
Mengetahui jika pekerjaannya tidak berhasil dan sudah ketahuan pria itu lantas hendak pergi keluar dari ruangan itu dengan cepat namun di depan pintu Alehandro berdiri menghadang.
"Siapa kamu?" tanya Alehandro. Pria itu hendak mendorong Alehandro namun langsung ditangkisnya. Alehandro langsung melakukan serangan balik. Mereka lantas berkelahi, pria itu hendak pergi namun dihadang oleh anak buah Alehandro.
Di saat yang sama Dara membawa sekuriti ke lokasi kejadian. Wanita itu langsung ambil tindakan dengan memanggil mereka setelah tahu ada keributan di ruangan Kaisar.
Pria itu lantas di ringkus oleh pihak keamanan. Alehandro yang kesal menendang keras perut pria itu dan hendak menghajarnya lagi. Namun, Dara memeluk tubuh besar Alehandro dari belakang.
"Sudah, sudah biar pihak berwajib saja yang menanganinya," ucap Dara menenangkan suaminya.
Mom Lusi lalu datang mendekat setelah berada di kursi rodanya lagi. Tubuhnya yang telah lemah seperti remuk akibat terjatuh tadi. Dia mengaduh kesakitan.
"Mom, kau kenapa?" tanya Alehandro cemas.
"Tadi Nyonya berjalan mendekat ke arah Dokter gadungan itu tetapi didorong dengan keras hingga terjatuh ke lantai."
"Breng ... sek, An ... , biadap, sepantasnya kau mati saja karena mau membunuh anak dan melukai ibuku," umpat Alejandro tidak terima.
"Tenang... tenang, Tuan ... ," kata semua orang sembari mencegah Alehandro melakukan tindakan lebih.
Dara hanya menyandarkan kepalanya sembari mempererat pelukannya pada pria itu. "Sudah ... sudah aku takut," ucap lirih Dara menghentikan pergerakan Alehandro.
Alehandro lalu mengepalkan tangannya, melihat ke arah Mom Lusi yang meringis kesakitan. Sedangkan beberapa petugas ahli medis sudah datang untuk memeriksa keadaan pasien.
Mom Lusi segera di bawa ke ruangan tindakan untuk melihat apa yang terjadi padanya. Alehandro dan Dara masuk ke dalam ruangan Kaisar.
Dokter mendekat ke arah Alehandro dan memperlihatkan suntikan di tangannya. Cairannya masih penuh menandakan jika suntikan itu belum di gunakan.
"Itu apa Dokter?" tanya Alehandro.
"Entahlah kami belum mengujinya tetapi sepertinya ini obat penenang dalam dosis tinggi yang memungkinkan pasien akan mengalami kematian jika disuntikkan ke tubuhnya. Ini biasa digunakan di negara yang memperbolehkan melakukan suntik mati," jelas dokter itu.
Semua orang yang ada ditempat itu menutup mulutnya.
"Tetapi kita akan menelitinya di ruang laboratorium," lanjut dokter itu lagi.
Alehandro yang berdiri di samping Kaisar lantas menciumnya dan mengusap sayang. Untung saja anaknya selamat jika tidak, dia tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian.
"Lalu bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Alehandro pada para penjaga di ruangan ini.
"Dia memakai pakaian Dokter kami kira dia Dokter yang akan merawat Kaisar. Untung saja Nyonya Besar segera mendekati dan menanyakannya. Dia lalu mendorong Nyonya ketika Nyonya menelfon Dokter Faisal perihal suntikan ini. Mungkin dia panik jika aksinya akan diketahui oleh orang lain."
__ADS_1
"Mom... ," gumam Alehandro. Dia beruntung mempunyai ibu yang cekatan dan teliti. Namun, dia khawatir dengan kondisi ibunya. Wanita itu sudah kesulitan untuk berjalan sekarang ditambah dengan cedera yang dialaminya. Entah apa yang akan terjadi nanti. Dia hanya bisa berdoa, semoga keadaan Ibunya baik-baik saja. Tidak memperburuk kondisinya.
***
Sedangkan dalam waktu dan ruang yang lain. Kaisar sedang bersama Maria di sebuah kebun bunga yang indah.
"Kau seperti Ibuku yang selalu datang dalam mimpi," kata Kaisar melihat ibunya.
"Aku memang ibumu Sayang. Lihatlah kau sudah besar, tampan seperti Ayahmu," jawab Maria bersimpuh di depan Kaisar.
