
"Katakan alasannya?" tanya Bella marah. Kenapa semua kesalahan Sofi bisa dimaafkan sedangkan yang bukan kesalahannya David memarahinya dengan berlebihan.
David mendekat ke arah Bella tapi hendak menangkup wajahnya tapi ditepis oleh Bella.
"Jawab dulu pertanyaanku! Kau selalu memaafkan Sofi tapi tidak kesalahanku!" Mata Bella berubah menajam. Tulang pipinya yang tirus bergerak-gerak karena menahan kemarahannya.
Dia baru saja menjinakkan singa betina kini Singa itu kembali mengamuk. David menghela nafas melihat ke arah ibunya yang bersedekap melihat drama rumah tangga anaknya sembari memberi isyarat dengan mata agar David menjawab pertanyaan Bella.
"Karena aku takut kehilangan dirimu dan aku begitu yakin dengan kehadiran anak itu kau akan selalu berada di dekatku. Dan ketika tahu kau menghabisi," Mata Bella bertambah keluar dari tempatnya seperti mau copot," pada waktu itu, aku tahunya seperti itu." tanggapnya lirih.
"Aku begitu kecewa, aku bagai remaja yang patah hati karena kehilanganmu dan anakku di saat yang bersamaan. Aku kira kau melakukan itu karena membenciku seperti yang selalu kau katakan. Hal itu membuatku hilang akal dan memarahimu ... maaf ... .Jika masalah Sofi, aku tidak pernah takut kehilangannya dan tidak peduli apa yang dilakukannya jadi aku tidak pernah merasa kecewa padanya walau kenyataannya sebagai seorang suami aku merasa tidak dihargai."
"Dia melakukannya karena sangat mencintai mu Bella," imbuh Naura membuat Bella terkejut. Dia menghela nafas, mengisi paru-parunya dengan oksigen yang telah habis karena mendengarkan perkataan David hingga selesai.
Matanya yang menajam kini telah meredup. David lalu memeluknya erat.
"Walau kau tidak bisa melupakannya tetapi aku memintamu menutup rapat masalah ini. Jika kau masih ragu aku akan menjawab semua keraguanmu dengan tindakan bukan hanya kata-kata."
Naura tersenyum mendekati mereka berdua, berdiri di belakang David dan menyentuh lengannya.
"Kau itu adalah hal berharga yang dia miliki selain Cantik. Kau tahu mengapa David memberi nama Cantik karena Bella itu adalah arti namamu. Dengan memanggil Cantik dia berarti telah memanggil namamu," terang Naura.
"Aku ... ," ucap Bella ragu melihat ke arah Naura. David melepaskan pelukannya.
"Aku seharusnya minta maaf padamu Bella, maafkan aku karena tidak seharusnya menghujatmu sebelum aku mengenalmu," kata Naura berkaca-kaca. Bella memegang tangan Naura.
"Tidak seharusnya orang tua meminta maaf pada yang lebih muda."
Naura memegang pipi Bella dengan dua tangannya. "Kau bijak sekali, pantas saja jika David sangat tergila-gila padamu. Aku saja yang buta selama ini tidak melihat cinta kalian."
"Bolehkah aku memelukmu?" Bella memeluk Naura terlebih dahulu.
"Jadilah teman hidup yang baik bagi David. Cinta terkadang habis dilekang waktu atau masalah tapi kasih sayang yang tulus akan selalu bisa menumbuhkan cinta yang baru," ucap Naura. Bella menganggukkan kepalanya dia menangis bahagia kali ini. Apakah ini akan jadi awal yang baik bagi hubungannya dengan David selanjutnya.
Cantik datang dari luar dan berlari ke arah ruang kerja David. Dia lalu masuk dan menemukan semua orang ada di ruangan itu.
"Kalian curang tidak mengajakku ... ," ungkap Cantik.
__ADS_1
"Grandma, dia itu Ibuku, hanya aku yang boleh memeluknya." Cantik berlari dan memeluk kaki Bella. Bella lalu menggendongnya.
"Ibu aku takut sekali sewaktu melihatmu menangis tadi. Aku pikir Ibu akan pergi dari rumah ini?" Bella menggelengkan kepalanya.
"Meninggalkan anak semanis dirimu itu tidak akan kulakukan!"
"Janji Ibu," Cantik memberikan jari kelingkingnya dan Bella menautkan jarinya juga. "Aku sayang padamu," ungkap Cantik mencium dan memeluk mesra Bella.
