Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Kabar Duka


__ADS_3

Polisi segera datang dan memeriksa mayat Sofi. Setelah melakukan pemeriksaan mereka membawanya ke rumah sakit untuk dilakukan otopsi.


"Berapa orang yang ada dirumah ini?" kata Polisi mengintrogasi para pelayan. Mereka di jadikan satu di ruang tengah rumah itu.


"Ada lima orang Pak. Dua wanita yang bekerja sebagai pelayan rumah bernama Santi dan Retno, satu pelayan wanita namanya Wati yang bekerja untuk melayani khusus nona Sofi, satu pelayan lelaki sebagai tukang kebun rumah ini yaitu saya sendiri, Jaya dan satu Satpam bernama Jaka itu dia orangnya Pak. Polisi itu menganggukkan kepalanya.


"Adakah orang lain yang datang pada hari sebelum kejadian terjadi."


"Hanya Nyonya Naura mertua beliau," jawab pelayan itu lagi.


"Lalu anda?" tanya Pak Polisi itu pada Roni.


"Saya asisten pribadi yang mengurus pekerjaan Sofi. Saya sepupu terdekat Sofi sekaligus saudara terdekat Sofi." Roni memperkenalkan diri. Dari raut wajahnya dia terlihat sangat terpukul.


"Bagaimana kronologis kejadian?" tanya Polisi itu.


"Saya sedang ke atas untuk membersihkan kamar Nyonya tetapi ketika ke kamarnya saya melihat keadaan beliau sudah seperti ini, hu ... hu ... hu ... ," jawab Wati. "Saya lalu berteriak dan memanggil semua orang untuk mendekat."


"Lalu siapa saja yang datang?"


"Semua orang yang ada di ruangan ini lalu datang dan ikut melihat keadaan, Nyonya," ujar Wati sembari mengusap air matanya.


"Apakah dia masih punya keluarga yang lain?" tanya Polisi itu.


"Dia masih punya satu putri dan suami tapi mereka masih dalam proses perceraian," jawab Roni cepat.


"Kalau begitu kita telephon suaminya," kata Polisi itu.


"Sersan coba telephon keluarga terdekatnya," kata Inspektur polisi.


"Adakah CCTV dalam rumah ini?" tanya Polisi itu.

__ADS_1


"Ada Pak, mari," kata Jaya menunjukkan ruang CCTV berada.


"Pak, saya telah mencek handphone miliknya dan menemukan status terakhir yang sempat dia kirim," kata sersan itu.


Mereka lalu melihat status Instagram milik Sofi.


Selamat tinggal semuanya, mungkin aku selama ini tidak menjadi yang kalian inginkan tapi aku berharap kalian mau memaafkan semua kesalahanku. Aku sangat mencintai kalian.


"Tadi malam status ini dikirimkan," kata Inspektur itu.


"Sepertinya dia memang berniat bunuh diri," kata polis lainnya.


"Tapi aku mencurigai sesuatu, kita lihat saja bagaimana hasil otopsi," kata Polisi itu.


Sedangkan di rumah David, Naura berniat akan pamit dari rumah ketika telephon berdering. David mendekat dan mengambil telephon itu.


"Hallo, benarkah ini kediaman Tuan David Sinclair?" tanya orang dari balik telephon.


"Saya Sersan Jamil dari kepolisian polsek Jakarta Selatan. Kami mengabarkan kabar Duka untuk anda, bahwa Istri Tuan yang bernama Sofiana Prilly telah meninggal dunia. Dia ditemukan tewas dengan luka sayatan di pergelangan tangannya. Saya harap anda bersedia hadir ke Polsek untuk membuat keterangan. Dan datang ke rumah ini untuk mengurus pemakaman beliau."


Telephon itu terjatuh begitu saja dari tangan David. Dia lalu duduk di kursi terdekat. Naura yang melihat ekspresi tidak wajar dari anaknya langsung mengambil handphone itu.


"Oh, iya ...iya Pak. Kami akan segera ke sana," suara terakhir yang Naura katakan sebelum menutup telephonnya.


Bella lalu segera mengambil air minum ketika melihat wajah pucat suaminya. Dia lalu memberikan minuman itu. Wajah ibu mertuanya juga tidak kalah pucat.


"Sebenarnya apa yang telah terjadi," batin Bella.


"Kau yang sabar," kata Naura menepuk bahu David.


David melihat ke arah Cantik. Dia berjalan mendekat, merengkuh, dan memeluknya erat.

__ADS_1


Naura sendiri memeluk bahu Bella dan mengusap salah satu bahunya dengan tangan yang lain.


"Ayah kenapa?" tanya Cantik.


David memejamkan matanya. Sulit untuk mengatakan hal ini pada anak sekecil itu. Bagaimana cara untuk mengatakannya? Dia takut anaknya sangat sedih karena kehilangan ibunya.


"Cantik, kita ke rumah Bunda?" kata David.


"Tapi Ayah tidak akan meninggalkan Cantik sendiri di sana kan?"


"Tidak?" jawab David. Cantik melihat ke arah Bella.


"Ibu?"


Deg!


David lupa pada sosok Bella. Jika dia ikut ini akan menimbulkan masalah baru.


"Biarkan Ibu di rumah saja!" kata David.


"Ehm ... Ibu tidak akan pergi jika kutinggal sendiri? Aku akan pulang kembali kok. Aku hanya ingin menjenguk Bunda. Dia juga pasti sangat merindukanku," kata Cantik.


Walau Sofi menimbulkan trauma mendalam pada Cantik tapi dia tetap ibu Cantik yang menyayanginya. Di saat semua baik-baik saja ada waktunya dua orang itu bermain bersama atau tertawa bersama. Cantik masih sangat menyayangi ibu kandungnya.


"Tidak Ibu akan disini menunggumu pulang," jawab Bella mengeluarkan senyum terpaksa. Tapi berbeda dengan hatinya. Dia takut masa lalu akan kembali lagi. Dia akan ditinggal sendiri dan David akan pergi menemui istrinya setiap hari.


"Pengasuh siapkan perlengkapan untuk Cantik. Dan pakaikan dia pakaian berwarna putih," teriak David.


Bella memandang mertuanya.


Naura terlihat menangis sesengukan. "Ada apa ini?"

__ADS_1


__ADS_2