
Dara masih shock melihat uang sebanyak itu dia hampir tidak sadarkan diri. Maria yang panik langsung membawa dia ke tempat tidur dan memberinya minum.
"Maria itu uang banyak sekali, kau lebih membutuhkannya daripada aku. Aku sudah terbiasa hidup sulit kau tidak perlu mengkhawatirkan keadaanku."
"Aku tahu itu, tapi aku punya suami yang bisa mencetak uang lebih banyak kau tidak perlu khawatir tentang diriku," ujar Maria tersenyum. Dara langsung bangkit. Dia baru ingat jika Alejandro adalah pria kaya raya, baginya uang dalam tas itu hanya uang jajan untuk Maria.
"Kau benar! Kalau begitu kita ke Jakarta sekarang untuk mengantarkan mu padanya setelah itu, aku akan membangun sebuah cafe kecil dengan uang itu."
Krish memutar bola matanya malas. Wanita itu terlihat lebay, dia sama sekali tidak suka dengan tingkahnya. Krish lalu mendapatkan sebuah pesan, jika dia telah mendapatkan 3 tiket pesawat kelas bisnis kembali ke Jakarta.
"Nyonya, kita sudah mendapatkan tiket kembali ke Jakarta tetapi waktu pemberangkatan satu jam lagi sebaiknya kita pergi sekarang juga!"
"Kita belum makan pagi!" ujar Maria.
"Kita beli saja di pinggir jalan setelah itu kita makan di mobil," ujar Dara.
"Kita akan mendapatkan makan di pesawat," kata Kris. Maria memukul jidatnya sendiri.
"Aku lupa akan mendapat makan di sana, ya sudah kita berangkat sekarang!" ujar Maria.
"Krish, tolong bawakan tas ini," kata Dara memerintah pada Krish. Krish menerima perintah itu.
Dara sendiri bingung untuk membawa tas berisi uangnya. Dia lalu menyantelkannya di depan leher. Tangan satunya menarik koper besar miliknya. Dia membawa semua barangnya tanpa kecuali termasuk sebuah televisi 14 inch slim, dia masukkan di tengah-tengah koper besarnya.
Dara terlihat kesusahan membawa kopernya itu. Sedangkan Kris tidak memperdulikan nya.
Maria menghela nafas.
"Tas ku biar aku yang bawa kau bantu saja Dara, tasnya terlihat lebih besar dan berat," pinta Maria.
"Aku biasa membawa ini sendiri kok Maria," ucap Dara tersenyum tapi mukanya terlihat berubah meringis lebar ketika mengangkat koper untuk melewati tangga itu. Dia terlihat keberatan.
"Kau itu lelaki tidak berperasaan tidak mau menolong wanita yang kesulitan!" marah Maria pada Kris yang memilih diam dan melihat kesulitan Dara daripada menolongnya.
"Tunggu biar aku turunkan koper Nyonya terlebih dahulu, setelah itu kopermu," kata Kris dengan wajah ditekuk.
"Tidak usah repot-repot aku bisa sendiri."
"Letakkan atau aku akan meninggalkanmu di sini!" ancam Kris. Wajah Dara langsung memucat dia menjatuhkan koper itu seketika sehingga mengenai kakinya.
__ADS_1
"Aww!" teriak Dara. Maria yang berada di sebelah Dara langsung menolong sahabatnya itu.
"Kau tidak perlu menyentak nya seperti itu. Kau dan bosmu itu sama-sama tidak berperasaan pada wanita!" teriak Maria kesal.
"Maaf, aku tidak bermaksud menakuti nya tadi!"
ujar Krish.
Dengan raut wajah kesal Kris menurunkan koper itu dari lantai dua dan membawanya ke bagasi mobil yang terletak dua ratus meter dari tempat kost itu.
Sedangkan para wanita itu sibuk tertawa di kursi belakang. Krish yang melihatnya hanya bisa mendesah nafas kasar. Andai saja Maria bukan istri Tuannya dia pasti akan mengusir kedua wanita itu jauh-jauh dari kehidupannya.
Sebenarnya apa yang Tuannya lihat dari Maria, dia hanya gadis biasa yang cantik tidak lebih, yang jauh lebih cantik banyak dan yang jauh lebih menarik itu tumpah ruah mengelilingi Tuan Alehandro tapi Tuan hanya terlihat menyukai wanita ini. Wanita lain lewat saja atau hanya sebagai camilan ringan baginya.
