
"Aku hanya mengenalmu sebagai ibuku," isak Cinta.
"Tapi kenyataannya kau itu bukan darah dagingku. Jika kau menganggapku sebagai ibumu, kau akan selalu menurut padaku seperti yang selalu Bella lakukan. Kau adalah duplikat Sri, seorang pembantu yang mengkhianati dan menggoda suami majikannya."
"Riska! Jaga kata-katamu!" teriak Setiawan dari arah pintu mengagetkan semua orang yang ada di sana.
Wajah Riska menjadi pias seketika. Dia menelan ludahnya dalam-dalam. Matanya nanar ketika bertemu pandang dengan tatapan tajam Setiawan.
"Kau dulu sudah berjanji padaku untuk tidak mengungkit masalah itu lagi! Namun kau mengingkarinya!" geram Setiawan berjalan ke arah Riska dan berhenti tepat di hadapan.
Riska menarik salah sudut bibirnya ke samping. Dia mendekati Setiawan dan menunjuk dada pria itu dengan jarinya.
"Bukankah aku juga pernah mengatakan jika anak ini berusaha menyakiti Bella maka dia harus keluar dari rumah ini, dan kau setuju dengan syaratku itu."
"Bukankah Cinta selalu berbuat baik pada Bella, dia tidak pernah mengecewakanku. Dia bahkan selalu mendahulukan kepentingan Bella dibanding dengan keinginannya sendiri," argument Setiawan.
Riska tersenyum sinis sembari menggelengkan kepalanya.
"Dia terlihat baik dan polos. Sama seperti ibunya yang polos. Namun dia juga sama seperti ibunya. Sama-sama ular berbisa," ujar Riska.
Plak!
Wajah Riska memerah karena tamparan keras Setiawan.
"Maaf aku tidak bermaksud... ."
"Itulah dirimu, aku selalu tidak berharga di matamu. Aku yang telah menemanimu selama puluhan tahun dan menerima segala pengkhianatanmu juga menerima anak harammu masih saja terlihat rendah di matamu, kau tidak tahu betapa sakitnya aku jika melihat wajah Sri ada dalam wajah polos Cinta. Tapi aku selalu memendam rasa itu, berusaha untuk tetap berbuat baik padanya. Namun apa yang dia perbuat pada Bella sama seperti apa yang ibunya lakukan padaku. Aku tidak bisa menanggung luka ini lagi. Sebaiknya aku pergi dari sini dan menikmati hidupku yang tenang. Aku tidak bisa hidup satu atap dengan anak yang tidak tahu balas budi sepertinya," teriak Riska mengeluarkan uneg-uneg hatinya selama ini.
Cinta terhenyak mendengar perkataan Riska. Nafasnya terhenti seketika. Dia memundurkan langkahnya namun tubuhnya menabrak tubuh Bella.
Cinta berbalik dan terkejut melihat Bella ada di hadapannya.
"Kakak!" ucap Cinta tanpa suara.
__ADS_1
Bella mengangkat dua tangannya dan menjauhi Cinta.
"Jangan dekati aku!" ucap Bella, dia merasa kecewa pada Cinta setelah mendengar perkataan ibunya.
Sekali lagi Cinta tersentak, terkejut dengan reaksi Bella. Selama ini kakaknya selalu bersikap lemah lembut padanya tapi kali ini kakaknya ... . hati hancur dibuatnya.
Tubuhnya membeku, hanya air mata saja yang keluar dari pelupuk matanya. Memandang Bella dengan tatapan sayu. Bella pun sama, dia merasa sangat kecewa, hatinya sakit. Adik yang selalu dia sayangi malah menikamnya dari belakang. Rupanya kecurigaan itu bukanlah isapan jempol semata namun sebuah kebenaran.
Bella mendekati ibunya dan memeluk bahunya dari belakang.
"Kini terserah padamu, kau ingin hidup bersama Cinta atau kau ingin hidup bersama kami. Tapi aku sudah ragu kau memilih kami, karena dari dulu kau pun meninggalkan kami, demi dia dan ibunya."
Kaki Setiawan melemas seketika. Dia duduk di kursi sofa sembari memegang dadanya yang terasa sakit.
"Benarkah kau punya hubungan spesial dengan Cristian?'' tanya Setiawan.
"Ayah dulu kami memang pernah punya hubungan, tapi itu sudah berakhir." bohong Cinta.
"Kau tidak berbohong Cinta?" tanya Setiawan. Cinta menggelengkan kepalanya cepat. Hanya tangis air matanya saja yang keluar mengungkapkan kepedihan hatinya.