Kaisar menatapnya lekat
"Ibu ... ?'' Maria menganggukkan kepalanya
"Ibu, aku sangat merindukanmu," kata Kaisar memeluk Maria. Mereka lalu saling melepas keriduan. Setelahnya, wanita itu lantas membawa Kaisar ke sebuah tempat duduk dan memangku tubuh kecil itu, mengusap rambutnya pelan.
"Ibu juga sangat merindukanmu."
"Kalau Ibu rindu mengapa Ibu meninggalkan aku?" tanya Kaisar.
"Karena Tuhan ingin Ibu di sini menemaniNya," jawab Maria.
"Bukan karena Ibu tidak menyayangiku?" tanya Kaisar. "Teman-temanku mengatakan jika aku penyebab Ibu meninggal."
"Tetapi aku ingin bersama Ibu," kata Kaisar memeluk pinggang Maria.
"Bukankah kau juga punya Ibu baru yang mencintaimu, Ibu yakin dia juga akan menjadi Ibu yang baik untukmu yang akan menemanimu setiap hari," kata Maria.
"Tetapi aku ingin tetap bersama Ibu," tolak Kaisar.
"Belum waktunya Sayang, Ayahmu sangat mencintaimu, dia masih ingin bersamamu dan membutuhkan kau tetap ada di sampingnya. Bukankah kau juga sangat menyayanginya?"
"Ayah, Ayah sangat sayang padaku,"
"Kalau begitu kita kembali pada Ayahmu," ajak Maria pada Kaisar.
"Tetapi bagaimana dengan Ibu? Apakah ibu akan pergi lagi?" Maria menganggukkan kepalanya.
"Di sini tempat Ibu tinggal."
"Bisakah aku menemui Ibu lagi?" tanya Kaisar.
__ADS_1
"Kau bisa menemui Ibu di dalam mimpimu. Dan perlu kau ketahui jika Ibu akan selalu ada di sisimu dan menjagamu setiap saat."
"Namun, aku masih ingin bersama Ibu," rajuk Kaisar.
"Ibu juga ingin kau bersamaku, namun ini belum waktunya. Hidupmu masih panjang dan kau harus berjuang untuk kebahagiaanmu. Pulanglah, jadi anak baik untuk Ayahmu dan Ibu Dara karena mereka sangat menyayangi," bujuk Maria sembari mencium dahi Kaisar. Kaisar lalu memeluk Maria dan menangis.
"Aku menyayangi mereka tetapi aku juga sangat sayang pada Ibu," kata Kaisar.
"Kalau begitu Ibu antar kau kembali pada Ayahmu karena kita tidak boleh membuang waktu," kata Maria.
***
Kelopak mata Kaisar mulai bergerak-gerak. Dia mulai membuka matanya pelan.
"Ale, lihat," pekik Dara membuat semua orang yang ada di ruangan itu melihat ke arah Kaisar.
"Ya Tuhan, syukurlah," kata Alehandro menitikkan air mata. Dia lalu memeluk anaknya erat. Kegelisahan dan ketakutannya akhirnya hilang sudah. Anaknya sudah sadar dari tidur panjangnya.
"Ayah, Ibu," kata Kaisar lemah, nyaris tidak terdengar, yang melihat dua orang tuanya ada di hadapannya.
"Ya Sayang kami di sini," jawab dua orang itu terharu.
"Di mana ibuku?" tanya Kaisar. Membuat Semua saling menatap.
"Ibu, Ibu Maria, dia tadi membawaku kemari," tanya Kaisar lagi.
Mata Alehandro mulai berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak ketika Kaisar menyebut nama ibu kandungnya. Maria ternyata membawa anaknya pulang kemari.
"Ibumu sudah tidak ada Nak, dia sudah pergi," jawab Alehandro pelan.
Kaisar lalu terdiam menatap semua orang setitik air mata turun dari pelupuk.
"Ibu..., Ibu tadi di sini, dia mengajakku pergi ke tempatnya tetapi setelah itu dia menyuruhku pulang dan membawaku kemari," gumam Kaisar terisak.
Dara memegang tangan Alehandro dan menangis di lengannya.
"Mungkin dia ingin kau masih tetap bersama Ayah di sini dan menemani Ayah," pria itu mencondongkan tubuhnya dan memeluk tubuh Kaisar yang masih terbaring lemah. Buliran Kristal itu jatuh ke wajah anaknya.
"Jangan lagi tinggalkan Ayah, karena Ayah sangat takut kau pergi seperti Ibumu," ucap Alehandro sembari memegang kepala Kaisar dan membawa dalam dadanya. "Ayah sangat menyayangimu."
Sedangkan dalam ruang lain Maria melihat kebersamaan ayah dan anak itu sembari menitikkan air mata.
__ADS_1
"Semoga kalian bisa hidup bahagia selamanya."