnya lonjong dan terlihat sangat ramah.
"Selamat datang, apa yang bisa saya bantu," tanya sang Sekretaris.
"Saya Bella Setiawan, dari perusahan Setia Garmen." Bella memperkenalkan dirinya.
"Sebentar saya akan menanyakannya pada Tuan Sinclair," ujar Sekretaris itu. Dia lalu menghubungi bosnya lewat sambungan telephon.
__ADS_1
"Nona Bella, anda sudah ditunggu oleh Tuan Sinclair di ruangannya," ucap sekretaris itu mempersilahkan Bella untuk masuk setelah mendapat perintah dari Bosnya.
Bella lalu membuka ruang kerja itu. Baru saja masuk dia terpana oleh desain estetika yang tersaji di dalamnya. Seluruh ruangan memakai perabotan warna putih sedangkan ruangan sbi cat warna hitam. Ada beberapa lukisan kontemporer yang bergelantung di dinding ruangan menandakan pemiliknya adalah seorang pecinta seni.
"Kau menyukai ruangan ini Nona Bella?" tanya salah satu suara.
Bella terkejut, dia lalu tersadar akan maksud kedatangannya.
"Maaf, penataan ruangan ini sangat indah membuat saya terpana," ucap Bella jujur. Dia lalu tersenyum malu. Senyuman yang membuat mata seorang pria akan terpana.
"Katakan maksud kedatanganmu?" tanya David.
"Aku ingin mengajukan proposal kerja sama dengan perusahaanku," jawab Bella masih berdiri berhadapan dengan kliennya.
Tek ... Tek ... Tek ... ,
Jari lentik pria itu mengetuk meja kerja membuat jantung Bella ikut berdetak kencang tanpa sadar.
Bella tidak menyangka jika klien yang akan ditemuinya adalah seorang pria muda yang tampan. Dia menaksir umur pria itu berkisar 3O-an. Dia bukan pria asal negeri ini tapi sangat fasih berbahasa Indonesia.
Hidungnya tinggi dan besar, dengan mata tajam yang bisa membuat orang akan bertekuk lutut di hadapannya. Rambut cokelat, ikalnya dipotong pendek disisir ke belakang sehingga terlihat rapi dan segar. Dahinya sedikit lebar dan ada garis kerutan yang terlihat menegaskan bahwa dia adalah seorang pemikir yang kuat. Dua tulang rahangnya menonjol dengan dagu kotak yang menegaskan jika dia bukan pria yang suka diatur, dia suka mengatur dan tidak suka untuk dibantah.
Secara keseluruhan pria ini terlihat sangat menarik untuknya, sayang Cristian baginya adalah pria tertampan di dunia ini.
"Namaku David Guetta Sinclair, kau bisa memanggilku David," ucap pria itu berjalan ke arah Bella dan mengulurkan tangannya.
Bella tidak menyangka jika orang sebesar Tuan David mau mendekati dan berjalan ke arahnya untuk mengulurkan tangan. Dari langkah kakinya dan gestur tubuh, dia terlihat seperti pria yang santai dan humble.
__ADS_1