Cinta menganggukkan kepalanya. "Beri aku waktu satu hari untuk membuktikan diriku bahwa aku tidak punya hubungan apapun dengan Cristian." Cinta memejamkan matanya erat. "Aku mohon beri aku kesempatan satu kali lagi untuk membuktikan ucapanku," ucap Cjnta bersimpuh di hadapan semua orang.
Riska memalingkan wajahnya, dia sudah tidak mempercayai kata-kata Cinta lagi.
"Aku memberimu satu kesempatan lagi untuk menjadi adikku, tapi jika kau terbukti sudah mengkhianatiku jangan panggil aku sebagai kakakmu lagi!" ucap Bella tersengal-sengal karena tangis. Hatinya juga sakit mengetahui kenyataan ini.
"Bu, beri kesempatan pada Cinta untuk membuktikan dirinya," pinta Setiawan pada Riska.
"Aku mohon!" Setiawan menangkupkan kedua tangan di depan dadanya.
"Jika dia tidak bisa membuktikan ucapannya maka terpaksa dia diusir dari rumah ini. Itu keputusanku,"
Riska terkejut dengan keputusan Setiawan yang akan mengusir Cinta jika perkataan anak itu tidak terbukti.
__ADS_1
Dia menatap pada manik mata Setiawan mencari sebuah kebohongan di sana. Namun hanya ada pengharapan yang terlihat.
Dia memandang sampingnya di mana kepala Bella bersandar pada bahunya. Bella menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, satu kesempatan saja. Jika kali ini Cinta tidak bisa membuktikan dirinya sudah tidak ada hubungan dengan Cristian maka seperti katamu, dia akan di usir dari rumah ini dan di coret dari daftar nama keluarga kita," ucap Riska.
Ada sebuah kelegaan di hati Cinta namun sebuah beban berat di punggungnya mulai terasa. Kepalanya sudah terasa pening namun dia tetap bertahan agar tidak pingsan di depan mereka.
"Terima kasih Ibu karena telah memberi satu kesempatan padaku." Cinta menundukkan kepalanya dengan tubuh yang masih tetap bersimpuh.
"Jangan berterima kasih padaku, tapi berterima kasihlah pada Bella karena dia masih sayang padamu. Sedangkan aku sudah membencimu mulai saat ini, aku sendiri sudah enggan kau memanggilku dengan sebutan ibu." Riska masih enggan memandang ke arah Cinta.
"Maafkan aku kakak dan terima kasih karena kau masih memberiku kesempatan," ucap Cinta dengan nada yang bergetar.
"Aku belum memaafkanku, aku hanya ingin tahu semua kebenarannya. Aku hanya kecewa kau telah membohongiku selama ini. Jika kau menceritakannya dari awal mungkin aku masih bisa memakluminya dan menyerahkan Cristian jika kalian memang saling mencintai. Tapi kalian sepertinya kompak untuk membohongiku, akh ... buktikan saja perkataanmu itu benar atau tidak. Aku sudah tidak bisa berkata apa apa lagi kali ini. Aku kecewa padamu Cinta," ungkap Bella.
Cinta terdiam, hanya suara isak tangisnya saja yang terdengar. Dia mengusap buliran air mata yang tidak berhenti sedari tadi.
Setiawan sebenarnya ingin memeluk tubuh Cinta. Dia merasa tidak tega melihat keadaannya, tapi dia juga merasa tidak adil pada Bella jika dia memberi perhatian pada Cinta. Seolah dia memberi pembenaran untuk masalah ini. Dia hanya berusaha untuk bersikap bijak. Tidak berat sebelah.
"Ayah akan kembali ke kamar." Setiawan hendak berdiri namun kakinya terasa lemas. Dia terjatuh namun tubuhnya segera ditopang oleh Riska dan Bella.
Cinta hanya bisa mengulurkan tangannya tetapi ditarik kembali. Dia melihat tiga orang itu berjalan melewati dirinya. Cinta hanya bisa terdiam melihat itu semua.
"Ayah," gumamnya lirih tidak terdengar.
Kepala Cinta mulai terasa pusing kembali. Dia lalu pingsan. Tapi sebuah tangan merengkuh dan mengangkat tubuhnya.
***
Besok hari senin kasih dukungan penuh buat novel ini dong. Please... dengan memberikan vote kalian untuk novel ini agar karya ini naik dan dapat promosi oleh pihak NT
Anggi, Biyan, Verlyn terima kasih atas dukungan besar kalian hingga saat ini.
__ADS_1
Nurak, Triyaz, Tinifang, Agus, terima ksih atas komentar setia kalian. I love you 😘😘😘 jangan lupa vote lho besok buat karya ini.
Buat yang lain aku sebut di lain kesempatan yah. I love you para readers setia