Naura memeluk David dan bersandar padanya melihat kebersamaan Cantik dan Bella. Air matanya mengalir bahagia.
"Kau yang baru mengenalnya sudah mengalahkanku yang selalu bersamanya," kata Naura.
Akhirnya mereka makan siang bersama. Semua berbahagia melupakan masa lalu.
Naura suka cara Bella melayani semuanya dengan baik. Dia melakukannya dengan raut wajah yang bahagia tidak seperti sedang bersandiwara. Dia tampak sudah terbiasa melakukan hal ini. Tidak terlihat canggung samasekali jika ini hanya sebuah kepura-puraan semata.
Cantik makan sembari berbicara. Dia disuapi oleh Bella yang mengalah untuk makan nanti setelah selesai menyuapi Cantik.
Cantik bersendawa tanda dia sudah kenyang. Telah dua piring makanan yang dihabiskannya. Padahal Cantik adalah tipe anak yang susah untuk makan.
"Biarkan saja dia makan terlebih dahulu jika dia masih mau," kata Bella.
"Aku telah selesai. Kau makanlah makananmu," David menyingkirkan piring dihadapannya dan berdiri hendak mengambil piring Cantik.
"Ibu aku sudah kenyang. Ayah, kau tidak perlu menyuapiku. Kau selalu tergesa-gesa jika melakukannya. Menyuruhku cepat untuk mengunyah makanan itu."
Semua tertawa mendengarnya.
"Bella kau cobalah masakan Mommy," Naura mendekatkan semangkuk besar rendang sapi. "Ini makanan kesukaan David."
"Bella sudah tahu Mom, masakannya tidak kalah enak dengan masakanmu Mommy," terang David.
"Wah ... benarkah?" tanya Naura terkejut. "Bahkan Sofi tidak pernah ke dapur untuk memasakkan David sesuatu. Dia cemerlang dalam karirnya dan patut dibanggakan. Tapi, kurang bisa dalam merawat rumah. Sayangnya, hal itu yang David butuhkan," batin Naura.
"Dia hanya berbohong. Bagaimanapun masakan Ibu adalah masakan terbaik bagi anaknya, ehm ... ," Bella bingung memanggil Naura dengan sebutan apa.
Naura seperti tahu apa pikiran Bella. "Panggil saja aku Mommy, sama seperti David."
__ADS_1
"Mom ... ," ucap Bella sembari tersenyum. David lalu mencium pucuk kepala Bella. Dia merasa lega karena semua masalah akan selesai dengan baik.
***
Di tempat lain.
"Nyonya! Nyonya ! Akh ... tolong ... tolong ... ," teriak salah satu pelayan.
"Semua orang yang mendengar teriakan pelayan itu langsung datang ke asal sumber suara.
"Apa yang terjadi?" tanya seseeorang melihat wajah pelayan itu pucat pasi dan tubuhnya bergetar ketakutan. Air mata mengalir di pipinya.
"Nyo-nya ... ," pelayan itu menunjuk ke arah kamar mandi dengan tangan bergetar.
Semua orang berlari ke arah kamar mandi.
"Sofi ... ," teriak Roni, Asisten pribadinya sekaligus saudara sepupunya. Dia hendak mendekat dan memeriksa keadaannya.
Tubuh Sofi terendam dalam bak mandi yang penuh dengan air yang bercampur darah. Tangannya berada di luar bak mandi dan terdapat luka sayatan di bagian pergelangannya. Terlihat darah di tangan serta lantai bawah tangan itu berada.
Mata Sofi masih terbuka lebar
"Sepertinya dia sudah meninggal," cegah Kardi, tukang kebun. "Biar Polisi saja yang mendekat untuk memeriksanya."
Roni menangis meraung. Dia duduk berjongkok dan menarik rambutnya.
"Mengapa kau lakukan ini Sofi!" seru Roni menangis keras.
"Yang sabar, Tuan Roni," ucap para pelayan. Bagaimanapun saat ini Roni adalah orang terdekat bagi Sofi.
"Cepat panggil polisi," kata tukang kebun itu pada pelayan lainnya sementara dia mengambil kain untuk menutup wajah majikannya.
***
Ingat besok Senin... bantu aku dengan memberikan vote kalian.
Penasaran kan ma cerita selanjutnya? Ini baru permulaan konflik jangan dikira akan bahagia begitu aja si Bella dan David. Authornya kejam
__ADS_1