Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Juru Penengah


__ADS_3

Esok harinya Kris dan Sheila pergi ke rumah Alehandro untuk mencari Dara. Savitri memilih berada di rumah Sheila untuk mengurus rumah, dia sudah lelah dengan pertengkaran keduanya semenjak kemarin.


Mobil Kris sudah ada di pintu gerbang istana milik Alehandro. Seorang petugas keamanan keluar untuk melihat siapa yang datang.


"Saya ingin bertemu dengan Bapak," kata Kris.


"Oh, Pak Kris silahkan masuk," balas penjaga itu lalu mulai membuka pintu gerbang. Sheila lalu memasukkan mobil itu ke dalam rumah dan berhenti di belakang sebuah mobil sedan.


Alehandro sedang berdiri berdampingan dengan Mom Lusi dan anaknya yang masih dalam gendongan.


"Kris!" gumam Alehandro dan Mom Lusi bersamaan. Mereka lalu saling memandang.


Sheila lalu keluar dari mobil dan menolong Kris keluar dari mobil.


"Kris kau kenapa?" tanya Mom Lusi melihat kaki Kris yang masih digips dan berjalan memakai kayu penyangga.


"Aku mengalami kecelakaan, Nyonya," jawab Kris.


"Ya, Tuhan. Aku tidak tahu, kapan itu?"


"Kira-kira tiga bulan yang lalu." Kris lalu berjalan mendekati Mom Lusi dan Sheila mengiringinya di belakang.


Dara yang hendak keluar dengan membawa sebotol susu untuk Kaisar langsung bersembunyi dibalik pagar agar Kris tidak melihatnya.


"Pak saya ingin bertanya tentang suatu hal," kata Kris pada Alehandro. Mereka memang bukan Bos dan bawahan lagi tapi Kris tetap menghormati Alehandro dan Mom Lusi.


"Sebaiknya kita masuk ke dalam agar lebih enak mengobrol," ajak Alehandro.


Kris menganggukkan kepalanya. Alehandro lalu mendahului Kris berjalan masuk ke ruang tamu.

__ADS_1


Alehandro lalu mempersilahkan Kris dan Sheila untuk duduk di sofa besar berwarna putih yang membentuk lingkaran besar.


Alehandro duduk berhadapan dengan mereka. Mom Lusi memilih untuk pergi ke dapur. Dia lalu melihat Dara bersembunyi di balik tembok dan menepuk bahunya. Setelah itu, dia menyuruh seorang asisten rumah tangga untuk membawakan tamunya minuman dan cemilan.


Alehandro meletakkan kedua tangannya di atas sandaran sofa. Dengan satu kaki dinaikkan ke atas kaki yang lain.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Alehandro to the point.


"Aku ingin bertanya apakah Anda tahu keberadaan Dara, Pak?" tanya Kris tanpa mau memandang wajah Alehandro. Dirinya merasa bersalah karena telah membiarkan Dara pergi begitu saja setelah bosnya datang membawa wanita itu ke rumah.


Alehandro menarik nafas panjang. Belum dia menjawab, seorang pelayan masuk membawa tiga cangkir teh dan camilan.


"Silahkan di minum," kata Alehandro.


Namun, Kris dan Sheila hanya menganggukkan kepalanya.


"Ada kesalahpahaman antara kami?" jawab Kris.


"Kesalahpahaman yang bagaimana?" tanya Alehandro.


"Dia tersinggung oleh perkataanku," kata Sheila pelan. "Aku tidak bermaksud demikian hanya saja aku tidak tahu jika dia adalah anak yatim-piatu."


Alehandro menarik nafasnya dalam. Dara tidak bercerita apa-apa namun dia bisa menebak jika ada masalah yang terjadi kemarin. Sheila juga terlihat sebagai wanita yang bijak tidak berbuat kasar pada Dara yang notabene adalah mantan kekasih Kris yang sedang mengandung anak suaminya.


"Lalu apa mau kalian dengan mencari Dara kembali?" tanya Alehandro. Alehandro menyatukan kedua tangannya dan mencondongkan tubuh ke depan.


"Kami hanya ingin agar dia kembali pada kami," kata Kris.


"Sebagai?" Alehandro menaikkan dua alis menatap ke dua orang yang duduk di hadapannya.

__ADS_1


Sheila dan Kris saling memandang. Mereka tidak tahu harus menjawab apa kali ini.


"Kalian tidak bisa menjawabnya?" tanya Alehandro tersenyum sinis.


"Kris selama ini aku mengenalmu dengan baik. Kau selalu bersikap bertanggungjawab pada semua pekerjaanmu. Kali ini jadilah pria sejati yang akan melindungi anak dan ibunya," pesan Alehandro.


"Itulah yang akan aku lakukan, aku akan bertanggung jawab dengan kesalahan yang kuperbuat," ucap Kris tegas dan yakin.


"Bagus kalau begitu kalau begitu nikahilah Dara secepatnya agar anakmu punya nama ayah," ujar Alehandro.


Sheila menatap Kris dengan mata yang berkabut. Mana ada istri yang rela suaminya menikah lagi dan dia tidak mau berbagi.


"Aku ingin melakukannya hanya saja ... ." Kris melihat ke arah Sheila.


"Jika kau menikah lagi maka ceraikan aku terlebih dahulu!" pinta Sheila.


"Katakanlah aku egois tapi aku juga tidak ingin kehilangan dirimu," kata Kris. Dia bisa kena marah kakeknya jika menceraikan Sheila dan dia perhatian serta kesabaran Sheila membuat hatinya sedikit demi sedikit luluh.


Alehandro menggelengkan kepalanya. Dia mengerti posisi ketiganya yang sama-sama tidak menguntungkan.


"Okey, aku tidak tahu pemecahan dari permasalahan ini tetapi alangkah baiknya jika Dara sendiri yang menyatakan apa keinginannya."


Mata Kris membelalak mendengar kata-kata Alehandro.


"Jadi Bapak tahu dimana Dara berada?" tanya Kris.


"Dia di rumahku, aku menemukannya sedang menangis di pinggir jalan," kata Alehandro berbohong untuk menumbuhkan rasa simpatik kedua orang itu.


Mendengar penuturan Alehandro sepasang suami istri itu lalu menunduk menyesal.

__ADS_1


__ADS_2