***
Setelah melewati perjalan yang melelahkan dan merepotkan akhirnya mereka telah sampai di depan rumah Tuan Alehandro lebih tempatnya kediaman Nyonya Besar Lusi. Maria lebih memilih pulang ke rumah itu daripada pulang ke rumah Alehandro dan dia juga melarang Kris untuk memberitahu hal ini pada Alehandro dia ingin memberinya sebuah kejutan.
Mobil berhenti dulu di depan rumah Lusi.
"Dara kau akan ikut aku ke dalam kan?" tanya Maria.
jawab Dara.
"Kau benar! Aku juga belum kenal baik dengannya walau aku tahu jika dia itu adalah wanita yang sangat baik."
"Lalu enakan bagaimana?" tanya Maria.
"Kau lupa jika aku punya uang banyak di dalam tas!" kata Dara.
"Ya, tapi sangat berbahaya bagimu membawa uang itu sendirian."
"Jadi sebaiknya bagaimana?" tanya Dara menatap tas yang dari tadi di peluknya selama perjalanan mereka."
Maria menyipitkan mata tajam pada Kris. Kris mencium gelagat tidak baik dari tatapan Maria. Dia pura-pura tidak mendengar perkataan dua sahabat itu. Satu hari bersama mereka membuat kepalanya pening dan tubuhnya sakit semua. Dia tidak bisa membayangkan jika dia akan diberi tugas yang lebih menyiksanya.
"Kris tolong antarkan Dara mencari tempat tinggal sementara dan masukkan uangnya ke dalam rekening bank agar aman. Aku takut dia mati terbunuh karena dijambret penjahat di jalan hanya karena membawa uang itu sendirian."
Nah, apa yang dia pikirkan ternyata benar adanya. Nyonya itu pasti menitipkan wanita itu kepadanya. Ya Tuhan, dia tidak pernah direpotkan oleh seorang wanita kini dia diberi tugas harus menjaga wanita yang tidak satu kelas dan satu level dengannya.
__ADS_1
"Baik, Nyonya!" ucap Kris tersenyum padahal dalam hatinya ingin pergi sejauh mungkin dari dua makhluk yang bernama wanita.
"Bagus, aku percayakan dia padamu. Dia itu bagai saudara kembarku jadi jangan buat dia kesulitan sedikit pun."
"Baik Nyonya, saya akan menjaganya sepenuh jiwaku!" jawab Kris malas.
"Bagus, sebaiknya sekarang kita masuk ke dalam," kata Maria.
Mobil lalu membunyikan klakson. Terlihat seorang pria berpakaian seragam keluar dari pintu gerbang dan menanyai Kris. Setelah itu pintu gerbang dibuka lebar. Mobil mulai masuk ke dalam rumah.
Hati Maria berdegub kencang. Ini kedua kalinya dia masuk ke dalam rumah ini. Maria mulai membuka pintu mobil. Dia lalu keluar dari mobil dan menjejakkan kaki ke tanah.
"Ya Tuhan Maria akhirnya aku bisa melihatmu lagi!" pekik Lusi dari pintu utama rumah. Dia langsung berlari menyambut kedatangan Maria dan memeluknya. Dia seperti telah menemukan kembali putrinya yang telah lama hilang. Derai air mata mulai membasahi pipi Lusi
"Maria, anakku. Kau tahu Mommy sangat merindukanmu, kau tega sekali meninggalkan Mommy sendiri!" ucap Lusi.
Dia lalu merenggangkan pelukannya itu dan memukul pelan pipi Maria sambil terengah-engah karena isak tangisnya.
"Kau itu nakal, apa kau tidak mau menganggap ku seperti ibumu sendiri? Kau pergi tanpa pamit tanpa memberi kabar padaku, lalu apa artinya aku bagimu?" seru Lusi meluapkan keluh kesahnya.
Maria menyeka air matanya.
"Mom, maaf aku memang putri yang tidak berbakti aku mengabaikan anugerah Tuhan yang memberikan ibu mertua sebaik dirimu. Aku menyesal dan aku berjanji tidak akan melakukan itu lagi!" ucap Maria parau.
"Kau tidak boleh melakukan itu lagi, karena bagi Mom kau dan Ale sama-sama anak Mom kedudukan kalian sama, walau dia anak kandung Mom tapi kau adalah putriku, jadi perlakukan aku seperti ibu kandungmu sendiri!" pinta Lusi.
"Iya Mom," jawab Maria.
"Aku akan memberi pelajaran pada anak itu jika dia kembali, beraninya dia menyakitimu, Sayang," ucap Lusi.
***
Like
Votenya mana????
Komentar nya
.
__ADS_1